borneo :’save me…’

Jika makassar dulunya dikenal dengan Celebes, Kalimantan timur dulunya tersohor dengan nama Borneo.

Tak bisa dipungkiri lagi kalau Borneo sejak dulu terkenal dengan kekayaan alamnya, mulai dari jaman keemasan ‘kayu’, kemudian minyak dan gas, dan saat ini tambang batubara. Tak heran jika perusahaan-perusahaan besar seperti Chevron, Total, termasuk local corporate ‘bapaknya’ minyak dan gas, Pertamina terus mengembangkan  investasinya di wonderland ini.

Namun kita sadari bersama, kekayaan alam ini hanya terbatas. Saat jaman keemasan ‘kayu’, penebangan hutan disana-sini, perusahaan dengan ijin mengolah hasil hutan berjamuran, illegal lodging bukan suatu kriminalitas dimata public tapi hanya sebatas diatas kertas putih yang disebut peraturan.

Mengapa? Karna hampir semua elemen masyarakat mengambil keuntungan tanpa memperhatikan dampaknya. Dampak atau konsekuensi selalu terlihat jelas di kemudian hari.

Saat ini, banjir, erosi dan meluapnya air sungai merupakan agenda musibah tahunan di negeri ini. Hutan menjadi hal yang langka di Borneo kini. pembukaan lahan untuk pemukiman, illegal lodging, dan tambang batubara mempunyai peran yang besar dalam kerusakan alam ini

Bagaimana dengan jaman keemasan migas? Luar biasa, selain menyerap tenaga kerja. Mmigas menjadikan negeri ini menjadi kontributor terbesar devisa negara. Namun lagi-lagi kekayaan alam ini pun akan habis. Diprediksikan sekitar 20 -30 tahun mendatang, minyak dan gas alam ini akan terkuras habis. Sisa keemasan dari jaman ini akan meninggalkan kilang minyak dan pipa-pipa pengeboran di lahan tandus.

Kini Batubara sebagai bahan bakar alternative merupakan bisnis tambang primadona. Perusahaan alat-alat berat pun menuai untung besar dalam penjualan mereka. Sangat disayangkan, prosedur dalam penambangan batubara yang sesuai dengan aturan demi menyelamatkan lingkungan khususnya ‘humus tanah’ tidak lagi diindahkan. Lagi-lagi alam menjadi korban kerusakan yang ujung-ujungnya akan menjadi bencana bagi manusia.

Perusahaan dan pemerintah sebagai pemegang kebijakan tertinggi dan yang paling banyak menikmati hasilnya, seharusnya lebih bertanggung jawab pada kerusakan alam ini. Konsisten pada aturan yang ditetapkan, kontrol yang ketat pada system produksi/pengolahan yang ramah lingkungan, evaluasi dan pemberian sanksi pada pelanggaran aturan.

Jika tidak demikian, tak lama lagi alam bukan lagi sahabat kita, malah akan menjadi bencana untuk manusia.

Btw, paling tidak akhir tahun ini, isu pemanasan global membawa angin segar bagi alam raya. Program penanaman ribuan pohon dilakukan secara simbolis untuk mengurangi kadar karbondioksida dibumi, kesepakatan pengurangan emisi karbon dan penggunaan teknologi ramah lingkungan menjadi kesepakatan dunia untuk menyelamatkan bumi. Menyelamatkan fasilitas yang telah Allah ciptakan untuk manusia.

Sungguh firman Allah SWT itu benar, bahwa sebagian besar manusia itu hanya melakukan kerusakan dimuka bumi ini kecuali orang-orang yang bertakwa.So, apakah kita tergolong orang-orang bertakwa? Maukah kita menyelamatkan bumi? Maukah kita menanam satu pohon? (ini bukan cuma kegiatan ibu PKK dan pramuka ya..)

Maukah kita membuang sampah pada tempatnya? Maukah engkau menegur orang yang membuang sampah atau puntung rokok sembarangan? Kedengarannya terlalu naif dan ga penting tapi ini hal paling kecil yang bisa membawa perubahan. Demi keselamatan bumi, demi tempat tinggal kita, demi tanah air kita. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: