Takdir adalah kumpulan mozaik yang berserakan

Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantatis, dan sporadis, namun setiap elemennya adalam subsistem keteraturan dari sebuah desain holistic yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan.

Diinterpretasikan oleh Andrea Hirata dari pemikiran agung Harun Yahya

Berbicara tentang takdir, nasib, qadha dan qadar selalu menarik, menegangkan dan penuh tanda tanya. Berbagai persepsi yang dibuat tanpa dasar yang kuat kadang menyesatkan banyak orang dan sebagian besar menyalahkan Tuhan bahkan menyerahkan hidup pada keputus asaan.

Well, berikut kita akan bahas tentang hal tersebut dalam bentuk tanya jawab berdasarkan Al Qur’an dan Hadist. Pembahasan ini pun sebagian besar berdasarkan buku “Mengubah Takdir” karangan Agus Mustofa dan buku “Misteri Sholat Tahhajjud” karangan Muhammad Muhyidin. Bukan mau jual buku ya…hehehe, just for library’s note…

1. Apakah takdir dan nasib itu?
Secara awam, kasus yang sering digunakan dalam memahami konsep takdir dan nasib adalah rezeki, jodoh dan kematian. Mereka menganggap takdir dan nasib adalah sama, mereka percaya sepenuhnya bahwa nasib telah ditentukan oleh Allah sejak mereka belum lahir. Konsep nasib adalah tentang keberuntungan atau ketidak beruntungan mereka dalam rezeki, jodoh dan kematian. Konsep nasib cenderung memberikan motivasi negative, bersikap pasrah, statis , kontra produktif dan malas. Takdir sendiri adalah ketetapan Allah yang diatur dalam hukum sebab akibat. Konsep takdir memberikan motivasi positif, mengajarkan agar kita tegar, dinamis dan kreatif, produktif dalam menyikapi hidup. So, takdir bukanlah nasib!. Allah sangat menghargai hamba-hambaNya yang berusaha keras untuk mengejar kualitas hidup yang lebih tinggi. Dan “tidak suka” kepada orang-orang yang lalai, bermalas-malasan, apalagi berputus asa.

Q.S Al Israa’ (17): 66
“ Tuhanmu adalah yang melayarkan kapal-kapal di lautan untukmu, agar kamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyayang terhadapmu”

See also QS, Al Hijr (15): 56, QS. Al Jumu’ah (62): 10, QS. Ar Ra’d (13): 11

2. Apakah percaya tentang Qadha dan Qadar berarti telah beriman kepada Qadha dan Qadar?
Banyak umat muslim yang percaya atas Qadha dan Qadar tanpa memahami maksudnya, kenapa dan untuk apa? Sedangkan beriman adalah meyakini dengan berdasar pada kepahaman yang bertumpu pada akal.

QS. Yunus (10): 100
“Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya”

HR. Ar-rabii’, Rasulullah bersabda Allah SWT berfirman : Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah)

See also QS. Ath Thalaaq (65): 10, QS Al Israa’ (17):36

3. Apa itu Qadha dan Qadar?
Ketetapan Allah yang kita kenal sebagai takdir digambarkan oleh dua kata: Qadar dan Qadha. Kedua-duanya bermakna ketetapan, tetapi memiliki nuansa yang berbeda.
Qadar memberikan makna: ketetapan yang ditentukan sepenuhnya oleh Allah, tanpa bisa diganggu gugat. Sedangkan Qadha adalah: ketetapan Allah yang ditentukan berdasarkan usaha tertentu. Qadar, dalam bahasa Indonesia, mirip dengan kata “kadar”: kapasitas, ukuran, misalnya digunakan dalam kalimat: “seberapa besar kadar kemampuannya” artinya, seberapa besar “kapasitas”nya. Seberapa “ukuran” kemampuannya.
Sebagai contoh, seseorang dilahirkan sebagai seorang laki-laki. Lahir dari orangtua yang berkebangsaan Indonesia. Terlahir dengan bentuk fisik dan kapasitas intelektual tertentu, dan seterusnya dan sebagainya…itulah yang disebut Qadar. Meskipun seseorang terlahir dengan tidak bisa memilih kondisinya sendiri, bukan berarti Qadar terjadi tanpa melibatkan hukum sebab akibat. Qadar adalah takdir Allah atas peristiwa-peristiwa sebelumnya, yang dilakukan oleh orangtua kita atau orang lain, yang berusaha orangtua kita, dipadu dengan berbagai factor penyebabnya, hasilnya adalah kita. Kita tinggal menerima saja…
Takdir bayi (anak) bersangkutan di kemudian hari seiring dengan usaha dan perjalanan waktu. Perpaduan takdir awal – Qadar dengan usaha – Qadha itulah yang bakal menghasilkan takdirnya.
Selain pada manusia, Qadar Allah juga berlaku pada berbagai makhluk-Nya di seluruh penjuru alam. Mulai dari benda-benda mati, tetumbuhan, binatang, jin dan malaikat. Qadar adalah ketentuan yang telah ditetapkan-Nya saat menciptakan seluruh isi alam semesta, termasuk ruang, waktu, hukum, informasi, materi dan energi. Semua itu diciptakan dengan mengikuti kadar tertentu, sehingga berjalan seperti sekarang. Pada benda mati, takdir Allah hanya berupa Qadar – ketetapan awal. Kapasitas yang tidak bisa diubah, kecuali mengikuti sunnatullah yang telah ditetapkan sebelumnya. Sedangkan pada manusia Qadar itu bisa diubahnya lewat Qadha alias usaha

QS. Al Qamar (54):12
“ Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan”

QS. Al A’laa (87): 3
“ dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk

See also QS. Yaasin (36): 37-39

4. Sejauh mana usaha kita menentukan Qadha?
Orang-orang yang menyombongkan diri kadang sangat yakin pada apa yang mereka usahakan tanpa campur tangan Allah sehingga menjadi takabur. Sebagian manusia lainnya sangat bergantung (hanya berbadah) pada campur tangan Allah tanpa ingin berusaha. Seperti dibahas sebelumnya, takdir adalah hasil dari gabungan Qadar – kapasitas awal dan Qadha – usaha. Seperti apa hasil dari takdir tersebut sepenuhnya kehendak mutlak Allah (akhir sunnatullah). Namun jangan khawatir, meskipun Allah yang menentukan hasil usaha kita, Dia tidak akan sewenang-wenang.

QS Fushilat (41): 46
“Barang siapa mengerjakan amal yang sholeh maka pahalanya untuk dirinya sendiri, dan barang siapa mengerjakan perbuatan jahat maka dosanya untuk dirinya sendiri, dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya”

Dalam ayat ini Allah mewajibkan Diri-Nya sendiri untuk berbuat adil

Dia menentukan takdir dengan sifat-Nya yang Maha Pemurah. Dia cuma ingin menguji sikap kita, cuma ingin tahu kualitas kesabaran kita. Jika lulus, Dia selalu memberikan yang terbaik. Bahkan, jauh lebih baik. Diluar dugaan kita. Tetap istiqamah menjalankan cara yang diajarkan-Nya. Di antaranya kerja keras dalam kejujuran, dan sabar….

QS. Ali Imran (3) : 142
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar”

See also QS. Al Baqarah (2): 186

Manusia bisa memilih dan mengusahakan takdir macam apa yang dia inginkan, meskipun hasilnya tidak sepenuhnya ada di genggaman tangannya. Dari segi waktu, sangatlah jelas bahwa takdir seseorang ditentukan seiring dengan berjalannya waktu. Pun, apa yang telah didapatkan seseorang disuatu masa bukanlah takdir final bukan pula sementara. Contohnya : Belum tentu seseorang kaya terus sampai mati menjemput, atau sebaliknya belum tentu juga dia mati dalam kemiskinan. Begitulah, takdir kita berubah terus dari waktu ke waktu sesuai dengan apa yang diusahakan. Takdir final itu hanya terjadi pada saat seseorang telah mencapai ajalnya.

5. Apakah takdir sudah termaktub dalam Lauh Mahfuzh?
Ada belasan ayat tentang Lauh Mahfuzh;

a. QS. Al An’aam (6): 59
Ayat ini memberikan gambaran yang sangat luas, bahwa ada suatu “kitab” yang berisi seluruh kenyataan di alam semesta secara umum sehingga masih dipertanyakan soal aktifitas manusia itu sendiri.

b. QS. Yunus (10): 61
Ayat ini dengan sangat gamblang menceritakan, bukan hanya benda dan tempat. Atau kejadian yang terkait dengan manusia. Allah jelas-jelas menyebut aktifitas manusia pun tercatat dalam kitab itu.

c. QS. Yaasin (36):12
Ayat ini semakin memperjelas bahwa Lauh Mahfuzh memuat segala peristiwa yang terjadi di alam semesta, kecil maupun besar, gaib maupun nyata. Tapi, apakah termasuk “waktu” juga?

d. QS. Faathir (35): 11
Ayat ini menyinggung umur manusia, bahwa Allah menciptakan manusia dari tanah, kemudian menjadi sperma dan ovum, berkembang di dalam rahim, dilahirkan dan seterusnya sampai datang kematiannya. Kemudian Allah menyebutkan, ada orang yang dipanjangkan umurnya dan ada pula yang dipendekkan. Semua itu dalam kekuasaan Allah. Dan tercatat di dalam Lauh Mahfuzh. Artinya soal waktu pun tidak terlepas dari catatan Lauh Mahfuzh. Tapi, sekali lagi ayat ini tidak menyebutkan informasi bahwa panjang pendeknya umur seseorang itu telah ditetapkan sebelumnya. Allah cuma mengatakan bahwa ada orang yang umurnya dipanjangkan dan ada pula yang di pendekkan.

e. QS. Al Israa’ (17): 58
Ayat ini berbicara tentang kematian dan azab pada manusia, tetapi dalam skala kolektif. Allah mengatakan bahwa Dia akan membinasakan suatu negeri disebabkan oleh kedurhakaan penduduknya, sebelum kiamat datang. Jika dicermati, yang tertulis dalam Lauh Mahfuzh itu adalah modusnya. Bukan waktu kebinasaannya, bahwa suatu negeri yang penuh kejahatan dan kezaliman bakal dibinasakan oleh Allah. Kapan kebinasaan itu terjadi, tidak disebutkan oleh Allah kecuali dengan melewati mekanisme sebab-akibat.

Dalam HR. Muslim, Rasulullah bersabda, Allah SWT berfirman :
“Belum akan kiamat sehingga tidak ada lagi di muka bumi orang yang menyebut: Allah, Allah.”

HR. Al Hakim, Nabi Muhammad SAW bersabda Allah SWT berfirman:
“Demi yang jiwa Muhammad dalam genggaman-Nya. Tiada tiba kiamat melainkan telah merata dan merajalela dengan terang-terangan segala perbuatan mesum dan keji, pemutusan hubungan kekeluargaan, beretika buruk dengan tetangga, orang yang jujur (amanat) dituduh berkhianat, dan orang yang khianat diberi amanat (dipercaya).”

Kedua hadist tersebut juga menjelaskan mekanisme sebab akibat yang berhubungan dengan ditetapkannya hari kiamat, sehingga semakin jelas bahwa modusnya lah yang telah Allah tetapkan. Bukan waktunya dan bukan cara kebinasaannya.

f. QS. Al Kahfi (18): 58-59
Dua ayat berurutan tersebut memberikan pemahaman gamblang kepada kita bahwa, Allah adalah Dzat yang Maha Pengampun dan Pemberi Rahmat. Dia tidak ingin mengazab hamba-hamba-Nya yang berbuat zalim secara langsung. Allah menunggunya sampai waktu tertentu agar ia bertobat dan memperbaiki kesalahannya. Allah tahu, manusia bersifat tergesa-gesa dan sering lalai.

Ayat berikut memberikan keluasan pemahaman lagi kepada kita. Bahwa justru Rahman dan Rahim Allah sangat dominan dalam menentukan takdir. Allah bahkan menangguhkan azab bagi orang-orang yang zalim. Tapi, penangguhan azab itu sebenarnya juga menyebabkan bertumpuknya akibat, sehingga azab itu datangnya lebih parah.

QS. An Nahl (16): 61
“Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatu pun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai pada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktu bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak mendahulukannya.”

See also QS. Huud (11):6, QS. Al Hajj (22):70, QS. An Naml (27): 75

Dalam hadist riwayat Al Bukhari, Rasulullah bersabda bahwa Allah SWT berfirman :
“Tidak ada alasan bagi seseorang untuk diampuni dan kembali kepada jalan Allah yang Allah tangguhkan ajalnya sehingga dia sudah mencapai usia enam puluh tahun”

Hadist ini menjelaskan bahwa Allah Maha Pengasih tidak serta merta melaknat hamba-Nya yang berdosa, Dia memberikan batas waktu mencapai usia 60 tahun, usia yang seharusnya sudah melewati berbagai ujian hidup dan dapat mengambil pelajaran, jika belum bertobat atas perbuatan dosanya maka tidak ada lagi alasan baginya pada saat menghadapi perhitungan Allah.

So, temukanlah mozaik-mozaikmu dengan istiqomah…

26 Comments (+add yours?)

  1. opreker
    Jan 27, 2009 @ 08:47:45

    wow …. akhirnya ditulis juga, numpang baca dan memahami dulu yach🙂

    Reply

  2. opreker
    Jan 27, 2009 @ 09:10:20

    Qadar dan Qadha

    Qadar = takdir awal = kadar,kapasitas = pembatasan
    Qadha = usaha

    sebelum aku memberikan komentar lebih jauh lagi, aku coba dulu bagian atas dari postinganmu tentang dua hal tersebut🙂.

    Kombinasi dan Qadar dan Qadha lah yang menghasilkan takdir, benar gak nech ?, ok kalo benar aku akan lanjut.

    Kalo benar, berarti :

    Terlihat begitu demokratis sech, walaupun sebenarnya TIDAK sama sekali. Mengapa ? karna :

    1. Qadar = telah membatasi kemampuan,usaha dan segala aspek diri manusia, jadi kalo telah terbatasi, sudah pasti Qadha-nya juga terbatas khan ?, ya iyalah, lha segala batas kemampuan,usaha,semangat,pemikiran dan aspek2 lainnya udah dibatasi khan ?
    2. jadi pada dasarnya adalah Qadar dan Qadha cuma sekedar retorika aja.
    3. kalo begitu sebenarnya Qadar dan Qadha itu gak ada
    4. kenapa gak ada ?
    5. karna semuanya telah ditentukan dari awal.

    itu aja dulu yach Serendipity

    Reply

  3. serendipity55
    Jan 27, 2009 @ 10:17:15

    Qadar = takdir awal = kadar,kapasitas = pembatasan>>>>>>>mengapa diharfiahkan pembatasan?

    bagaimana, jika Qadar = takdir awal = kadar, kapasitas, ukuran = kemampuan

    bukankah manusia diciptakan berbangsa-bangsa, bersuku-suku, berpasang-pasangan, untuk saling melengkapi satu sama lain…artinya setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan, kemampuan satu orang belum tentu dimiliki oleh yang lainnya…tinggal bagaimana usaha mereka mengembangkan kapasitas yang mereka miliki.

    Reply

  4. Soba'
    Jan 27, 2009 @ 15:47:54

    kalau yang saya pahami. Qadha dan qadar itu berbeda. kebalikan dari yang ditulis pada postingan diatas. Qadha itu berarti ketetapan Allah SWT terhadap sifat asal setiap dzat yang diciptakannya. Misalnya Qadha dari pisau itu mengiris, Qadha dari api adalah membakar. Perkara seseorang menggunakan pisau untuk membunuh orang ataukah membuat masakan maka itulah yang akan dihisab kelak. Sedangkan takdir itu adalah merupakan kekuasaan Allah . Qadar (takdir) termasuk qudrat dan kekuasan-Nya yang menyeluruh, qadar adalah rahasia Allah yang tersembunyi, tak ada seorangpun yang dapat pengetahuinya kecuali Dia, tertulis di lauh mahfuzh dan tak ada seorangpun yang dapat melihatnya.

    Yang penting juga sebelum kita mendalami tentang qadha dan qadr kita mesti memahami hal-hal dasar yaitu :
    1. Kemahakuasaan Tuhan.
    2. Keadilan Tuhan.

    jadi qadha tidak membatasi usaha awal seperti pada komentar bung opreker. Qadha hanya membatasi sifat dari dzat dari suatu benda, bukan membatasi membatasi kemampuan,usaha dan segala aspek diri manusia. Kesimpulannya, Qadha dan Qadar itu ada, dan merupakan rukun iman, yang wajib dipercaya.

    Reply

  5. opreker
    Jan 27, 2009 @ 18:54:38

    Qadar memberikan makna: ketetapan yang ditentukan sepenuhnya oleh Allah, tanpa bisa diganggu gugat
    >>> pembatasan khan ?🙂, kalo bukan pembatasan apa namanya ?

    Qadar, dalam bahasa Indonesia, mirip dengan kata “kadar”: kapasitas, ukuran, misalnya digunakan dalam kalimat: “seberapa besar kadar kemampuannya” artinya, seberapa besar “kapasitas”nya. Seberapa “ukuran” kemampuannya.
    Sebagai contoh, seseorang dilahirkan sebagai seorang laki-laki. Lahir dari orangtua yang berkebangsaan Indonesia. Terlahir dengan bentuk fisik dan kapasitas intelektual tertentu, dan seterusnya dan sebagainya…itulah yang disebut Qadar.
    >>> ini lebih jelas lagi lho🙂, ok aku coba buat ilustrasi :
    >>>> kadar/ukuran = ukuran sebuah botol adalah 1 liter, jadi batasan untuk mengisi botol itu adalah 1, dan batasan itu adalah MUTLAK, benar gak tuch🙂, bukannya arti dan maksud kata kadar/ukuran adalah seperti itu bukan ?🙂🙂🙂

    >>> Jadi dalam bahasa Indonesia (yang kita cintai) arti kadar/ukuran adalah pembatas, betul gak ?

    bukankah manusia diciptakan berbangsa-bangsa, bersuku-suku, berpasang-pasangan, untuk saling melengkapi satu sama lain…artinya setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan, kemampuan satu orang belum tentu dimiliki oleh yang lainnya…tinggal bagaimana usaha mereka mengembangkan kapasitas yang mereka miliki.

    >>> nach benar khan ???🙂🙂🙂

    kemampuan satu orang belum tentu dimiliki oleh yang lainnya
    >>> atau dengan bahasa yang lebih lengkap
    >>>> kemampuan satu orang belum tentu dimiliki oleh yang lainnya //tambahan dari gw nech >>> karena kemampuan seseorang terbatas (pada kadar/ukuran yang telah ditetapkan sebelumnya dan itu mutlak) pada ketetapan yang telah dibuat oleh Allah.

    Tolong pada reply comment berikutnya dibalas lebih kearah sistematis penggunaan bahasa yach🙂 bukan sekedar retorika dan dogma, karena sepahamku, Islam bukan agama retorika dan dogma, maaf kalo salah🙂

    bagaimana, jika Qadar = takdir awal = kadar, kapasitas, ukuran = kemampuan
    >>> ok, Qadar = takdir awal = kadar, kapasitas, ukuran = kemampuan, pertanyaannya adalah, kadar/kapasitas/ukuran/kemampuan itu telah ditetapkan khan ? dan yang ini (Qadar) sifat mutlak khan ?🙂

    Qadar memberikan makna: ketetapan yang ditentukan sepenuhnya oleh Allah, tanpa bisa diganggu gugat
    >>> ini menjelaskan mengapa aku menyebut kata MUTLAK diatas🙂, betul gak ?, aku gak buat kesimpulan baru lho, kesimpulanku berdasarkan tulisanmu🙂

    Reply

  6. serendipity55
    Jan 28, 2009 @ 07:42:14

    Thanks for all response…tambah ilmu lagi nih🙂

    @Soba’
    soal definisi Qadha dan Qadar sejauh penelitian dan observasi saya pikir sudah benar…jika ada penjelasan terminologi yang berbeda, tolong dijelaskan lebih dalam🙂

    …..Qadha (Qadar_red) itu berarti ketetapan Allah SWT terhadap sifat asal setiap dzat yang diciptakannya. Misalnya Qadha dari pisau itu mengiris, Qadha dari api adalah membakar.>>> soal ketetapan Allah terhadap benda mati dan benda hidup tentu saja berbeda. benda mati tidak bisa mengubah Qadar menjadi takdir. manusia bisa mengubah Qadar menjadi takdir lewat usaha.

    Qadha (Qadar_red) hanya membatasi sifat dari dzat dari suatu benda, bukan membatasi membatasi kemampuan,usaha dan segala aspek diri manusia >>> sepakat!

    @Opreker
    hehehe, makin intens aja neh diskusinya🙂
    baiklah, sepakat ces kalo dibilang Qadar adalah ketetapan mutlak Allah.

    kemudian dimaknai sebagai pembatasan berarti maksud anda takdir awal = takdir akhir, mengapa Allah harus berspekulasi membedakan Qadha dan Qadar?mengapa harus ada hukum sebab akibat?

    Qadar, dalam bahasa Indonesia, mirip dengan kata “kadar”: kapasitas, ukuran, misalnya digunakan dalam kalimat: “seberapa besar kadar kemampuannya” artinya, seberapa besar “kapasitas”nya. Seberapa “ukuran” kemampuannya.>>> ini lebih jelas lagi lho🙂 , ok aku coba buat ilustrasi :
    >>>> kadar/ukuran = ukuran sebuah botol adalah 1 liter, jadi batasan untuk mengisi botol itu adalah 1, dan batasan itu adalah MUTLAK, benar gak tuch🙂 , bukannya arti dan maksud kata kadar/ukuran adalah seperti itu bukan ?
    >>>>kalo kadar, ukuran, kapasitas benda mati memang terukur secara kuantitas….tapi kapasitas manusia tidak bisa di analogikan dengan benda mati, manusia mempunyai kapasitas komplex tak hanya secara kuantitas tapi juga kualitas🙂

    Reply

  7. serendipity55
    Jan 28, 2009 @ 08:05:13

    Allah menetapkan qadar pada seluruh makhluk ciptaan-Nya. Benda mati tidak bisa mengubah Qadar menjadi takdir yang berbeda, karena mereka tidak memiliki kehendak…sedangkan manusia diberi keleluasaan untuk mengubah Qadar menjadi takdir, lewat Qadha alias usaha…

    Reply

  8. Supir Bemo
    Jan 28, 2009 @ 10:26:36

    Hmmm…. lagi lagi semantik…

    Reply

  9. Supir Bemo
    Jan 28, 2009 @ 10:27:52

    Ups…

    kaburnya lupa…

    Reply

  10. Soba'
    Jan 28, 2009 @ 15:49:13

    saya copy-kan pembahsan tentang qadha dan qadar dibawah, karena menurut saya, pembahasan qadha dan qadar bukanlah hal yang mudah. Qadha dan Qadha adalah sesuatu yang rumit, karena rumitnya dalam sejarah kita kenal 3 golongan yang berbeda memahami i qadha dan qadar ini.

    Kita kenal Jabariyah, Qadariyah dan Ahlu sunnah wal-jamaah. Jabariyah adalah golongan yang menganggap bahwa manusia hanya seperti kapas yang di bawah kesana kemari oleh hembusan takdir Allah SWT. Qadariyah, sebaliknya menganggap sebaliknya bahwa setiap perbuatan manusia adalah kehendaknya sendiri tanpa campur tangan Allah SWT, bahkan Allah SWT mengetahui perbuatan manusia setelah manusia selesai melakukannya.

    Dan yang terakhir adalah Ahlu sunnah wal jamaah yang berpemahaman bahwa manusia memiliki kebebasan berkehendak tetapi setiap perbuatan manusia adalah merupakan ciptaan Allah SWT dan telah diketahui-Nya sebelumnya dan telah tertulis pada lauhul mahfudz.

    tentang qadha dan qadr :
    Secara etimologi, qadha memiliki banyak pengertian, diantaranya sebagaimana berikut:

    1. Pemutusan, kita bisa temukan pengertian ini pada firman Allah, “(Dia) yang mengadakan langit dan bumi dengan indahnya, dan memutuskan sesuatu perkara, hanya Dia mengatakan: Jdilah, lalu jadi.” [QS. Al-Baqarah (2): 117]

    2. Perintah, kita bisa temukan pengertian ini pada firman Allah, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” [QS. Al-Israa` (17): 23]

    3. Pemberitaan, bisa kita temukan dalam ayat, “Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh.” [QS. Al-Hijr (15): 66]

    Imam az-Zuhri berkata, “Qadha secara etimologi memiliki arti yang banyak. Dan semua pengertian yang berkaitan dengan qadha kembali kepada makna kesempurnaan….” (An-Nihayat fii Ghariib al-Hadits, Ibnu Al-Atsir 4/78)

    Adapun qadar secara etimologi berasal dari kata qaddara, yuqaddiru, taqdiiran yang berarti penentuan. Pengertian ini bisa kita lihat dalam ayat Allah berikut ini. “Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.” [QS. Fushshilat (41): 10]

    Dari sudut terminologi, qadha adalah pengetahuan yang lampau, yang telah ditetapkan oleh Allah pada zaman azali. Adapun qadar adalah terjadinya suatu ciptaan yang sesuai dengan penetapan (qadha).

    Ibnu Hajar berkata, “Para ulama berpendapat bahwa qadha adalah hukum kulli (universal) ijmali (secara global) pada zaman azali, sedangkan qadar adalah bagian-bagian kecil dan perincian-perincian hukum tersebut.” (Fathul-Baari 11/477)

    jadi kesimpulannya qadha adalah hukum universal, misalnya api itu membakar, manusia belajar akan jadi pintar (jadi bukan hanya benda mati saja) dst. Sedangkan qadar adalah perbuatan manusia dengan api itu, apakah dia memakainya untuk memasak makanan atau membakar rumah misalnya. Pada kedua pilihan tersebut manusia memiliki kehendak. Dan apakah manusia akan memasak atau membakar itu telah tertulis pada lauhul mahfudz dan telah diketahui oleh Allah SWT.

