beliefs against purpose

Seberapa yakin kita pada belief yang kita anut? 

Begitu banyak hal yang membentuk belief yang kita yakini kebenarannya. Belief secara umum dapat kita peroleh dari agama, pendapat yang telah dipertimbangkan secara kokoh, rasa percaya atas sesuatu atau seseorang adalah baik atau efektif, penerimaan prinsip atau doktrin dari seseorang atau sebuah kelompok, dan penerimaan sesuatu bahwa itu adalah benar dan nyata yang didasari perasaan yang bersifat emosional atau spiritual (Encarta, elektronik dictionary)  

Begitu kompleks hal-hal yang dapat membentuk suatu belief, semuanya adalah simpulan dari pengalaman masa lalu dan hal-hal yang kita pelajari. Namun belief dapat dengan sangat pintas untuk membuat suatu keputusan dan sebagai generalisasi untuk membantu kita bereaksi dengan cepat tanpa harus lama-lama berpikir. Membentuk aturan-aturan untuk membantu dan memudahkan kita untuk menjalani hidup sehingga pada dasarnya belief bergerak diantara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar kita. (the nature of beliefs, adi w. gunawan)

Pakar NLP Robert Dilts mengatakan bahwa belief mempunyai tiga bentuk:

  • sebagai generalisasi relasi di antara pengalaman
  • sebagai generalisasi makna
  • sebagai generalisasi batasan/limit

Belief seseorang sangat menentukan perilaku, tindakan ataupun sikap kita. Perilaku menentukan pencapaian prestasi hidup alias nasib kita.(the nature of beliefs, adi w. gunawan)

Belief seperti program dalam sebuah computer, jika rusak harus diperbaiki, jika tidak bermanfaat harus dihapus, jika ketinggalan zaman harus di upgrade atau di update.

Belief berbeda dengan tujuan. Setiap orang mempunyai belief dan tujuan tapi tidak menjamin sinkronnya belief dan tujuan itu. Bahkan sering terjadi kontradiksi yang jika tidak segera di re-system, modifikasi ataupun dirubah total akan mengakibatkan kegagalan pencapaian tujuan berulang kali (failure repetition).

Belief seseorang menentukan dapat tercapai tidaknya suatu tujuan.

Contoh : Banyak orang mempunyai keinginan menjadi kaya dan sejahtera. Tapi belief mereka berbeda-beda dalam mencapai kekayaan tersebut. Ada yang belief, kaya adalah sebuah keberuntungan, ataukah kaya harus didapatkan dengan bekerja keras.

Kontradiksi antara belief dan tujuan akan membuat seseorang hidup dalam keragu-raguan. Keragu-raguan adalah pintu yang paling terbuka bagi hal-hal yang buruk.

Banyak orang yang beragama dan menjalani syariat dengan setengah-setengah karena mereka memiliki belief dan tujuan yang saling bertentangan.

Misalkan, seorang beragama mengakui bahwa berzina adalah perbuatan dosa. Namun karena faktor desakan ekonomi ataupun alasan lainnya, mereka melegalkan ‘zina’ tersebut. Adakah excuse untuk hal ini, tentu tidak dalam agama.

( Dan, barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. )

QS. Thaha: 124

Penghidupan yang sempit dalam ayat diatas, tak hanya berarti materi semata tapi juga hati, akhlak dan moral seseorang. Ketenangan hati akan sulit didapatkan jika belief bertentangan dengan tujuan hidup kita.

Is ur belief still working for u?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: