<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>serendipity</title>
	<atom:link href="http://serendipity55.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://serendipity55.wordpress.com</link>
	<description>x-tra ordinary life</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Nov 2009 06:07:09 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='serendipity55.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/916d79009f4122cbc69c5c2fbd2dd996?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>serendipity</title>
		<link>http://serendipity55.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>malu ah&#8230;</title>
		<link>http://serendipity55.wordpress.com/2009/11/09/malu-ah/</link>
		<comments>http://serendipity55.wordpress.com/2009/11/09/malu-ah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 05:25:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serendipity55</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan akhir pekan]]></category>
		<category><![CDATA[character]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan copas]]></category>
		<category><![CDATA[musing]]></category>
		<category><![CDATA[psychology]]></category>
		<category><![CDATA[springkling]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[out of the box]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serendipity55.wordpress.com/?p=314</guid>
		<description><![CDATA[just copas&#8230;  
Pernahkah anda mendengar seseorang mengatakan bahwa manusia itu adalah mahluk yang suka berkeluh kesah? Saya mendengar itu sudah sangat lama. Mungkin ketika saya masih kecil. Dan sekarang setelah memasuki usia dewasa, saya mendapati bahwa hal itu benar adanya. Kenyataannya, sangat mudah bagi kita untuk mengeluhkan tentang ini dan itu. Kita bisa mengeluh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serendipity55.wordpress.com&blog=899410&post=314&subd=serendipity55&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>just copas&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Pernahkah anda mendengar seseorang mengatakan bahwa manusia itu adalah mahluk yang suka berkeluh kesah? Saya mendengar itu sudah sangat lama. Mungkin ketika saya masih kecil. Dan sekarang setelah memasuki usia dewasa, saya mendapati bahwa hal itu benar adanya. Kenyataannya, sangat mudah bagi kita untuk mengeluhkan tentang ini dan itu. Kita bisa mengeluh tentang penghasilan. Kita bisa mengeluh tentang pekerjaan. Tentang kesehatan. Tentang atap rumah yang bocor. Tentang jerawat yang membandel. Tentang sariawan akibat bibir tergigit secara tidak sengaja. Bahkan, kita mengeluh karena terlalu banyak hal yang harus kita keluhkan. Lantas, kapan kita akan berhenti mengeluh?</p>
<p>Belum lama ini saya bertemu dengan seseorang yang saya kagumi. Sebenarnya, pertemuan itu dijadwalkan untuk melakukan wawancara supaya saya bisa memahami kebutuhan perusahaan itu akan program pelatihan yang saya fasilitasi. Selama proses wawancara itu, kami merasa mulai akrab satu sama lain, sehingga kami tidak menyadari bahwa sebelumnya kami sama sekali tidak saling mengenal. Oleh karena itu, setelah semua hal yang saya agendakan untuk didiskusikan dalam wawancara itu selesai, ada perasaan aneh yang kami rasakan, yaitu; kami seolah belum ingin berhenti berdiskusi. Walhasil, pembicaraan kami memasuki ’topik’ yang sifatnya lebih personal. Tepatnya, tentang ’konsep diri’ masing-masing. Lebih tepatnya lagi; saya mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan konsep diri beliau. Sebab, saya lebih banyak mengeksplorasi dan mendengar daripada mengemukan pandangan saya sendiri.<br />
<span id="more-314"></span><br />
Ada begitu banyak pelajaran yang saya dapatkan. Namun, satu hal yang bisa saya paparkan disini adalah tentang pandangan beliau mengenai rasa malu. Rasa malu? Ya, rasa malu. Tetapi, ini bukan rasa malu kita dihadapan sesama manusia. Melainkan rasa malu kepada Tuhan. Hebatnya lagi, orang yang saya kagumi ini mampu menggambarkan pelajaran penting itu dalam sebuah kalimat sederhana. Maaf, bukan kalimat, melainkan sebuah frase yang dibangun oleh dua kata, yaitu;’Malu Mengeluh’.</p>
<p>Jika kita merasa malu untuk berlari-lari dijalanan dengan tubuh tanpa busana, maka kita tidak akan melakukannya. Itu pasti. Kecuali jika kita sudah kehilangan akal sehat; maka apapun tidak akan membuat kita malu. Bayangkan, apa yang terjadi jika seseorang merasa malu untuk mengeluh. Dia malu kepada Tuhan jika harus mengeluh. Lho, bukankah orang bijak menyarankan agar kita mengadukan segala permasalahan yang kita hadapi itu kepada Tuhan? Benar. Namun, mengeluh bukanlah istilah lain dari frase ’mengadukan setiap permasalahan kepada Tuhan’.</p>
<p>Ketika kita mengadukan persoalan hidup kepada Tuhan, kita mengakui bahwa diri ini memang lemah. Dan kita berharap agar Tuhan berkenan untuk memberikan bantuan. Sedangkan mengeluh? Ini beda. Sebab, ketika kita mengeluh kita merasa ada sesuatu yang salah dengan takdir ini. Sehingga, ketika mengeluh sesungguhnya kita seperti menyalahkan nasib atas semua hal yang kita alami. Padahal, ada banyak bukti bahwa keluhan yang kita lontarkan selalu bersumber kepada kurangnya rasa syukur kita atas semua pencapaian yang sudah kita raih. Itulah sebabnya, mengapa ’mengeluh’ itu bukan monopoli orang susah. Orang yang sukses pun sangat terampil mengeluh. Ibaratnya, si A mengeluhkan nasibnya yang tidak sebaik si B. Sebaliknya, si B mengeluhkan takdirnya yang tidak senyaman si A. Anehnya, jika saja si A dan si B saling bertukar posisi; belum tentu mereka akan berhenti mengeluh.</p>
<p>Sahabat baru saya itu bercerita tentang berbagai pencapaian yang pernah diraihnya. Baik pencapaian karir profesionalnya, maupun pencapaian dalam bidang kehidupan lain. Semua itu cukup untuk membuat saya mengagumi semua pencapaian beliau. Tidak banyak orang yang bisa seperti dirinya. Tentu saya tidak bermaksud melebih-lebihkan. Karena kenyataannya manusia memang tidak sempurna. Namun, diantara ketidaksempurnaan itu; ada orang-orang yang amat diberkati. Lalu dia berkata; ”Itulah sebabnya, saya merasa malu untuk mengeluh&#8230;&#8230;”</p>
<p>Saya tersentak mendengar itu. Sebab, kalimat itu benar-benar menohok jantung saya. Memang, tidak ada satu manusia pun yang kehidupannya selalu indah. Sebab, kita percaya bahwa kehidupan itu seperti roda. Kadang diatas, kadang dibawah. Tetapi, orang-orang yang senantiasa berterimakasih atas semua pengalaman diri ketika roda kehidupannya tengah berada diatas; adalah mereka yang tidak hendak menghapus semua keindahan itu dengan kesulitan yang dia hadapi saat roda kehidupan tengah menekannya dibawah.</p>
<p>Ketika kita sungguh-sungguh berterimakasih atas sebuah berkat, maka kita tidak akan mengeluh ketika tengah diuji dengan sebuah situasi sulit. Sebaliknya, kita semakin berterimakasih karena ternyata nikmat yang dulu pernah didapat itu begitu bernilai. Dan ketika kita begitu khusyuknya bersyukur, kita lupa untuk mengeluh. Bahkan, sekalipun kita ingat; kita tidak jadi mengeluh. Karena, kita malu untuk mengeluh. Oleh karenanya, yang terucap dan tertindak tiada lain adalah ungkapan penghargaan atas semua kenikmatan yang telah Tuhan anugerahkan. Sekalipun Tuhan tengah mengujinya, tetapi kita merasa malu mengeluh. Lalu kembali berterima kasih. Duh, betapa santunnya seorang hamba ketika terus berterimakasih, bahkan ketika tengah berada dalam ujian. Pantaslah jika semakin hari, dia semakin disayang oleh Tuhan.</p>
<p>Oleh : Dadang Kadarusman  </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serendipity55.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serendipity55.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serendipity55.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serendipity55.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serendipity55.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serendipity55.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serendipity55.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serendipity55.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serendipity55.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serendipity55.wordpress.com/314/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serendipity55.wordpress.com&blog=899410&post=314&subd=serendipity55&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serendipity55.wordpress.com/2009/11/09/malu-ah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/094a73ebc710b76421151a5b48793d25?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">serendipity55</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>still jetlag!</title>
		<link>http://serendipity55.wordpress.com/2009/10/07/still-jetlag/</link>
		<comments>http://serendipity55.wordpress.com/2009/10/07/still-jetlag/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 07:51:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serendipity55</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan akhir pekan]]></category>
		<category><![CDATA[time]]></category>
		<category><![CDATA[Bangkok]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[event]]></category>
		<category><![CDATA[ordinary me]]></category>
		<category><![CDATA[story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serendipity55.wordpress.com/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[was a long trip i had for holiday&#8230;but it was fun and exciting! taking 2 weeks holiday back to home and celebrating Idul Fitri with family, an agenda won&#8217;t be missed every year&#8230; i also met frens from my ex-skull and college, did gathering for big reunion, shared stories, and lol&#8230;some of them still d&#8217;same [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serendipity55.wordpress.com&blog=899410&post=294&subd=serendipity55&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>was a long trip i had for holiday&#8230;but it was fun and exciting! taking 2 weeks holiday back to home and celebrating Idul Fitri with family, an agenda won&#8217;t be missed every year&#8230; i also met frens from my ex-skull and college, did gathering for big reunion, shared stories, and lol&#8230;some of them still d&#8217;same in looks and behavior but some has really changed&#8230; specially those who has married. they also took their baby to the event, i think it&#8217;s one of their pride to show their next generation, they could say, 2 &#8211; 0 telak!&#8230;.hhahahaha&#8230; </p>
<p><img src="http://serendipity55.files.wordpress.com/2009/10/dsc01141.jpg?w=300&#038;h=225" alt="@ hade resto with Baronk &#39;99" title="@ hade resto with Baronk &#39;99" width="300" height="225" class="alignnonesize-medium wp-image-299" /></p>
<p>actually, i had good time meeting pals and fams but when the conversation turned to a question, &#8220;kapan&#8230;?&#8221;, sounds an ads in tv, hehehehe&#8230; a lil bother with that but soon i could handle by saying &#8220;insya Allah, it&#8217;s getting closer&#8230;i&#8217;ll tell u when it comes&#8221;, and u know they have ongoing questions&#8230;they were really enthusiasm, felt like i&#8217;m celebrity&#8230;.wkkkkkkkk</p>
<p><img src="http://serendipity55.files.wordpress.com/2009/10/dsc01157.jpg?w=300&#038;h=225" alt="with fams @ bantimurung" title="with fams @ bantimurung" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-308" /></p>
<p>after spent holiday, went back home&#8230; just one nite space to break, flew to Jakarta with Dewi, Aad and Ebi&#8230;and the next day we went to Bangkok with EF teams (96 people) from all over Indonesia who have achieved target for BTS 09 (Back to school), yeah&#8230;rockey BTS!<br />
we got a chance to step on Changi airport (sophisticated!)&#8230;the best airport to sleep for traveler who&#8217;s waiting connecting flight. they even have Orchid garden inside the airport, owesome (katrok niy!)&#8230;won&#8217;t missed the moment, kumat deh&#8230;gifo time! hhehehe&#8230;</p>
<p><img src="http://serendipity55.files.wordpress.com/2009/10/dsc01187.jpg?w=150&#038;h=112" alt="Dewi &amp; Febri @ Changi" title="Dewi &amp; Febri @ Changi" width="150" height="112" class="aligncenter size-thumbnail wp-image-309" /></p>
<p><img src="http://serendipity55.files.wordpress.com/2009/10/bangkok41.jpg?w=112&#038;h=150" alt="bangkok4" title="king of palace" width="112" height="150" class="aligncenter size-thumbnail wp-image-302" /></p>
<p><img src="http://serendipity55.files.wordpress.com/2009/10/dsc01228.jpg?w=150&#038;h=112" alt="DSC01228" title="say: kejuu..! hehehe" width="150" height="112" class="aligncenter size-thumbnail wp-image-303" /></p>
<p><img src="http://serendipity55.files.wordpress.com/2009/10/patung-tiruan1.jpg?w=112&#038;h=150" alt="patung tiruan1" title="patungnya kok ngikut gaya gw yah?hihihi.." width="112" height="150" class="aligncenter size-thumbnail wp-image-304" /></p>
<p>in Bangkok for 3 days, we explored temples and King of Palace (glamorous)&#8230; also night bazaar (luv it, shopping time!). Bangkok and its nite life also offered adventure to passionate lover&#8230; &#8220;it&#8217;s Thai (Free) Land&#8221;, they said. i&#8217;ve heard about some of the show they perform, and hiiii&#8230;like an animal show. the hard things was to find &#8220;halal&#8221; food, hiks&#8230;. the only restaurant who has halal food is Indian restaurant but when it comes to taste&#8230;yuck!&#8230;then we shouted&#8230;maakkk, i love Indonesia!</p>
<p><img src="http://serendipity55.files.wordpress.com/2009/10/dsc01215.jpg?w=150&#038;h=112" alt="let me go home..." title="let me go home..." width="150" height="112" class="aligncenter size-thumbnail wp-image-305" /></p>
<p>i had totally 3 weeks holiday, almost spending time in trips (still feels jetlag), what a busy exciting days and the result is my body was loosing weight. tired but happy&#8230; alhamdulillah&#8230;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serendipity55.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serendipity55.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serendipity55.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serendipity55.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serendipity55.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serendipity55.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serendipity55.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serendipity55.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serendipity55.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serendipity55.wordpress.com/294/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serendipity55.wordpress.com&blog=899410&post=294&subd=serendipity55&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serendipity55.wordpress.com/2009/10/07/still-jetlag/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/094a73ebc710b76421151a5b48793d25?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">serendipity55</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://serendipity55.files.wordpress.com/2009/10/dsc01141.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">@ hade resto with Baronk &#39;99</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://serendipity55.files.wordpress.com/2009/10/dsc01157.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">with fams @ bantimurung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://serendipity55.files.wordpress.com/2009/10/dsc01187.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Dewi &#38; Febri @ Changi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://serendipity55.files.wordpress.com/2009/10/bangkok41.jpg?w=112" medium="image">
			<media:title type="html">king of palace</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://serendipity55.files.wordpress.com/2009/10/dsc01228.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">say: kejuu..! hehehe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://serendipity55.files.wordpress.com/2009/10/patung-tiruan1.jpg?w=112" medium="image">
			<media:title type="html">patungnya kok ngikut gaya gw yah?hihihi..</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://serendipity55.files.wordpress.com/2009/10/dsc01215.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">let me go home...</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>letting go</title>
		<link>http://serendipity55.wordpress.com/2009/07/21/letting-go/</link>
		<comments>http://serendipity55.wordpress.com/2009/07/21/letting-go/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jul 2009 06:34:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serendipity55</dc:creator>
				<category><![CDATA[musing]]></category>
		<category><![CDATA[nature]]></category>
		<category><![CDATA[psychology]]></category>
		<category><![CDATA[springkling]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[personal motivation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serendipity55.wordpress.com/2009/07/21/letting-go/</guid>
		<description><![CDATA[To &#8220;let go&#8221; does not mean to stop caring, it means I can&#8217;t do it for someone else.
To &#8220;let go&#8221; is not to cut myself off, it&#8217;s the realization I can&#8217;t control another.
To &#8220;let go&#8221; is not to enable, but to allow learning from natural consequences.
To &#8220;let go&#8221; is to admit powerlessness, which means the [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serendipity55.wordpress.com&blog=899410&post=291&subd=serendipity55&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>To &#8220;let go&#8221; does not mean to stop caring, it means I can&#8217;t do it for someone else.</p>
<p>To &#8220;let go&#8221; is not to cut myself off, it&#8217;s the realization I can&#8217;t control another.</p>
<p>To &#8220;let go&#8221; is not to enable, but to allow learning from natural consequences.</p>
<p>To &#8220;let go&#8221; is to admit powerlessness, which means the outcome is not in my hands.</p>
<p>To &#8220;let go&#8221; is not to try to change or blame another, it&#8217;s to make the most of myself.</p>
<p>To &#8220;let go&#8221; is not to care for, but to care about.</p>
<p>To &#8220;let go&#8221; is not to fix, but to be supportive.</p>
<p>To &#8220;let go&#8221; is not to judge, but to allow another to be a human being.</p>
<p>To &#8220;let go&#8221; is not to be in the middle arranging all the outcomes, but to allow others to affect their own destinies.</p>
<p>To &#8220;let go&#8221; is not to be protective, it&#8217;s to permit another to face reality.</p>
<p>To &#8220;let go&#8221; is not to deny, but to accept.</p>
<p>To &#8220;let go&#8221; is not to nag, scold or argue, but instead to search out my own shortcomings and correct them.</p>
<p>To &#8220;let go&#8221; is not to adjust everything to my desires but to take each day as it comes, and cherish myself in it.</p>
<p>To &#8220;let go&#8221; is not to regret the past, but to grow and live for the future.</p>
<p>To &#8220;let go&#8221; is to fear less and love more.</p>
<p>(Author Unknown)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serendipity55.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serendipity55.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serendipity55.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serendipity55.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serendipity55.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serendipity55.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serendipity55.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serendipity55.wordpress.com/291/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serendipity55.wordpress.com/291/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serendipity55.wordpress.com/291/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serendipity55.wordpress.com&blog=899410&post=291&subd=serendipity55&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serendipity55.wordpress.com/2009/07/21/letting-go/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/094a73ebc710b76421151a5b48793d25?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">serendipity55</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>tadabbur Al Qur&#8217;an</title>
		<link>http://serendipity55.wordpress.com/2009/05/23/tadabbur-quran/</link>
		<comments>http://serendipity55.wordpress.com/2009/05/23/tadabbur-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 May 2009 00:04:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serendipity55</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan akhir pekan]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serendipity55.wordpress.com/?p=287</guid>
		<description><![CDATA[weekend ini ada kegiatan kantor di mega mendung, bogor. kali ini agak beda, biasanya meeting kantor ga jauh-jauh dari agenda national marketing plan ato pengenalan program dan teaching methodology yg updated..
kali ini pun &#8216;pure&#8217; hanya dari center2 milik owner kami, and fully arranged by them..
kegiatannya berbau religius hampir mirip-mirip pesantren kilat kalo lihat dari &#8216;time [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serendipity55.wordpress.com&blog=899410&post=287&subd=serendipity55&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>weekend ini ada kegiatan kantor di mega mendung, bogor. kali ini agak beda, biasanya meeting kantor ga jauh-jauh dari agenda national marketing plan ato pengenalan program dan teaching methodology yg updated..<br />
kali ini pun &#8216;pure&#8217; hanya dari center2 milik owner kami, and fully arranged by them..<br />
kegiatannya berbau religius hampir mirip-mirip pesantren kilat kalo lihat dari &#8216;time table-x&#8217;, but dunno if this time would be different.. sampe Emma, nyeletuk &#8216;mungkin pak Yus meragukan keislaman kita&#8217;&#8230;wkkkk, jgn sensi gitu dunk bu&#8230;!<br />
<span id="more-287"></span><br />
hmm, kegiatanx cukup menarik karna selain tadabbur (memaknai lebih dalam) tentang Al Qur&#8217;an, kita jg diajak tadabbur Alam. Tadabbur Al Qur&#8217;an na hanya sekelumit aja yg didapat, mati lampu jd bikin jadwal amburadul jg..hiks.. tema tahsinan, salah satu yg bakal nambah ilmu buat tadabbur Al Qur&#8217;an ga jadi dibawakan ma pak ustadz..huh, so annoying..<br />
btw, tadabbur alamnya lumayan mengobati kekecewaan kami, kita dibawa ke tempat air terjun curug panjang sekitar 5 km dari penginapan kami, hmm,nice view there&#8230;<br />
inti kegiatan kemaren sebenarx ngajakin kita kembali menjadikan Al Qur&#8217;an benar-benar sebagai pedoman hidup..memperbaiki bacaan kita untuk menjadikannya bukan sekedar ritual tp juga sebagai spiritualitas kita agar akhirnya dapat memperlancar komunikasi kita dengan Allah Swt.. Tadabbur Al Qur&#8217;an juga mengajak kita untuk mengkaji dan mengimplementasikan ajaran dan nilai-nilai Al Qur&#8217;an dalam kehidupan keseharian kita..<br />
well, semoga kasih dan sayang Allah Swt selalu berlimpah bagi kita semua..<br />
thanks to pak Yus sekeluarga, semoga Allah memberikan kendaraan yg mewah kelak diakhirat karna telah menjadi perantara hidayah bagi kami kepada Allah Swt..insya Allah..</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serendipity55.wordpress.com/287/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serendipity55.wordpress.com/287/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serendipity55.wordpress.com/287/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serendipity55.wordpress.com/287/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serendipity55.wordpress.com/287/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serendipity55.wordpress.com/287/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serendipity55.wordpress.com/287/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serendipity55.wordpress.com/287/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serendipity55.wordpress.com/287/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serendipity55.wordpress.com/287/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serendipity55.wordpress.com&blog=899410&post=287&subd=serendipity55&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serendipity55.wordpress.com/2009/05/23/tadabbur-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/094a73ebc710b76421151a5b48793d25?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">serendipity55</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>benarkah kita hidup dalam serba kekurangan?</title>
		<link>http://serendipity55.wordpress.com/2009/05/13/benarkah-kita-hidup-dalam-serba-kekurangan/</link>
		<comments>http://serendipity55.wordpress.com/2009/05/13/benarkah-kita-hidup-dalam-serba-kekurangan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 May 2009 08:32:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serendipity55</dc:creator>
				<category><![CDATA[Caliph]]></category>
		<category><![CDATA[belief]]></category>
		<category><![CDATA[bussiness]]></category>
		<category><![CDATA[character]]></category>
		<category><![CDATA[musing]]></category>
		<category><![CDATA[psychology]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[business]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[choice]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[out of the box]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[springkling]]></category>
		<category><![CDATA[story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serendipity55.wordpress.com/?p=284</guid>
		<description><![CDATA[lage2 copas ni temanz, dari kang Dadang Kadarusman
semoga bermanfaat&#8230;.  
Banyak sekali kekurangan dalam diri kita. Kurang mancung. Kurang putih. Kurang kaya. Kurang pintar. Dan beragam macam kurang-kurang lainnya. Oleh karena itu, kita tidak pernah kekurangan alasan untuk bersembunyi dibalik serba kekurangan yang kita miliki. Sampai-sampai, alasan yang kita kemukakan itu tidak lagi bisa diterima [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serendipity55.wordpress.com&blog=899410&post=284&subd=serendipity55&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>lage2 copas ni temanz, dari kang Dadang Kadarusman<br />
semoga bermanfaat&#8230;. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Banyak sekali kekurangan dalam diri kita. Kurang mancung. Kurang putih. Kurang kaya. Kurang pintar. Dan beragam macam kurang-kurang lainnya. Oleh karena itu, kita tidak pernah kekurangan alasan untuk bersembunyi dibalik serba kekurangan yang kita miliki. Sampai-sampai, alasan yang kita kemukakan itu tidak lagi bisa diterima akal karena sama sekali tidak bermutu. Herannya, semakin hari kita semakin nyaman dengan beragam alasan itu. Seolah-olah kita sudah menjadi sahabat terbaik bagi para alasan dan enggan beranjak barang sedikit saja dari tempat persembunyian itu. Padahal, kita percaya bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Dan kita juga percaya bahwa dibalik ketidaksempurnaan itu; ada orang-orang yang bisa menghasilkan pencapaian tinggi. Tapi, mengapa bersembunyi dibalik kekurangan diri ini kok terasa begitu nikmat?<br />
<span id="more-284"></span><br />
Akhir tahun lalu, saya mengikuti bowling fun game. Dengan modal keterampilan main bowling yang nol besar ini, saya berhasil memenangkan hadiah berupa 3 lembar voucher masing-masing bernilai seratus ribu rupiah. Jadi, pasti kemenangan itu merupakan &#8216;keberuntungan seorang pemula&#8217;. Beberapa hari yang lalu, voucher itu &#8216;ditemukan&#8217; kembali terselip dibuku catatan saya. Lalu, saya menggunakannya untuk mampir disebuah cafeshop. Sekedar nongkrong sejenak selepas mengikuti kelas fitness. Sekarang Anda sudah tahu bahwa saya berani masuk kesana gara-gara memiliki voucher itu; sehingga saya cukup mengeluarkan uang 15 ribu rupiah saja untuk makan berdua rada gaya. Kalau tidak ada voucher itu; saya tidak makan disitu, haha.</p>
<p>Ketika tengah menikmati ice blended vanilla dan smoked beef cake itu mata saya tertuju kepada sebuah meja dimana disana tengah bersantap siang sebuah keluarga terdiri dari Ayah, Ibu, dan dua anak yang lucu-lucu. Anak-anak sibuk bermain. Sang Ibu sibuk menyuapi mereka. Sedangkan sang Ayah terlihat asyik melayani pertanyaan-pertanyaan anak-anak sambil terus bekerja dengan lap-topnya. Sungguh, saya terkesan dengan lelaki seumuran saya itu. Entah mengapa, saya merasa ada &#8216;aura&#8217; kuat yang terpancar dari dalam dirinya. Ketika itu saya merasa seolah tengah memandang seorang bintang dengan segenap profesionalisme dan kompetensi. Padahal, saya tidak mengenalnya.</p>
<p>Saya tidak berhenti mencuri pandang kearahnya. Seperti ketika remaja dulu mencuri pandang kearah gadis pujaan hati. Bedanya, dulu saya melakukan itu karena perasaan suka kepada kecantikan yang memukau. Sekarang, karena sebuah kekaguman. Diam-diam, dalam hati saya berbisik; ingin rasanya meniru orang itu.</p>
<p>Saya mengira bahwa kekaguman itu akan berhenti sampai disitu. Tetapi saya keliru seratus persen. Saya termangu ketika menyaksikan pemandangan lain sesaat setelah itu. Yaitu, ketika orang itu berubah posisi duduk dan serta merta saya menyadari bahwa ternyata orang itu memiliki keistimewaan lain yang tidak dimiliki kebanyakan orang. Tahukah anda apa keistimewaan itu? Beliau memiliki satu kaki.</p>
<p>Sekarang saya jadi malu kepada diri sendiri. Dengan kesempurnaan fisik ini pun saya masih saja bersembunyi dibalik seribu satu alasan untuk membesar-besarkan kekurangan diri. Sehingga saya bisa dengan mudahnya menyerah. Lalu, memilih untuk bersikap pasif. Lalu menjadi orang yang tidak berbuat apa-apa secara produktif.</p>
<p>Betapa banyak orang yang diberi kesempurnaan penciptaan seperti kita, namun mempunyai mental yang lembek. Betapa banyak orang yang memiliki kelengkapan fisik seperti kita, namun setiap hari berkubang dengan keluh kesah. Padahal, betapa Tuhan telah memberi lebih banyak dari yang kita butuhkan; tapi, kita masih saja memenjarakan diri didalam kotak berlabel &#8216;kurang&#8217;.</p>
<p>Saat ini, rasanya kok saya masih duduk dihadapan orang hebat di cafe itu. Dan saya masih merasakan semangatnya berputar-putar diatas kepala saya. Seolah dia berubah menjadi malaikat bersayap indah, lalu berkata; &#8220;Keluarlah dari tempat persembunyianmu. Karena, Tuhan telah memberimu segala yang engkau butuhkan, untuk menjalani hidupmu&#8230;..&#8221;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serendipity55.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serendipity55.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serendipity55.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serendipity55.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serendipity55.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serendipity55.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serendipity55.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serendipity55.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serendipity55.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serendipity55.wordpress.com/284/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serendipity55.wordpress.com&blog=899410&post=284&subd=serendipity55&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serendipity55.wordpress.com/2009/05/13/benarkah-kita-hidup-dalam-serba-kekurangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/094a73ebc710b76421151a5b48793d25?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">serendipity55</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ayat-ayat poligami</title>
		<link>http://serendipity55.wordpress.com/2009/05/02/ayat-ayat-poligami/</link>
		<comments>http://serendipity55.wordpress.com/2009/05/02/ayat-ayat-poligami/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 May 2009 04:13:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serendipity55</dc:creator>
				<category><![CDATA[Caliph]]></category>
		<category><![CDATA[belief]]></category>
		<category><![CDATA[education]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[book]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[khalifah]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serendipity55.wordpress.com/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[salam penuh syukur atas limpahan rahmat Allah SWT yang tak terputus kepada hamba-Nya dan sholawat kepada junjungan Rasulullah SAW&#8230;
beberapa minggu yang lalu, dalam momen peringatan hari Kartini sebuah stasiun TV menyajikan biografi ibu Kartini dengan sangat personal tentang kehidupannya serta pandangannya pada perilaku sistem politik, budaya, agama dan sosial terhadap perempuan saat itu. tersirat bahwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serendipity55.wordpress.com&blog=899410&post=263&subd=serendipity55&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>salam penuh syukur atas limpahan rahmat Allah SWT yang tak terputus kepada hamba-Nya dan sholawat kepada junjungan Rasulullah SAW&#8230;</p>
<p>beberapa minggu yang lalu, dalam momen peringatan hari Kartini sebuah stasiun TV menyajikan biografi ibu Kartini dengan sangat personal tentang kehidupannya serta pandangannya pada perilaku sistem politik, budaya, agama dan sosial terhadap perempuan saat itu. tersirat bahwa agama dan budaya sangat berperan kuat dalam ke&#8221;marginal&#8221;an perempuan. Kartini juga menceritakan kepasrahannya ketika dia dinikahkan dengan seorang laki-laki pilihan orangtuanya dan dijadikan istri ke-4 pada saat itu. </p>
<p>gerakan emansipasi saat ini terus menyuarakan kesetaraan gender. sisi baik yang berkembang adalah bahwa wanita semakin sadar peran sertanya dalam pembangunan (domestik maupun publik) juga sangat penting. sisi buruknya gerakan emansipasi tanpa <a href="http://serendipity55.wordpress.com/2008/04/28/emansipasi/">landasan pemikiran yang kuat akan bertolak belakang dengan nilai-nilai agama</a>, bahkan kesalahan konteks dalam pemahaman tentang kesetaraan itu sendiri carut marut karna melawan fitrahnya sendiri. gerakan emansipasi kemudian menyalahkan agama yang mempunyai andil dalam sistem ketidakadilan hak asasi manusia, khususnya bagi perempuan.</p>
<p>kontroversial tentang praktek poligami yang diperbolehkan dalam islam adalah salah satu propaganda dari para pejuang feminisme. bahkan tidak sedikit umat muslimin dan mayoritas muslimat yang menolak implementasi poligami. </p>
<p>kebenaran diperbolehkannya poligami tersurat dalam kitab suci Al Qur&#8217;an dan hal tersebut telah dipraktekkan oleh Rasulullah SAW. lalu dimanakah letak kesalahannya? bagaimanakah kita memahami ayat-ayat yang berkenaan dengan poligami? benarkah poligami sebagai jalan untuk mengumbar syahwat?<br />
<span id="more-263"></span></p>
<p>beberapa buku dan diskusi yang mengupas tentang poligami, terkadang sangat subyektif dan praktikal tanpa melihat kembali pedoman dasar pelaksanaannya yaitu kitabullah dan sunnatullah. kemudian saya membaca buku karangan &#8220;Agus Mustofa&#8221; yang berjudul &#8220;Poligami yuuk!&#8221;, yang menghapus keraguan saya tentang keadilan dan kebenaran dalam ajaran islam berkenaan dengan poligami. bismillahirahmanirrahiim&#8230;. </p>
<p>mari kita bahas&#8230;..</p>
<p><strong>1. benarkah poligami sebagai jalan untuk mengumbar syahwat?</strong><br />
syahwat adalah fitrah manusia, tidak bersifat buruk, juga tidak bersifat baik&#8230;netral. bergantung kepada orang yang memilikinya dan melakukannya.<br />
seringkali kita mendengar orang berpoligami dengan alasan: &#8220;daripada berbuat zina, lebih baik kita berpoligami&#8221;. mengapa berpoligami selalu dikaitkan dengan perzinahan dan perselingkuhan? darimana asal-usul alasan ini muncul? karna di dalam Al Qura&#8217;an ternyata tidak ada satu ayatpun yang mengaitkan bolehnya melakukan poligami disebabkan alasan-alasan takut terjadi perzinahan dan perselingkuhan. Agus Mustofa mengatakan pula dalam bukunya bahwa telah terjadi reduksi kepahaman tentang makna poligami dalam konsep islam. dari alasan-alasan yang bersifat sosial politik menjadi alasan yang bersifat seksualitas. dan ini harus diluruskan, karena telah memunculkan persepsi yang sangat rancu dan menyesatkan umat. </p>
<p>lebih lanjut dalam pengamatan terhadap sekian banyak &#8220;ayat syahwat&#8221;, Agus tidak menemukan keterkaitannya dengan poligami. demikian pula sebaliknya, ayat-ayat poligami tidak dikaitkan dengan ayat-ayat syahwat. beberapa diantaranya adalah berikut ini&#8230;.<br />
kata syahwat dalam Al Qur&#8217;an hanya ditemukan 2 kali, dan menariknya hanya digunakan untuk menggambarkan dorongan seksual yang menyimpang, seperti homoseksual&#8230;</p>
<p><strong>QS. An Naml (27): 55</strong><br />
&#8220;mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) <strong>syahwat</strong> (mu), bukan (mendatangi) wanita? sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)&#8221;.</p>
<p><strong>QS. Al A&#8217;raaf (7): 81</strong><br />
&#8220;sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan <strong>syahwatmu</strong> (kepada mereka), bukan kepada wanita, sungguh kamu ini adalah kaum yang melampaui batas&#8221;</p>
<p>sedangkan dorongan nafsu seks kepada perempuan atau istri diistilahkan dengan lebih halus, yaitu &#8216;bercampur&#8217; atau &#8216;bergaul&#8217;..</p>
<p><strong>QS. Al Baqarah (2): 187</strong><br />
&#8220;dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa <strong>bercampur</strong> dengan isteri-isteri kamu; mereka itu adalah <strong>pakaian bagimu</strong>, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu <strong>tidak dapat menahan nafsumu</strong>, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma&#8217;af kepadamu. maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, (tapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri&#8217;tikaf dalam mesjid, itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada manusia, supaya mereka bertakwa&#8221;.</p>
<p>adalah sangat menarik, Allah mengumpamakan istri sebagai pakaian bagi suami, dan suami adalah pakaian bagi istrinya. sedangkan nafsu digambarkan sebagai dorongan halus yang bersifat fitrah. bukan menggebu-gebu dan tidak terkendali seperti syahwat alias dorongan seks yang menyimpang dan sekedar fisikal. </p>
<p>perkara menahan dorongan nafsu seks maka Allah memerintahkan menundukkan pandangan, memelihara kemaluan dan menjaga kesucian, baik dia laki-laki maupun perempuan (ditujukan kepada orang-orang yang belum menikah). hal ini dijelaskan secara berurutan dalam surah An Nuur ayat 30-31. didalam surah Al Ma&#8217;arij (70): 29 juga  menyebutkan demikian, kita diajarkan untuk tidak secara semau-maunya mengumbar dorongan syahwat itu, kecuali kepada istri yang telah dimiliki.</p>
<p><strong>QS Al Ma&#8217;arij (70): 29</strong><br />
&#8220;dan orang-orang yang memelihara kemaluan <strong>mereka</strong>, kecuali terhadap <strong>isteri-isteri</strong> mereka atau budak-budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. barang siapa mencari yang dibalik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas&#8221;</p>
<p>meskipun ayat di atas menyebut istri-istri dalam bentuk jamak (azwaajihim &#8211; istri-istri mereka) tetapi ini tidak bermakna secara spesifik menyebut istrinya banyak. karena laki-laki yang disebut dalam ayat tersebut juga berjumlah banyak -&#8217;mereka&#8217;.</p>
<p>islam telah memerintahkan umatnya untuk menikah, salah satunya untuk menyalurkan hasrat seks. beberapa ayatnya telah kita bahas.secara umum ayat-ayat tersebut hanya mengatakan agar kita menyalurkan nafsu itu secara legal, jika belum menikah maka tundukkanlah pandangan, memelihara kemaluan dan menjaga kesucian. bukan menambah jumlah istri.</p>
<p><strong>2. apakah poligami merupakan suatu perintah seperti disebutkan dalam Al Qur&#8217;an: &#8220;kawinilah wanita-wanita lain yang kamu senangi; dua, tiga atau empat&#8230;?</strong><br />
penganut poligami berpegang kuat pada ayat ini, yang dipahami secara sepenggal dan &#8220;ditekuk&#8221; mengikuti kepentingan mereka yang berpoligami karena alasan syahwat. bahkan karena kandungan &#8220;kalimat perintah (kawinilah), maka ada yang mengatakan bahwa poligami itu hukumnya &#8220;wajib&#8221; meskipun bersyarat.</p>
<p>sebenarnya ini adalah sebuah &#8220;kecerobohan&#8221; dalam memahami ayat tersebut. untuk memahami maknanya secara utuh kita harus mengetahui suasana di sekitar ayat itu, yaitu ayat-ayat sebelumdan sesudahnya. tidak boleh diambil satu ayat saja, atau diambil sepenggal kalimat.</p>
<p>Agus mustofa mengajak kita membaca dengan pikiran dan hati yang jernih tentang ayat-ayat poligami tersebut. benarkah Allah memerintahkan poligami atau sebenarnya sedang &#8220;menyindir&#8221; kita?</p>
<p>QS. An Nissa&#8217; (4):3<br />
&#8220;dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), <strong>maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. </strong>kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.</p>
<p>kalimat yang ditebalkan itulah yang menjadi pegangan penganut poligami. dan seringkali diambil sepotong. padahal kalimat itu tidak berdiri sendiri. ia menjadi bagian dari potongan kalimat sebelumnya yang terkait dengan perintah untuk berlaku adil kepada wanita-wanita yatim, karena dimulai dengan kata <em>&#8216;maka kawinilah&#8230;&#8217;</em> berarti ada sesuatu penyebab yang telah dibicarakan sebelumnya.<br />
dan, harus dicermati lagi, ternyata kalimat tentang wanita yatim itu pun merupakan bagian atau kelanjutan dari kalimat sebelumnya, yang termuat di ayat sebelumnya. karena, awalnya dimulai dengan kata <em>&#8216;dan jika&#8230;&#8217;</em></p>
<p>karena itu memperoleh pemahaman yang lebih utuh kita harus memeriksa ayat-ayat sebelum potongan kalimat itu. dan bahkan sesudahnya, karena masih terus terkait. inilah suasana ayat-ayat tersebut secara utuh.</p>
<p>QS. An Nissa&#8217; (4): 1<br />
&#8220;hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah <strong>menciptakan kamu dari diri yang satu</strong>, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripadanya keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta (tolong) satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan <strong>silaturahim</strong>. sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.</p>
<p>rangkaian ayat-ayat tersebut dimulai dengan cerita persaudaraan dan silaturahim. bahwa kita semua bersaudara, berasal dari nenek moyang yang sama. makanya, Allah memerintahkan kita untuk saling tolong menolong dan menjaga silaturahim di antara sesama manusia, semuanya karena dorongan takwa kepada Allah &#8211; lillahi ta&#8217;ala.</p>
<p>dan kemudian ayat itu dilanjutkan dengan ayat berikutnya<br />
QS. An Nissa&#8217; (4): 2<br />
&#8220;dan berikanlah kepada <strong>anak-anak yatim</strong> (yang sudah baligh) harta mereka, jangan kalian menukar yang baik dengan yang buruk dan janganlah kalian memakan harta mereka bersama harta kalian. sesungguhnya tindakan-tindakan itu, adalah dosa yang besar.</p>
<p>ayat kedua ini melanjutkan tema tolong-menolong dan silaturahim &#8211; di ayat sebelumnya &#8211; dengan tema perlindungan kepada anak-anak yatim. Allah memerintahkan agar kita membantu mengelola harta benda mereka. dan kemudian kita serahkan ketika mereka sudah beranjak dewasa.</p>
<p>setelah itu temanya mengerucut lagi kepada anak-anak yatim yang wanita. Allah membolehkan kita mengawini anak-anak yatim wanita yang tadinya berada di dalam perlindungan kita itu, ketika mereka sudah akil baligh. asalkan kita bisa berbuat adil terhadapnya. tidak memakan harta benda milik mereka, atau hak-hak lainnya.</p>
<p>akan tetapi jika kita khawatir tidak bisa maka berlaku adil kepadanya, maka kita diperintahkan untuk mengawini wanita lain saja : boleh dua, tiga atau empat &#8211; terserah. maka tersurat dalam ayat selanjutnya&#8230;</p>
<p>QS. An Nissa&#8217; (4):3<br />
&#8220;dan jika kamu <strong>takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim</strong> (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) <strong>seorang saja</strong>, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah <strong>lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya</strong></p>
<p>namun, ayat itu tidak berhenti pada potongan kalimat tersebut, tapi dilanjutkan lagi: kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) <strong>seorang saja</strong>, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah <strong>lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.</strong></p>
<p>kalimat ini sangat menarik, karena bersifat &#8220;mementahkan&#8221; kembali &#8220;perintah&#8221; berpoligami tersebut. jika tidak bisa berlaku adil, maka kawinilah satu orang saja. kenapa dimentahkan lagi oleh Allah? diberi alasannya: karena kawin satu itu lebih dekat kepada &#8216;tidak berbuat aniaya&#8217;</p>
<p>artinya dengan kata lain &#8211; kawin dua, tiga atau empat itu lebih dekat kepada menganiaya. istri tuanya teraniaya, anak-anaknya juga teraniaya, serta kerabat lainnya&#8230;misalnya ketika terjadi perceraian akibat tidak mampu mengelola konflik dalam perkawinan poligami.</p>
<p>padahal Allah tidak suka orang-orang yang menganiaya, baik menganiaya diri sendiri, apalagi menganiaya orang lain<br />
QS. Ali Imran (3): 57<br />
adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan <strong>Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat aniaya</strong> (zalim)</p>
<p>untuk memperoleh penegasan makna ayat ini, marilah kita teruskan tema yang diangkat dalam ayat-ayat tersebut.</p>
<p>QS. An Nissa&#8217; (4): 4-6<br />
&#8220;berikanlah <strong>maskawin </strong>(mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. kemudian jika mereka <strong>menyerahkan kepada kamu </strong>sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya&#8221;.<br />
&#8220;dan janganlah kamu serahkan kepada orang yang belum sempurna akalnya, harta (yang kamu kelola itu) yang dijadikan Allah sebagai <strong>pokok kehidupan</strong> (mereka). berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasilnya saja) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik&#8221;.<br />
&#8220;dan <strong>ujilah anak yatim</strong> itu sampai mereka cukup umur <strong>untuk kawin</strong>. kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (bisa mengelola harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. <strong>dan janganlah kamu makan harta anak yatim</strong> lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakan) sebelum mereka dewasa. barangsiapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa miskin , maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu)&#8221;.</p>
<p>sudah jelas, jika kita cermati&#8230;ternyata ayat-ayat yang sering dijadikan dasar untuk melakukan poligami itu adalah ayat-ayat perlindungan kepada anak-anak yatim. dan juga &#8220;sindiran&#8221; agar kita mengangkat martabat budak-budak wanita yang teraniaya, sebagai istri (QS. 4: 3)</p>
<p>bahkan sampai di ayat 6, kita melihat sendiri Allah masih fokus berbicara tentang perlindungan kepada anak-anak yatim itu. terutama yang terkait dengan harta dan nafkah mereka, diantaranya berbentuk pemberian suami berupa mahar. dan selebihnya adalah harta peninggalan orang tua mereka. kita tidak boleh mengambilnya secara batil.</p>
<p>pertanyaannya kemudian, mengapa ayat-ayat yang bernuansa perlindungan ini lantas berubah menjadi ayat-ayat syahwat? meskipun, diembel-embeli dengan syarat bisa berlaku adil&#8230;seperti biasa disuarakan oleh poligamir&#8230;</p>
<p>padahal, coba baca ayat berikut ini, Allah dengan tegas mengatakan bahwa kita tidak akan bisa berlaku adil kepada istri-istri kita, meskipun kita sangat ingin melakukannya. sekali lagi &#8211; diayat ini &#8211; Allah mementahkan &#8220;perintah&#8221; poligami itu</p>
<p>QS. An Nissa (4): 129<br />
&#8220;<strong>dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin melakukannya,</strong> karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada salah satu di antaranya), sehingga kamu biarkan lainnya terkatung-katung. dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari ketidak-adilan itu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang&#8221;.</p>
<p>Agus Mustofa mengajak kita lebih lanjut untuk menempatkan masalah poligami ini secara lebih proporsional. bahwa poligami bukanlah perintah, meskipun kalimatnya kalimat perintah, karena itu harus dipahami secara holistik terkait dengan kondisi yang mengiringinya.<br />
sebagai contoh adalah masalah perceraian. di dalam Al Qur&#8217;an, Allah juga menggunakan kalimat perintah untuk talak dan cerai, seperti yang digambarkan dalam QS.1: 231. akan tetapi bukan berarti Allah memerintahkan kita untuk bercerai, karena kalimat perintah itu terkait dengan kondisi yang mengikutinya. rasulullah pun menegaskan bahwa perbuatan yang diperbolehkan tetapi dibenci Allah adalah perceraian.</p>
<p>poligami di dalam islam adalah kasus khusus yang terkait erat dengan alasan-alasan perlindungan terhadap hak-hak wanita, sekaligus untuk memberikan penghargaan dan mengangkat martabat wanita. terutama di jaman yang para wanita memperoleh perlakuan tidak senonoh dan merendahkannya.</p>
<p>tidak selalu terjadi di jaman dulu. kini di era modern pun banyak wanita yang diperlakuakn secara memprihatinkan. dilecehkan, dipermainkan, dihina dan sekadar dijadikan sebagai pemuas nafsu belaka, baik secara legal didalam lembaga perkawinan, maupun diluar perkawinan dalam bentuk pelacuran atau bisnis porno lainnya.</p>
<p>Allah pun melarang mengawini wanita secara paksa atau mengawini hanya dengan alasan pemuas nafsu belaka. karena sebenarnyalah lembaga perkawinan adalah sebuah lembaga sakral dimana kita beribadah untuk meneruskan keturunan dan menyiapkan generasi islami yang tangguh di masa depan.</p>
<p>sebagai balasannya, Allah bakal memberiakn rasa tentram alias sakinah, rasa cinta alias mawaddah, dan rasa kasih sayang penuh keikhlasan alias ar rahmah di dalam rumah tangga.</p>
<p>sebagaimana Rasulullah menjalaninya selama 28 tahun bersama Siti Khadijah sampai wafatnya sang istri tercinta. satu-satunya istri yang sangat dicintai oleh rasulullah, sehingga sampai membuat cemburu Aisyah ketika beliau bercerita tentangnya. memang, Rasulullah melakukan poligami setelah itu, akan tetapi dengan tujuan dan alasan yang berbeda. untuk memenuhi tugas kerosulan beliau. untuk meneladankan dan mencontohkan sikap perlindungan kepada umat islam atas harkat dan martabat wanita. untuk memperbaiki peradaban dan menegakkan syariat islam. untuk memberikan pembatasan kepada perilaku poligami yang kebablasan yang telah dipraktekkan oleh berbagai bangsa sejak beribu abad yang lalu. </p>
<p>wallahu a&#8217;lam bishshawab</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serendipity55.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serendipity55.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serendipity55.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serendipity55.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serendipity55.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serendipity55.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serendipity55.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serendipity55.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serendipity55.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serendipity55.wordpress.com/263/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serendipity55.wordpress.com&blog=899410&post=263&subd=serendipity55&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serendipity55.wordpress.com/2009/05/02/ayat-ayat-poligami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/094a73ebc710b76421151a5b48793d25?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">serendipity55</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>is your emotion as your id?</title>
		<link>http://serendipity55.wordpress.com/2009/04/15/is-your-emotion-as-your-id/</link>
		<comments>http://serendipity55.wordpress.com/2009/04/15/is-your-emotion-as-your-id/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2009 07:39:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serendipity55</dc:creator>
				<category><![CDATA[Caliph]]></category>
		<category><![CDATA[belief]]></category>
		<category><![CDATA[character]]></category>
		<category><![CDATA[education]]></category>
		<category><![CDATA[musing]]></category>
		<category><![CDATA[psychology]]></category>
		<category><![CDATA[springkling]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[business]]></category>
		<category><![CDATA[choice]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serendipity55.wordpress.com/?p=260</guid>
		<description><![CDATA[sekedar sharing artikel Om Adi&#8230;what a great analysis of emotion. like it so much!
Hari Jumat kemarin saya memberikan seminar di Purwokerto mulai siang hingga sore hari. Selesai seminar kami berempat, saya , istri saya Stephanie, Bu Ely Susanti, dan Bapak Prasetyo Erlimus melanjutkan perjalanan menuju Jogjakarta karena besoknya, hari Sabtu, saya memberikan seminar di Univesitas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serendipity55.wordpress.com&blog=899410&post=260&subd=serendipity55&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>sekedar sharing artikel Om <a href="http://www.adiwgunawan.com/awg.php">Adi</a>&#8230;what a great analysis of emotion. like it so much!</p>
<p>Hari Jumat kemarin saya memberikan seminar di Purwokerto mulai siang hingga sore hari. Selesai seminar kami berempat, saya , istri saya Stephanie, Bu Ely Susanti, dan Bapak Prasetyo Erlimus melanjutkan perjalanan menuju Jogjakarta karena besoknya, hari Sabtu, saya memberikan seminar di Univesitas Gajah Mada.</p>
<p>Dalam perjalanan kami berempat mendiskusikan banyak hal. Salah satunya adalah tentang pentingnya kita melepaskan, atau kalau dalam bahasa terapi “release”, berbagai emosi negatif. Yang menjadi pertanyaan adalah, “Bagaimana kita tahu jika kita telah benar-benar melepas emosi negatif itu?” atau “Bagaimana caranya untuk bisa melepas emosi negatif itu selamanya?”</p>
<p>Satu contoh. Misalnya seorang kawan dekat menipu kita ratusan juta rupiah. Apa yang harus kita lakukan?<br />
<span id="more-260"></span></p>
<p>Tentu kita merasa marah, kecewa, jengkel, sakit hati, dendam, terluka, atau benci. Ada orang yang tetap tidak bersedia atau tidak tahu cara melepaskan emosi negatif ini. Pak Prasetyo bertanya, “Jika orang ini menawarkan kita satu kerjasama lagi, di bidang bisnis, kalau sudah release apakah kita akan ambil peluang ini? Jika kita menolak tawarannya, apakah ini berarti kita belum me-release sepenuhnya emosi negatif kita terhadap orang itu?”</p>
<p>Kita bisa ambil, bisa tidak. Semua bergantung pada nilai hidup atau value kita. Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, kita bisa serta merta menolak tawarannya. Namun hal ini bukan berarti kita masih menyimpan emosi negatif terhadap orang ini. Menolak tawaran yang secara kalkulasi bisnis bisa menghasilkan banyak uang tidak berarti kita masih punya kebencian terhadap orang ini.</p>
<p>“Lho, kalau kita menolak tawarannya, bukankah ini indikasi masih ada  perasaan marah di hati kita terhadap orang ini?”</p>
<p>Bisa ya, bisa tidak. Di sini dibutuhkan kejujuran dan keberaniaan menyelami perasaan sendiri. Benar, kita bisa saja menolak. Namun bila penolakan ini didasarkan pada suatu emosi negatif, bukan berdasarkan akal sehat yang berlandaskan nilai hidup maka ini jelas-jelas membuktikan kita belum release sepenuhnya. Jadi, yang menjadi ukurannya adalah, sekali lagi, perasaan kita. Apakah kita feel good atau tidak saat menolak tawaran itu. Jika kita bisa menolak dengan tetap feel good maka hal ini berarti kita telah benar-benar release.</p>
<p>Ini satu contoh nyata. Seorang klien saya, sebut saja Pak Budi, pernah berbisnis dengan rekannya. Dua kali Pak Budi ditipu dan dikhianati oleh rekannya. Dua kali pula Pak Budi marah besar, sangat kecewa, dan terluka. Cukup lama Pak Budi berusaha melepas emosi negatifnya terhadap kawannya. Tetap tidak bisa. Sampai saya membantunya, dengan teknik tertentu, melepas emosi itu untuk selamanya. Begitu emosinya berhasil di-release, Pak Budi merasa begitu lega, tenang, damai, sabar,dan benar-benar nyaman.</p>
<p>Saat ini bila Pak Budi bertemu rekannya ia bisa berbicara, bergurau, dan berdiskusi dengan tenang, nyaman, sama sekali tidak ada perasaan negatif.</p>
<p>“Lho, kok bisa. Bukankah klien ini masih ingat kejadian bahwa ia ditipu kawannya. Bahkan sampai dua kali?”</p>
<p>Benar. Pak Budi tetap bisa mengingat semuanya. Namun saya telah menetralisir emosi yang sebelumnya melekat di memorinya. Jadi, ia tetap bisa mengingat namun tidak ada emosi negatif lagi. Bahkan Pak Budi bisa berterima kasih, tentunya hanya di dalam hati dan tidak disampaikan secara terbuka,  kepada rekan yang telah menipunya karena telah mengajarkan pelajaran hidup yang sangat berharga. Pelajaran ini selanjutnya digunakan untuk mengembangkan dirinya dan meningkatkan kebijaksanaan klien saya.</p>
<p>Nah, saya bertanya kepada klien saya ini, “Pak, bila anda mendapat tawaran kerjasama dari rekan anda ini lagi, apakah anda akan menerima atau menolak?”</p>
<p>Pak Budi dengan tegas menjawab bahwa ia akan menolak.</p>
<p> “Lho, bukankah Bapak sudah me-release semua emosi negatif Bapak terhadap rekan Bapak itu?”, kejar saya.</p>
<p>“Betul Pak. Bapak telah membantu saya me-release semua emosi negatif itu. Dan saya belajar banyak dari pengalaman ini. Alasan saya tidak mau bekerja sama lagi dengan rekan saya ini bukan karena saya membenci dirinya. Saya hanya menggunakan akal sehat saya. Saya menggunakan kebijaksanaan saya. Jika ia bisa menipu saya sampai dua kali, dan ini jujur yang goblok adalah saya sendiri kok ya bisa sampai ditipu dua kali, maka besar kemungkinan ia bisa melakukan hal yang sama kepada saya di masa depan. Yang lebih penting lagi, dari kejadian yang saya alami, telah terbukti bahwa value atau nilai-nilai hidup kita, termasuk value yang melandasi bisnis, tidak sejalan. Nah, kalau value-nya nggak cocok lebih banyak jangan melakukan kerjasama. Kalau saya terima tawarannya dan ditipu lagi maka saya harus cari Bapak lagi untuk membantu melepas emosi negatif saya. Saya bisa mengubah diri saya namun saya tidak mengubah rekan saya”, jawab Pak Budi dengan penuh kesadaran dan tenang. </p>
<p>Pak Budi saat ini justru sangat kagum pada rekannya. Mengapa kagum? Karena rekannya ini sukses menipu dirinya sampai dua kali. Luar biasa, kan? Ini yang disebut dengan peningkatan level kesadaran diri dan ekspansi kesadaran.</p>
<p>Menyambung pembahasan di atas, apakah kita bisa menerima tawaran orang yang telah menyakiti kita?</p>
<p>Bisa. Bila kita menerima tawaran ini maka yang bermain adalah dua jenis value. Value pertama adalah value tentang kesetiaan, integritas, dan kejujuran. Anda tahu rekan anda tidak jujur pada anda. Di sisi lain, ada value lain, yang ngurusin duit, yang berkata, “Hei, biarpun dia pernah nipu kamu, tapi tawarannya kali ini bisa memberikan hasil yang sangat besar. Nggak apa-apa deh kamu marah sama dia. Yang penting duitnya bisa didapat.”</p>
<p>Anda lihat bagaimana dua value sedang “bertempur”. Yang menjadi pemenang adalah value yang berhasil memunculkan emosi dengan bobot yang lebih berat. Jika perasaan marah atau terluka “bobotnya” kalah dengan perasan “nikmat” karena punya uang banyak maka anda akan menerima tawaran kerjasama itu. Demikian pula sebaliknya. Bila emosi marah ini lebih kuat daripada perasaan “nikmat” punya uang banyak maka anda pasti akan menolak tawaran kerjasama.</p>
<p>Anda jelas sekarang? Ingat, seperti yang selalu saya sampaikan, “Value adalah timbangan mental yang menentukan setiap keputusan yang kita buat.”</p>
<p>Hati-hati dengan value anda. Kita perlu jeli melakukan pengamatan dan analisis terhadap value. Ini ada kisah klien saya yang lain, sebut saja Pak Johan. Klien ini berkata bahwa ia ingin membantu rekannya yang sedang mengalami kesulitan keuangan. Untuk itu Pak Johan melakukan kerjasama bisnis dengan rekannya.</p>
<p>Bila dilihat sekilas tujuan Pak Johan sungguh mulia, ingin membantu rekan. Setelah satu tahun kerjasama mereka berakhir. Ujung-ujungnya Pak Johan berkata, “Ternyata value kita tidak cocok. Dulu waktu memulai kerjasama dengan rekan saya ini, hati saya nggak enak. Suara hati saya menolak. Tapi tetap saya teruskan. Bahkan istri saya pun berkata jangan. Tetap saya teruskan. Saya menyesal karena tidak mendengarkan suara hati saya dan intuisi istri saya.”</p>
<p>Selidik punya selidik ternyata saat Pak Johan menerima tawaran kerjasama, yang bermain adalah keserakahannya. Ia ingin dapat hasil yang sangat besar dalam waktu sesingkat-singkatnya. Keserakahan menutupi akal sehatnya dalam bentuk kamuflase “ketulusan” ingin membantu rekan yang mengalami kesulitan keuangan.</p>
<p>Ck.. ck.. ck.. anda lihat. Betapa halusnya permainan pikiran. Kalau tidak hati-hati kita bisa ditipu habis-habisan oleh pikiran. Ada yang mengatakan, “Mind is a very cruel master but a very useful servant”. Itulah sebabnya kita perlu berani bersikap jujur dan tegas kepada diri sendiri. Kita bukanlah pikiran kita. Kita bukanlah value kita. Dan kita juga bukan emosi kita.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serendipity55.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serendipity55.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serendipity55.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serendipity55.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serendipity55.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serendipity55.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serendipity55.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serendipity55.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serendipity55.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serendipity55.wordpress.com/260/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serendipity55.wordpress.com&blog=899410&post=260&subd=serendipity55&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serendipity55.wordpress.com/2009/04/15/is-your-emotion-as-your-id/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/094a73ebc710b76421151a5b48793d25?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">serendipity55</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>matahari dalam diri</title>
		<link>http://serendipity55.wordpress.com/2009/04/11/matahari-di-dalam-diri/</link>
		<comments>http://serendipity55.wordpress.com/2009/04/11/matahari-di-dalam-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Apr 2009 04:17:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serendipity55</dc:creator>
				<category><![CDATA[belief]]></category>
		<category><![CDATA[catatan akhir pekan]]></category>
		<category><![CDATA[education]]></category>
		<category><![CDATA[musing]]></category>
		<category><![CDATA[springkling]]></category>
		<category><![CDATA[time]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serendipity55.wordpress.com/2009/04/11/matahari-di-dalam-diri/</guid>
		<description><![CDATA[nice writing&#8230;just copas  
Hidup penuh dengan jejak kaki. Demikian sejarah pernah bertutur pada manusia. Sayangnya, logika dan kata-kata manusia tidak dan tidak akan pernah bisa memotret jejak-jejak kaki tadi sebagaimana adanya. Logika dan kata-kata, di satu sisi memang jembatannya pemahaman, di lain sisi ia juga suka memperkosa. Karena pemerkosaan jenis terakhir inilah, kemudian pengetahuan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serendipity55.wordpress.com&blog=899410&post=256&subd=serendipity55&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>nice writing&#8230;just copas <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Hidup penuh dengan jejak kaki. Demikian sejarah pernah bertutur pada manusia. Sayangnya, logika dan kata-kata manusia tidak dan tidak akan pernah bisa memotret jejak-jejak kaki tadi sebagaimana adanya. Logika dan kata-kata, di satu sisi memang jembatannya pemahaman, di lain sisi ia juga suka memperkosa. Karena pemerkosaan jenis terakhir inilah, kemudian pengetahuan manusia manapun jadi tidak sempurna. Di tangan manusia-manusia yang digiring kepintaran, ketidaksempurnaan terakhir kemudian menjadi bahan wacana. Ada juga yang membuatnya sebagai sarana tawar menawar kepentingan, alat untuk melakukan penyerangan, bahan-bahan untuk memamerkan kehebatan. Ada yang bertanya, tidakkah ini hanya bunga-bunga kehidupan yang membuat semuanya jadi kaya warna?</p>
<p>Di tangan manusia-manusia bijaksana nasib ketidaksempurnaan pengetahuan manusia lain lagi. Bagi mereka, ketidaksempurnaan ada untuk mengajarkan kesempurnaan pada manusia. Ada juga yang menyebutkan, kalau hidup ditujukan justru untuk melengkapi sisi-sisi pemahaman yang belum sempurna. Bagi pejalan-pejalan kaki di jalan jiwa lain lagi. Ketidaksempurnaan ada untuk menjadi lahan-lahan latihan jiwa. Bukankah setelah tertabrak berbagai karang kehidupan, jatuh dalam banyak jurang kehidupan, kemudian jiwa bisa pulang dengan tenang?<br />
<span id="more-256"></span><br />
Ah entahlah, pejalan-pejalan kaki di jalan kejernihan memang hanya boleh bertanya. Jawaban memang senantiasa diserahkan kepada mereka yang mendengar ketika pertanyaan dilontarkan. Tidak semua suka tentu saja. Dan itupun tidak apa-apa. Yang jelas, apapun pertanyaannya, apapun jawabannya, siapapun yang bertanya, siapapun yang menjawab, ada sebuah gejala yang terus menerus berjalan : waktu! Seperti jarum jam di dinding, berjalan, berjalan dan berjalan. Kadang ia berhenti karena baterrynya mati, cuman waktu yang ia wakili tidak membutuhkan battery dan tenaga manapun. Ia adalah tenaga itu sendiri, ia adalah gerakan itu sendiri, ia adalah hidup itu sendiri.</p>
<p>Sebagai manusia biasa, kita kerap baru tersadar, kadang malah terkejut, ketika melihat putera-puteri di rumah sudah besar. Tatkala merasakan badan tidak lagi sekuat dulu. Mana kala melihat orang-orang yang lebih muda dipanggil yang kuasa. Logika dan kata-kata manusiapun memberikan judul : tua. Dan judul terakhirpun tidak sama pemahamannya. Ada yang mengkaitkannya dengan badan yang berbau tanah. Ada yang menyebutnya dengan masa-masa panen dalam hidup. Ada juga yang meletakkannya sebagai waktu membalas dendam perhatian ke anak cucu.</p>
<p>Dan tentu saja, terserah sepenuhnya pada pribadi masing-masing. Yang jelas, ada yang mengkaitkan umur tua dengan perlambang alam yang bernama matahari. Bagi yang melihat beban kehidupan sebagai serangkaian hal yang memberatkan, tua adalah tanda-tanda matahari mau tenggelam. Bagi sahabat yang melihat beban sebagai vitamin-vitamin yang memperkuat, tua adalah awal terbitnya matahari di dalam diri. Ada yang bertanya, matahari apa yang terbit di dalam diri?</p>
<p>Inilah keterbatasan pemahaman melalui kata-kata dan logika. Pertama, semua hal ditanyakan dan mau dipahami dulu, baru kemudian bergerak dan berjalan untuk menggali. Seolah-olah tanpa bertanya dan paham manusia akan masuk jurang. Kedua, setiap pencaharian yang boros logika dan kata-kata, membuat pencaharian berjalan keluar. Kemudian mengabaikan sumur tanpa dasar yang ada di dalam. Ketiga, begitu sebuah pemahaman terpetakan oleh logika dan kata-kata, manusia terpental jauh dari dirinya sendiri.</p>
<p>Diterangi cahaya pemahaman seperti ini, ada seorang sahabat pernah berbisik. Kadang, ada saatnya perjalanan pemahaman mirip dengan seorang anak yang baru bisa belajar bicara, kemudian bertanya pada mamanya: mana papa? Dan begitu telunjuk mama menunjuk ke seorang lelaki, setiap bayi langsung mempercayainya. Dan seumur hidup menyebut lelaki tadi dengan sebutan papa. Jarang sekali terjadi ? atau mungkin malah tidak pernah ? begitu mamanya menunjuk seorang lelaki, kemudian anak bertanya ulang : itu papa atau teman selingkuh?</p>
<p>Bagi sahabat yang diperkuda kepintaran, mungkin cara seperti ini disebut dengan kebodohan dan ketololan. Cuman pada kehidupan manapun yang menyelami lapisan-lapisan keihklasan secara mengagumkan, dan kemudian berpelukan dengan kehidupan secara penuh penerimaan, inilah awal terbitnya matahari di dalam diri. Tidak ada pertanyaan di sana, apa lagi penolakan. Sebutan pintar dan hebat tidak lagi menggoda. Kaya dan terkemuka, juga serupa. Dikasih terimakasih, tidak dikasih juga terimakasih. Seorang pejalan kaki di jalan ini pernah berucap, ketika penafsiran kita tentang semesta berhenti, kejernihan yang mendalam jadi terbuka. Kejernihan itu meliputi segala waktu, tempat dan perubahan.</p>
<p>Pejalan kaki yang lain berucap pelan, pelepasan adalah jantung kehidupan. Tatkala manusia sudah terlepas dari harapan, pendapat dan apalagi ketakutan, ia memasuki wilayah-wilayah kebebasan yang berkelimpahan. Dalam bahasa lain, ada yang berbisik, seluruh hidup adalah proses pelepasan. Ketika manusia mengalami pelepasan, bukahkah muncul great sun of wisdom dari dalam dirinya? Ada juga yang ragu-ragu dan bertanya, apa yang tersisa dalam kehidupan pasca pelepasan ?</p>
<p>Yang tersisa di sana hanya satu : kerja, kerja dan kerja. Bedanya dengan kerja orang kebanyakan, bukankah kerja adalah bentuk cinta yang paling nyata? Bukankah melalui kerja Tuhan menjadi nyata? </p>
<p>Oleh : Gede Prama </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serendipity55.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serendipity55.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serendipity55.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serendipity55.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serendipity55.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serendipity55.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serendipity55.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serendipity55.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serendipity55.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serendipity55.wordpress.com/256/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serendipity55.wordpress.com&blog=899410&post=256&subd=serendipity55&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serendipity55.wordpress.com/2009/04/11/matahari-di-dalam-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/094a73ebc710b76421151a5b48793d25?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">serendipity55</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>so what?</title>
		<link>http://serendipity55.wordpress.com/2009/04/04/so-what/</link>
		<comments>http://serendipity55.wordpress.com/2009/04/04/so-what/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Apr 2009 05:13:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serendipity55</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan akhir pekan]]></category>
		<category><![CDATA[daily]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serendipity55.wordpress.com/?p=250</guid>
		<description><![CDATA[happy weekend, pal&#8230;
i found a quote from my friend which i agreed, she said : &#8220;some people might say life sucks or life is full of shit,while other people say life is beautiful, life is full of surprises or life is cruel, i agree with all those&#8230;. life is whatever you think of it and [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serendipity55.wordpress.com&blog=899410&post=250&subd=serendipity55&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>happy weekend, pal&#8230;<br />
i found a quote from my friend which i agreed, she said : <em>&#8220;some people might say life sucks or life is full of shit,while other people say life is beautiful, life is full of surprises or life is cruel, i agree with all those&#8230;. life is whatever you think of it and everything you think of it&#8221;&#8230;</em></p>
<p>this early april&#8230;feel so soon, and i think i step so slow, but i&#8217;m learning to always thanks to Allah SWT for what i have now. </p>
<p>getting thirty doesn&#8217;t mean have to worry about what am i for me (thanks Ya Rabb for giving me answer to every question i have&#8230;), it&#8217;s more focus on what i do today for mankind (my religion, my family, etc)</p>
<p>many things are changing, even the universe with its climate change&#8217;s issue&#8230; infact, we have role for the change but we always think (conscious) it&#8217;s outside of us. </p>
<p>Talking about changing&#8230;sometimes, we want to change our life but we&#8217;re realizing how many efforts we tried, how many words we used for praying&#8230;we&#8217;re not going anywhere. the case, it&#8217;s about our life. Morris Alder wisely said &#8220;Our prayers are answered not when we are given what we ask but when we are challenged to be what we can be&#8221;&#8230;<br />
<span id="more-250"></span><br />
Then, i learned that life is not only about fulfilling what we need, i stopped being tricky and only demand what is my &#8220;right&#8221;, but trying to ask what i have to do (my obligation) to what i believe, reality and the truthness.</p>
<p>this blog is a lil media, part of my effort i used for expressing it&#8230;also to learn and do some mistaken to get more understanding about life and its aim&#8230;</p>
<p>in my thirty, i also want and learn to be realize, conscious in my subconscious&#8230;release from fear, arrogant, anger, greedy, and all negative emotion, coz it is not truly human really are, it&#8217;s only a choice i can choose but sometimes out of my control and could distract me&#8230;i even not my thought for sure&#8230;</p>
<p>moreover, i wanna live in happiness&#8230;and make sure that i&#8217;m on it, coz thanks God&#8230;happiness is just a decision way. </p>
<p>so, what? live your life, pal!</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serendipity55.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serendipity55.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serendipity55.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serendipity55.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serendipity55.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serendipity55.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serendipity55.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serendipity55.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serendipity55.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serendipity55.wordpress.com/250/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serendipity55.wordpress.com&blog=899410&post=250&subd=serendipity55&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serendipity55.wordpress.com/2009/04/04/so-what/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/094a73ebc710b76421151a5b48793d25?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">serendipity55</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>saya belajar&#8230;</title>
		<link>http://serendipity55.wordpress.com/2009/04/01/saya-belajar/</link>
		<comments>http://serendipity55.wordpress.com/2009/04/01/saya-belajar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 04:24:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serendipity55</dc:creator>
				<category><![CDATA[Caliph]]></category>
		<category><![CDATA[character]]></category>
		<category><![CDATA[musing]]></category>
		<category><![CDATA[springkling]]></category>
		<category><![CDATA[time]]></category>
		<category><![CDATA[choice]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[ordinary me]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serendipity55.wordpress.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[Saya belajar, bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain mencintai saya&#8230;
Saya hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang saya cintai&#8230;
Saya belajar, bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun
kepercayaan dan hanya beberapa detik saja untuk menghancurkannya&#8230;
Saya belajar, bahwa orang yang saya kira adalah orang yang jahat,
justru adalah orang yang membangkitkan semangat hidup saya serta orang yang begitu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serendipity55.wordpress.com&blog=899410&post=245&subd=serendipity55&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Saya belajar, bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain mencintai saya&#8230;<br />
Saya hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang saya cintai&#8230;</p>
<p>Saya belajar, bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun<br />
kepercayaan dan hanya beberapa detik saja untuk menghancurkannya&#8230;</p>
<p>Saya belajar, bahwa orang yang saya kira adalah orang yang jahat,<br />
justru adalah orang yang membangkitkan semangat hidup saya serta orang yang begitu perhatian pada saya&#8230;.</p>
<p>Saya belajar, bahwa persahabatan sejati senantiasa bertumbuh walau<br />
dipisahkan oleh jarak yang jauh.<br />
Beberapa diantaranya melahirkan cinta sejati&#8230;<br />
<span id="more-245"></span><br />
Saya belajar, bahwa jika seseorang tidak menunjukkan perhatian seperti<br />
yang saya inginkan, bukan berarti bahwa dia tidak mencintai saya&#8230;.</p>
<p>Saya belajar, bahwa sebaik-baiknya pasangan itu, mereka pasti pernah melukai perasaan saya,<br />
dan untuk itu saya harus memaafkannya&#8230;.</p>
<p>Saya belajar, bahwa saya harus belajar mengampuni diri sendiri dan oranglain, kalau tidak mau dikuasai perasaan bersalah terus menerus&#8230;.</p>
<p>Saya belajar, bahwa tidak masalah seberapa buruknya patah hati itu,<br />
dunia tidak pernah berhenti hanya gara-gara kesedihan saya&#8230;</p>
<p>Saya belajar, bahwa saya tidak dapat merubah orang yg saya sayangi, tapi semua itu tergantung dari diri mereka sendiri&#8230;.</p>
<p>Saya belajar, bahwa lingkungan dapat mempengaruhi pribadi saya,<br />
tapi saya harus bertanggung jawab untuk apa yang saya telah lakukan&#8230;.</p>
<p>Saya belajar, bahwa dua manusia dapat melihat sebuah benda, tapi kadang dari sudut pandang yang berbeda&#8230;.</p>
<p>Saya belajar, bahwa tidaklah penting apa yang saya miliki, tapi yang penting adalah siapa saya ini sebenarnya&#8230;.</p>
<p>Saya belajar, bahwa tidak ada yang instant atau serba cepat di dunia ini,<br />
semua butuh proses dan pertumbuhan, kecuali saya ingin sakit hati&#8230;.</p>
<p>Saya belajar, bahwa saya harus memilih apakah menguasai sikap dan emosi atau sikap dan emosi itu yang menguasai diri saya&#8230;</p>
<p>Saya belajar, bahwa saya punya hak untuk marah, tetapi itu bukan berarti saya harus benci dan berlaku bengis&#8230;.</p>
<p>Saya belajar, bahwa kata-kata manis tanpa tindakan adalah saat perpisahan dengan orang yang saya cintai&#8230;</p>
<p>Saya belajar, bahwa orang-orang yang saya kasihi adalah mereka yang sering segera diambil dari kehidupan saya&#8230;</p>
<p>Love doesn&#8217;t make the world go round<br />
Love is what makes the ride worth while</p>
<p>copas <a href="http://www.facebook.com/home.php?#/profile.php?id=1037882123&amp;v=feed&amp;story_fbid=66600385941">notes in Widi&#8217;s FB</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serendipity55.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serendipity55.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serendipity55.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serendipity55.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serendipity55.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serendipity55.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serendipity55.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serendipity55.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serendipity55.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serendipity55.wordpress.com/245/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serendipity55.wordpress.com&blog=899410&post=245&subd=serendipity55&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serendipity55.wordpress.com/2009/04/01/saya-belajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/094a73ebc710b76421151a5b48793d25?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">serendipity55</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>