    Reply

  11. serendipity55
    Jan 29, 2009 @ 01:34:42

    kalo beda semantik msh bs dipahami, kalo beda titik tolak yah sdh pasti ga bakal ketemu🙂

    Reply

  12. serendipity55
    Jan 29, 2009 @ 01:43:31

    @Soba
    thanks ya atas penjelasannya…

    Reply

  13. opreker
    Jan 29, 2009 @ 07:26:30

    wow … info baru ….. numpang ngebaca dulu yach🙂

    Reply

  14. opreker
    Jan 30, 2009 @ 06:50:43

    @soba,

    Penjelasan yg cukup lengkap,

    quote :
    jadi kesimpulannya qadha adalah hukum universal, misalnya api itu membakar, manusia belajar akan jadi pintar (jadi bukan hanya benda mati saja) dst. Sedangkan qadar adalah perbuatan manusia dengan api itu, apakah dia memakainya untuk memasak makanan atau membakar rumah misalnya. Pada kedua pilihan tersebut manusia memiliki kehendak. Dan apakah manusia akan memasak atau membakar itu telah tertulis pada lauhul mahfudz dan telah diketahui oleh Allah SWT.

    quote :
    Dan yang terakhir adalah Ahlu sunnah wal jamaah yang berpemahaman bahwa manusia memiliki kebebasan berkehendak tetapi setiap perbuatan manusia adalah merupakan ciptaan Allah SWT dan telah diketahui-Nya sebelumnya dan telah tertulis pada lauhul mahfudz.

    >> Anda dari golongan Ahlu sunnah wal jamaah yach ???

    Jadi yang mana sebenarnya yang benar ??? jadi bingung nech

    quote :
    Pada kedua pilihan tersebut manusia memiliki kehendak

    quote :
    Dan apakah manusia akan memasak atau membakar itu telah tertulis pada lauhul mahfudz dan telah diketahui oleh Allah SWT

    >> Point pertama, manusia mempunyai kehendak, point kedua telah tertulis pada lauhul mahfudz dan diketahui oleh Allah SWT, jadi kehendak yang akan dilakukan manusia itu telah tertulis sebelumnya ??? Jadi apa point dari kehendak itu ??? apa gunanya ada kehendak kalo ternyata telah ditetapkan sebelumnya ???

    >> telah ditetapkan sebelumnya khan ??? (bahasa halusnya untuk tujuan menutupi kebenaran = telah tertulis pada lauhul mahfudz)

    >> ok, kita liat urutan kejadiannya biar lebih jelas apa yang aku maksudkan (sebelum Anda berpikir untuk memberikan argumen yang berbau retorika dan dogma🙂 )

    Penjelasan berikut ini berdasarkan urutan waktunya (yang paling atas adalah yang paling awal)

    1. Lauhul Mahfudz di tulis (termasuk didalamnya segala tingkah laku, kehendak manusia), diambil dari quote Anda “Dan apakah manusia akan memasak atau membakar itu telah tertulis pada lauhul mahfudz dan telah diketahui oleh Allah SWT”

    2. berikutnya adalah tindakan dan segala kehendak manusia.

    Jadi pointnya sama aja khan ??? Apa2 yang kita perbuat,rasakan,dan kehendak adalah mengikuti apa yang telah ditulis di Lauhul Mahfudz ??

    Kalo tidak sepakat tolong dibahas poin per poin dari pendapatku yach🙂

    Reply

  15. Soba'
    Jan 31, 2009 @ 13:20:21

    @ Opreker

    Yang benar tentunya Ahlusunnah wal jamaah.

    singkatnya begini saja, firstly, bung opreker apakah dalam melakukan sesuatu pernah merasa dipaksa, ataukah itu adalah hasil dari kebebasan atau keputusan dari bung sendiri. Saya yakin bung opreker akan menjawab yang kedua bukan ?.
    Yang kedua, masalah lauhul mahfudz dan pengetahuan Allah yang meliputi segala sesuatu. Hal tersebut adalah hal yang harus diimani oleh setiap muslim, bung opreker seorang muslim kan ?. berdasarkan dalil dari Al-Qur’an :

    “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

    “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [QS. Al-Hadiid (57): 22-23]

    “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” [QS. Al-An’aam (6): 59]

    saya berharap bung opreker tidak alergi terhadap dalil dan hanya menggunakan akal semata. Karena akal manusia sangatlah terbatas. Akal kita juga hanyalah ciptaan Allah SWT seperti halnya segala sesuatu dibumi ini yang tidaklah sempurna. Dalam hal qadha dan qadr, mestinya kita lebih mengedepankan dalil dari al-qur’an karena hal tersebut termasuk hal-hal yang ghaib, yang akal manusia tidak akan sampai kepadanya.

    Reply

  16. serendipity55
    Feb 04, 2009 @ 05:00:36

    wah, ada komen nambah ya…🙂

    hmmm, well mesti ada postingan baru nih tentang paham2 Qadha dan Qadar…

    @Soba
    dalil dan hadist juga harus sinkron dengan akal…so, harus banyak minta petunjuk-Nya dunk supaya kapasitas akalnya bisa lebih besar loading ilmu2 dari dalil dan hadist…hehehe

    btw, thanks for the comments

    Reply

  17. opreker
    Feb 04, 2009 @ 07:24:48

    Minta izin untuk mempelajarinya dulu yach …

    Reply

  18. Soba'
    Feb 05, 2009 @ 01:49:26

    maaf nih, nggak setuju kalau Al-Qur’an dan hadits yang harus sinkron dengan akal.
    Mestinya akal yang harus dan sinkron dengan Al-Quran dan hadits. Karena sesuatu yang gak sempurna mestinya menyesuaikan dengan yang sempurna.
    Jadi sepertinya terbalik ….🙂
    gak semua ajaran agama yang tidak bisa “diakalkan” karena sangat banyak yang masuk akal. Yang gak bisa diakalkan hanya sebagian saja misalnya yang gaib seperti qadha dan qadr.
    kalau tidak salah pernah Ali ra. berbincang dengan salah seorang sahabat tentang mengusap sepatu bagian atas ketika berwudhu, lalu Ali ra. berkata, (kira-kira maksudnya seperti ini) : kalaulah agama itu berdasarkan akal semata tentunya yang diusap adalah sepatu bagian bawah (bukannya bagian atas yang tentunya lebih bersih).
    Btw, saya sudah baca bukunya Agus Mustofa (yg sama asep), so sorry to say, menurut saya nothing special …🙂, kalau boleh saran buku-buku Anis Matta, Lc. jauh lebih kaya dan bernash.

    Reply

  19. serendipity55
    Feb 05, 2009 @ 05:10:40

    “Mestinya akal yang harus dan sinkron dengan Al-Quran dan hadits. Karena sesuatu yang gak sempurna mestinya menyesuaikan dengan yang sempurna.”
    “Jadi sepertinya terbalik” ….🙂 …………hehehe…yup, that’s the truth one!!!

    “Btw, saya sudah baca bukunya Agus Mustofa (yg sama asep), so sorry to say, menurut saya nothing special” …🙂 ……buku yang sama Asep belum baca juga neh! “nothing special??”….depends on ur expectation, maybe over expectation! satu buku belum tentu bisa menjawab semua pemikiran khan…:-), kalau boleh saran buku-buku Anis Matta, Lc. jauh lebih kaya dan bernash…..baiklah, let see…:-)

    Reply

  20. Supir Bemo
    Feb 07, 2009 @ 19:30:51

    mending Bung Soba baca buku “Ini Budi” aja….

    kayaknya lebih masuk akal….

    kekekekekekekek…

    permisi kabur ahhh…

    Reply

  21. serendipity55
    Feb 09, 2009 @ 04:09:47

    bwuahaahahaa…hihihi…hati-hati Supir bemo menyulut perseteruan…Bung Soba “Ini Budi”, pantas ga ya???

    kyaaaa…ngumpet!!!!🙂

    Reply

  22. serendipity55
    Feb 09, 2009 @ 04:13:07

    hush..hush…nyang jail, pd pulang…hush!!!!

    *mode : “Ibu Muslimah”*…ini perkara dunia akhirat Anak Muda…., camkan itu!”

    Reply

  23. Soba'
    Feb 13, 2009 @ 10:39:03

    Setuju sama Ibu Muslimah . . .
    kalau ibu muslimah yang ajar sih, oke-oke saja ..hehehe..
    sayang ibu Muslimah sekarang sudah tua dan sy juga sdh pintar membaca …
    tapi, tetap ibu Muslimah is the best. Mirip sekali sama ibu guru waktu SD, bedanya beliau non muslim.
    Namanya Ibu Maria.
    🙂😀

    Reply

  24. ayik
    May 10, 2010 @ 17:20:05

    jodoh telah dtulis Allah pd lauhul ma’fudz tiap umatNya, apakah itu tertulis mutlaq atau qt bs berusaha.seperti takdir mubram yg dpt berubah ketika manusia mau berusaha dan ikhtiar?

    Reply

  25. serendipity55
    May 19, 2010 @ 09:36:33

    yang telah tertulis di lauhul ma’fudz cuma hukum “sebab akibat” dan “probability”(segala ilmu tentang alam semesta dan makhluknya), tentu saja perlu usaha…😉

    Reply

  26. Opreker
    May 21, 2010 @ 07:15:02

    daleeemmm

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: