ayat-ayat poligami

salam penuh syukur atas limpahan rahmat Allah SWT yang tak terputus kepada hamba-Nya dan sholawat kepada junjungan Rasulullah SAW…

beberapa minggu yang lalu, dalam momen peringatan hari Kartini sebuah stasiun TV menyajikan biografi ibu Kartini dengan sangat personal tentang kehidupannya serta pandangannya pada perilaku sistem politik, budaya, agama dan sosial terhadap perempuan saat itu. tersirat bahwa agama dan budaya sangat berperan kuat dalam ke”marginal”an perempuan. Kartini juga menceritakan kepasrahannya ketika dia dinikahkan dengan seorang laki-laki pilihan orangtuanya dan dijadikan istri ke-4 pada saat itu.

gerakan emansipasi saat ini terus menyuarakan kesetaraan gender. sisi baik yang berkembang adalah bahwa wanita semakin sadar peran sertanya dalam pembangunan (domestik maupun publik) juga sangat penting. sisi buruknya gerakan emansipasi tanpa landasan pemikiran yang kuat akan bertolak belakang dengan nilai-nilai agama, bahkan kesalahan konteks dalam pemahaman tentang kesetaraan itu sendiri carut marut karna melawan fitrahnya sendiri. gerakan emansipasi kemudian menyalahkan agama yang mempunyai andil dalam sistem ketidakadilan hak asasi manusia, khususnya bagi perempuan.

kontroversial tentang praktek poligami yang diperbolehkan dalam islam adalah salah satu propaganda dari para pejuang feminisme. bahkan tidak sedikit umat muslimin dan mayoritas muslimat yang menolak implementasi poligami.

kebenaran diperbolehkannya poligami tersurat dalam kitab suci Al Qur’an dan hal tersebut telah dipraktekkan oleh Rasulullah SAW. lalu dimanakah letak kesalahannya? bagaimanakah kita memahami ayat-ayat yang berkenaan dengan poligami? benarkah poligami sebagai jalan untuk mengumbar syahwat?

beberapa buku dan diskusi yang mengupas tentang poligami, terkadang sangat subyektif dan praktikal tanpa melihat kembali pedoman dasar pelaksanaannya yaitu kitabullah dan sunnatullah. kemudian saya membaca buku karangan “Agus Mustofa” yang berjudul “Poligami yuuk!”, yang menghapus keraguan saya tentang keadilan dan kebenaran dalam ajaran islam berkenaan dengan poligami. bismillahirahmanirrahiim….

mari kita bahas…..

1. benarkah poligami sebagai jalan untuk mengumbar syahwat?
syahwat adalah fitrah manusia, tidak bersifat buruk, juga tidak bersifat baik…netral. bergantung kepada orang yang memilikinya dan melakukannya.
seringkali kita mendengar orang berpoligami dengan alasan: “daripada berbuat zina, lebih baik kita berpoligami”. mengapa berpoligami selalu dikaitkan dengan perzinahan dan perselingkuhan? darimana asal-usul alasan ini muncul? karna di dalam Al Qura’an ternyata tidak ada satu ayatpun yang mengaitkan bolehnya melakukan poligami disebabkan alasan-alasan takut terjadi perzinahan dan perselingkuhan. Agus Mustofa mengatakan pula dalam bukunya bahwa telah terjadi reduksi kepahaman tentang makna poligami dalam konsep islam. dari alasan-alasan yang bersifat sosial politik menjadi alasan yang bersifat seksualitas. dan ini harus diluruskan, karena telah memunculkan persepsi yang sangat rancu dan menyesatkan umat.

lebih lanjut dalam pengamatan terhadap sekian banyak “ayat syahwat”, Agus tidak menemukan keterkaitannya dengan poligami. demikian pula sebaliknya, ayat-ayat poligami tidak dikaitkan dengan ayat-ayat syahwat. beberapa diantaranya adalah berikut ini….
kata syahwat dalam Al Qur’an hanya ditemukan 2 kali, dan menariknya hanya digunakan untuk menggambarkan dorongan seksual yang menyimpang, seperti homoseksual…

QS. An Naml (27): 55
“mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) syahwat (mu), bukan (mendatangi) wanita? sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)”.

QS. Al A’raaf (7): 81
“sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan syahwatmu (kepada mereka), bukan kepada wanita, sungguh kamu ini adalah kaum yang melampaui batas”

sedangkan dorongan nafsu seks kepada perempuan atau istri diistilahkan dengan lebih halus, yaitu ‘bercampur’ atau ‘bergaul’..

QS. Al Baqarah (2): 187
“dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, (tapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid, itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada manusia, supaya mereka bertakwa”.

adalah sangat menarik, Allah mengumpamakan istri sebagai pakaian bagi suami, dan suami adalah pakaian bagi istrinya. sedangkan nafsu digambarkan sebagai dorongan halus yang bersifat fitrah. bukan menggebu-gebu dan tidak terkendali seperti syahwat alias dorongan seks yang menyimpang dan sekedar fisikal.

perkara menahan dorongan nafsu seks maka Allah memerintahkan menundukkan pandangan, memelihara kemaluan dan menjaga kesucian, baik dia laki-laki maupun perempuan (ditujukan kepada orang-orang yang belum menikah). hal ini dijelaskan secara berurutan dalam surah An Nuur ayat 30-31. didalam surah Al Ma’arij (70): 29 juga menyebutkan demikian, kita diajarkan untuk tidak secara semau-maunya mengumbar dorongan syahwat itu, kecuali kepada istri yang telah dimiliki.

QS Al Ma’arij (70): 29
“dan orang-orang yang memelihara kemaluan mereka, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. barang siapa mencari yang dibalik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas”

meskipun ayat di atas menyebut istri-istri dalam bentuk jamak (azwaajihim – istri-istri mereka) tetapi ini tidak bermakna secara spesifik menyebut istrinya banyak. karena laki-laki yang disebut dalam ayat tersebut juga berjumlah banyak -‘mereka’.

islam telah memerintahkan umatnya untuk menikah, salah satunya untuk menyalurkan hasrat seks. beberapa ayatnya telah kita bahas.secara umum ayat-ayat tersebut hanya mengatakan agar kita menyalurkan nafsu itu secara legal, jika belum menikah maka tundukkanlah pandangan, memelihara kemaluan dan menjaga kesucian. bukan menambah jumlah istri.

2. apakah poligami merupakan suatu perintah seperti disebutkan dalam Al Qur’an: “kawinilah wanita-wanita lain yang kamu senangi; dua, tiga atau empat…?
penganut poligami berpegang kuat pada ayat ini, yang dipahami secara sepenggal dan “ditekuk” mengikuti kepentingan mereka yang berpoligami karena alasan syahwat. bahkan karena kandungan “kalimat perintah (kawinilah), maka ada yang mengatakan bahwa poligami itu hukumnya “wajib” meskipun bersyarat.

sebenarnya ini adalah sebuah “kecerobohan” dalam memahami ayat tersebut. untuk memahami maknanya secara utuh kita harus mengetahui suasana di sekitar ayat itu, yaitu ayat-ayat sebelumdan sesudahnya. tidak boleh diambil satu ayat saja, atau diambil sepenggal kalimat.

Agus mustofa mengajak kita membaca dengan pikiran dan hati yang jernih tentang ayat-ayat poligami tersebut. benarkah Allah memerintahkan poligami atau sebenarnya sedang “menyindir” kita?

QS. An Nissa’ (4):3
“dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

kalimat yang ditebalkan itulah yang menjadi pegangan penganut poligami. dan seringkali diambil sepotong. padahal kalimat itu tidak berdiri sendiri. ia menjadi bagian dari potongan kalimat sebelumnya yang terkait dengan perintah untuk berlaku adil kepada wanita-wanita yatim, karena dimulai dengan kata ‘maka kawinilah…’ berarti ada sesuatu penyebab yang telah dibicarakan sebelumnya.
dan, harus dicermati lagi, ternyata kalimat tentang wanita yatim itu pun merupakan bagian atau kelanjutan dari kalimat sebelumnya, yang termuat di ayat sebelumnya. karena, awalnya dimulai dengan kata ‘dan jika…’

karena itu memperoleh pemahaman yang lebih utuh kita harus memeriksa ayat-ayat sebelum potongan kalimat itu. dan bahkan sesudahnya, karena masih terus terkait. inilah suasana ayat-ayat tersebut secara utuh.

QS. An Nissa’ (4): 1
“hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripadanya keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta (tolong) satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

rangkaian ayat-ayat tersebut dimulai dengan cerita persaudaraan dan silaturahim. bahwa kita semua bersaudara, berasal dari nenek moyang yang sama. makanya, Allah memerintahkan kita untuk saling tolong menolong dan menjaga silaturahim di antara sesama manusia, semuanya karena dorongan takwa kepada Allah – lillahi ta’ala.

dan kemudian ayat itu dilanjutkan dengan ayat berikutnya
QS. An Nissa’ (4): 2
“dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah baligh) harta mereka, jangan kalian menukar yang baik dengan yang buruk dan janganlah kalian memakan harta mereka bersama harta kalian. sesungguhnya tindakan-tindakan itu, adalah dosa yang besar.

ayat kedua ini melanjutkan tema tolong-menolong dan silaturahim – di ayat sebelumnya – dengan tema perlindungan kepada anak-anak yatim. Allah memerintahkan agar kita membantu mengelola harta benda mereka. dan kemudian kita serahkan ketika mereka sudah beranjak dewasa.

setelah itu temanya mengerucut lagi kepada anak-anak yatim yang wanita. Allah membolehkan kita mengawini anak-anak yatim wanita yang tadinya berada di dalam perlindungan kita itu, ketika mereka sudah akil baligh. asalkan kita bisa berbuat adil terhadapnya. tidak memakan harta benda milik mereka, atau hak-hak lainnya.

akan tetapi jika kita khawatir tidak bisa maka berlaku adil kepadanya, maka kita diperintahkan untuk mengawini wanita lain saja : boleh dua, tiga atau empat – terserah. maka tersurat dalam ayat selanjutnya…

QS. An Nissa’ (4):3
“dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya

namun, ayat itu tidak berhenti pada potongan kalimat tersebut, tapi dilanjutkan lagi: kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

kalimat ini sangat menarik, karena bersifat “mementahkan” kembali “perintah” berpoligami tersebut. jika tidak bisa berlaku adil, maka kawinilah satu orang saja. kenapa dimentahkan lagi oleh Allah? diberi alasannya: karena kawin satu itu lebih dekat kepada ‘tidak berbuat aniaya’

artinya dengan kata lain – kawin dua, tiga atau empat itu lebih dekat kepada menganiaya. istri tuanya teraniaya, anak-anaknya juga teraniaya, serta kerabat lainnya…misalnya ketika terjadi perceraian akibat tidak mampu mengelola konflik dalam perkawinan poligami.

padahal Allah tidak suka orang-orang yang menganiaya, baik menganiaya diri sendiri, apalagi menganiaya orang lain
QS. Ali Imran (3): 57
adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat aniaya (zalim)

untuk memperoleh penegasan makna ayat ini, marilah kita teruskan tema yang diangkat dalam ayat-ayat tersebut.

QS. An Nissa’ (4): 4-6
“berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya”.
“dan janganlah kamu serahkan kepada orang yang belum sempurna akalnya, harta (yang kamu kelola itu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan (mereka). berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasilnya saja) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik”.
“dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (bisa mengelola harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakan) sebelum mereka dewasa. barangsiapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa miskin , maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu)”.

sudah jelas, jika kita cermati…ternyata ayat-ayat yang sering dijadikan dasar untuk melakukan poligami itu adalah ayat-ayat perlindungan kepada anak-anak yatim. dan juga “sindiran” agar kita mengangkat martabat budak-budak wanita yang teraniaya, sebagai istri (QS. 4: 3)

bahkan sampai di ayat 6, kita melihat sendiri Allah masih fokus berbicara tentang perlindungan kepada anak-anak yatim itu. terutama yang terkait dengan harta dan nafkah mereka, diantaranya berbentuk pemberian suami berupa mahar. dan selebihnya adalah harta peninggalan orang tua mereka. kita tidak boleh mengambilnya secara batil.

pertanyaannya kemudian, mengapa ayat-ayat yang bernuansa perlindungan ini lantas berubah menjadi ayat-ayat syahwat? meskipun, diembel-embeli dengan syarat bisa berlaku adil…seperti biasa disuarakan oleh poligamir…

padahal, coba baca ayat berikut ini, Allah dengan tegas mengatakan bahwa kita tidak akan bisa berlaku adil kepada istri-istri kita, meskipun kita sangat ingin melakukannya. sekali lagi – diayat ini – Allah mementahkan “perintah” poligami itu

QS. An Nissa (4): 129
dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin melakukannya, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada salah satu di antaranya), sehingga kamu biarkan lainnya terkatung-katung. dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari ketidak-adilan itu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Agus Mustofa mengajak kita lebih lanjut untuk menempatkan masalah poligami ini secara lebih proporsional. bahwa poligami bukanlah perintah, meskipun kalimatnya kalimat perintah, karena itu harus dipahami secara holistik terkait dengan kondisi yang mengiringinya.
sebagai contoh adalah masalah perceraian. di dalam Al Qur’an, Allah juga menggunakan kalimat perintah untuk talak dan cerai, seperti yang digambarkan dalam QS.1: 231. akan tetapi bukan berarti Allah memerintahkan kita untuk bercerai, karena kalimat perintah itu terkait dengan kondisi yang mengikutinya. rasulullah pun menegaskan bahwa perbuatan yang diperbolehkan tetapi dibenci Allah adalah perceraian.

poligami di dalam islam adalah kasus khusus yang terkait erat dengan alasan-alasan perlindungan terhadap hak-hak wanita, sekaligus untuk memberikan penghargaan dan mengangkat martabat wanita. terutama di jaman yang para wanita memperoleh perlakuan tidak senonoh dan merendahkannya.

tidak selalu terjadi di jaman dulu. kini di era modern pun banyak wanita yang diperlakuakn secara memprihatinkan. dilecehkan, dipermainkan, dihina dan sekadar dijadikan sebagai pemuas nafsu belaka, baik secara legal didalam lembaga perkawinan, maupun diluar perkawinan dalam bentuk pelacuran atau bisnis porno lainnya.

Allah pun melarang mengawini wanita secara paksa atau mengawini hanya dengan alasan pemuas nafsu belaka. karena sebenarnyalah lembaga perkawinan adalah sebuah lembaga sakral dimana kita beribadah untuk meneruskan keturunan dan menyiapkan generasi islami yang tangguh di masa depan.

sebagai balasannya, Allah bakal memberiakn rasa tentram alias sakinah, rasa cinta alias mawaddah, dan rasa kasih sayang penuh keikhlasan alias ar rahmah di dalam rumah tangga.

sebagaimana Rasulullah menjalaninya selama 28 tahun bersama Siti Khadijah sampai wafatnya sang istri tercinta. satu-satunya istri yang sangat dicintai oleh rasulullah, sehingga sampai membuat cemburu Aisyah ketika beliau bercerita tentangnya. memang, Rasulullah melakukan poligami setelah itu, akan tetapi dengan tujuan dan alasan yang berbeda. untuk memenuhi tugas kerosulan beliau. untuk meneladankan dan mencontohkan sikap perlindungan kepada umat islam atas harkat dan martabat wanita. untuk memperbaiki peradaban dan menegakkan syariat islam. untuk memberikan pembatasan kepada perilaku poligami yang kebablasan yang telah dipraktekkan oleh berbagai bangsa sejak beribu abad yang lalu.

wallahu a’lam bishshawab

62 Comments (+add yours?)

  1. opreker
    May 04, 2009 @ 18:26:45

    dalem …………

    Reply

    • serendipity55
      May 06, 2009 @ 03:05:13

      dalem mulu, kapan2 pake “enggeh” yo… :-p

      Reply

    • Mochammad Zuhdi. St. N
      Dec 13, 2012 @ 06:02:11

      Hasil bahasan sangat lengkap dan bermakna sangat akurat utk diterapkan dalam kehidupan masyarakat, khususnya didalam masyarakat muslim Indonesia yg menenpati rengking pertama menganut Poligami dengan alasan berbagai alasan. Hasil bahasan diatas semuanya mengacu kepada dasar aturan yg diturunkan oleh Allah SWT melalui Al-Qur’an yang harus diyakini oleh semua Ummat Manusia yg mengaku beragama Islam. Terimkasih kepada Bpk. Agus Mustofa yg telah memberikan ulasannya tentang Berpoligami Haqiqinya dihadapan Allah SWT, semoga akan menjadi amal ibadah untuk beliau dan selalu dilindungi oleh Allah kejernihan berfikir didalam menerjemahkan isi-isi dari Kitabullah. Sebagai masukan kepada segenap kita kaum Muslimin & Muslimat, bagaimana caranya kita mempulikasikan hasil bahasan (rangkuman) Bpk. Agus Mustofa diatas agar Hamba-hamba Allah di Bumi Pertiwi ini semua bisa membaca dan memahaminya, untuk menurunkan persentase Kaum Pria Muslim berpredikat S. Ag yang kebetulan menjadi Pejabat Tinggi Negara baik di Legislative maupun Executive. Meniduri wanita perawan miskin dgn iming-iming di jadikan Isteri Muda. Namun pd kenyataannya hanya isapan jempol belaka bagi wanita tsb. Ditinggal begitu saja seakan tanpa dosa dan meninggalkan noda berat pd sang perawan miskin tsb. Zaman sa iki seperti hal diatas sangat banyak terjadi, dilantari kurangnya memahami makna isi Kitabullah yg sebenarnya.
      Terimakasih _ Palembang, 13 Desember 2012.-

      Reply

  2. Me
    May 06, 2009 @ 02:04:11

    bener – bener dalem, salut…buat postingannya… :)

    Reply

  3. serendipity55
    May 06, 2009 @ 02:22:51

    @all….iya, alhamdulillah dapat wawasan dari buku Agus Mustofa, yang berjudul “Poligami yuuk!’ silahkan dibeli untuk lebih jelas…hanya sekelumit yang saya bahas disini…
    ntar dibilang plagiat lagi, kasihan om Agus- nya ntar buku na ga laku…hehehe

    Reply

  4. Me
    May 06, 2009 @ 03:57:53

    iya,,,insya ALLAH…

    Reply

  5. opreker
    May 08, 2009 @ 20:48:11

    hem … enggeh ……… wakakakakka :lol:

    yang pasti poligami itu halal ……. betuuul

    Reply

  6. serendipity55
    May 09, 2009 @ 06:38:12

    yupi, halal lah..hehe

    Reply

  7. opreker
    May 14, 2009 @ 18:57:16

    heemm ………… banyak celah tuch di argumennya :lol: …..

    tunggu komen aku yach :)

    Reply

    • serendipity55
      May 15, 2009 @ 04:39:43

      ya udh, ditambal deh celah2 n’ yg bocor ato dtempelin apa..yg penting rapi, brp perak ongkos naa?hehehe

      Reply

  8. opreker
    May 15, 2009 @ 12:12:32

    tergantung butuh berapa genteng bu … kalo banyak yach pasti naek ongkosnya :lol:

    Reply

  9. opreker
    May 17, 2009 @ 21:42:10

    kekekkeke …….. yg pentnig halal bu :lol

    Reply

  10. serendipity55
    May 19, 2009 @ 16:09:36

    iya pak, jgn lupa setoran akhir bln…hehehe

    Reply

  11. opreker
    May 20, 2009 @ 21:05:35

    roger that :)

    Reply

  12. WAHYU kodar
    May 28, 2009 @ 14:13:23

    Reply

  13. opreker
    Jun 14, 2009 @ 07:40:27

    heeemm …… (check-check sounds…..)

    Reply

  14. serendipity55
    Jun 18, 2009 @ 03:43:03

    Reply

  15. Me
    Jun 19, 2009 @ 08:26:14

    thanks ya mba ,,, jadi nambah pengetahuan dari tausyiah275
    commentnya n kisahnya bagus-bagus :)

    Reply

  16. Me
    Jun 19, 2009 @ 08:29:09

    oh iya dan sangat bermanfaat buat saya :)

    Reply

  17. jelasnggak
    Aug 14, 2009 @ 01:48:02

    kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya

    Kalau saya punya budak wanita 100 orang.

    Menurut ayat di atas, boleh dong saya kawini ke-100 orang itu….?

    Dan saya ngga harus takut untuk tidak berlaku adil kan….?
    (karena meraka cuma budak)

    Hhhmmmm…..

    Reply

  18. serendipity55
    Aug 17, 2009 @ 06:50:47

    thanks JN dh mampir…
    tolong dipahami secara menyeluruh ttg ayat2 poligami diatas, jgn sepenggal2.
    konsep keadilan dan tidak berbuat aniaya baik kepada anak yatim dan budak-budak yg dpergauli, adalah salah satu penyebab diturunkanx perintah ttg poligami saat itu..

    Reply

  19. opreker
    Aug 22, 2009 @ 08:12:22

    wah benar juga tuch …. heemmm .. tapi nanti gw beli budak yang cantik n seksi ahhhh .. wakkakaka

    –tolong dipahami secara menyeluruh ttg ayat2 poligami diatas, jgn sepenggal2.
    konsep keadilan dan tidak berbuat aniaya baik kepada anak yatim dan budak-budak yg dpergauli, adalah salah satu penyebab diturunkanx perintah ttg poligami saat itu.. —

    tolong dijelaskan kepada kami bu guru, agar kami paham :P

    Reply

    • serendipity55
      Aug 24, 2009 @ 07:24:19

      hhahaha…mo balik ke zaman perbudakan niy, panggil doraemon aja… :-P

      QS. An Nissa’ (4):3
      “dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

      jelas diatas ada pengkondisian-pengkondisian:

      1. jika kamu takut tidak dapat berlaku adil (kepada anak yatim)….maka kawinilah wanita (lain)yang kamu senangi: dua, tiga atau empat

      2. jika kamu takut tidak dapat berbuat adil (kepada anak yatim)…(atau) maka kawinilah “budak-budak” yang kamu miliki>>> budak-budak disini jamak karna sebelumnya ada penjelasan (dua,tiga atau empat)

      3. jika kamu takut tidak dapat berlaku adil (mengawini dua, tiga atau empat) maka kawinilah seorang saja…

      4. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

      kalimat (1) dan dan (2) tidak berurutan dalam ayat tersebut, namun jika diteliti dan dipahami bahwa kedua kalimat dalam ayat tersebut adalah kalimat setara sejalan (menggunakan “atau”), maka pengkondisiannya saling berkaitan.

      Allahu A’lam Bisshowab

      Reply

  20. RSq
    Oct 16, 2009 @ 04:14:04

    sudahlah para teman2 semua, kalau kita saling mendebatkan apa yang sudah disunahkan oleh Tuhan kita, bisa2 semua hal2 yang ada di Alquran akan diremehkan, kalian tidak mau kan! permasalahan poligami ini mari kita sama2 belajar mengimani juga. Hal ini sama saja dengan Tuhan melarang kita memakan babi! betul tidak… oke

    Reply

    • opreker
      Oct 21, 2009 @ 19:01:38

      hemm ……….. jadi kita harus mengimami …. hem …. gak perlu ngarti yach …. hemm ……

      daleemm ……
      daleeemm …..
      btw, sejak kapan agama Islam jadi agama doktrin ??? heemmmm

      Reply

      • serendipity55
        Oct 22, 2009 @ 03:36:04

        assalamu alaikum semua :-)
        makasih dah singgah dan komen di blog ini…
        mengimani Al Qur’an dan Sunnah hukumnya wajib, tapi mengimani tanpa pengetahuan sama saja berjalan dalam kegelapan.
        meskipun ada keterbatasan akal, tetaplah belajar…insya Allah, selalu ada jawaban dan petunjuk dari Allah bagi hambaNya yang berikhtiar…
        kalo ada kesalahan itu milik manusia dan kesempurnaan itu milik Allah SWT…Allah Maha Adil atas segala kebijakanNya

  21. simplecoy
    Oct 16, 2009 @ 16:17:39

    @serendipity, salute….mantafffff

    Reply

    • serendipity55
      Oct 22, 2009 @ 03:40:05

      maaf, sy cmn kupi-paste…hehehe :-P
      tak ada yg perlu dibanggakan, ilmu dan pengetahuan khan cuma titipanNya..

      Reply

  22. simplecoy
    Oct 23, 2009 @ 16:44:18

    walaupun copas setidaknya membantu orang untuk mengetahuinya kan…apalagi sy…
    semua adalah titipan… :)

    Reply

  23. fery ferdinand
    Nov 02, 2009 @ 02:52:42

    Hadits

    “Apakah kamu telah menikah?” Sa’id menjawab,”Belum,” lalu beliau berkata,”Menikahlah! Karena orang terbaik ummat ini paling banyak isterinya.” [HR al Bukhari no. 5069]

    Bagaimana dengan hadits ini…apakah ini juga mengisyaratkan tentang syahwat dan ada syarat dan jika…

    Reply

  24. serendipity55
    Nov 02, 2009 @ 10:06:23

    wallahu a’lam… tergantung niat anda.

    silahkan berkunjung ke website lain, mungkin lebih bisa menjawab pertanyaan anda…

    http://rumahkasihsayang.multiply.com/journal/item/67/Menikah_dengan_Aturan_Islam

    Dari Said bin Jubair radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah berkata kepadaku Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma : “Apakah engkau telah menikah ?”. Aku (Sa’id) menjawab : “Belum”. Maka Ibnu ‘Abbas berkata : “Menikahlah, karena sebaik-baik umat ini adalah yang paling banyak istrinya” [HR. Al-Bukhari no. 5069].

    Dalam kalimat “orang terbaik ummat”, terdapat dua pengertian. Pertama, yang dimaksudkan ialah Rasulullah . Sehingga memiliki pengertian, bahwa Rasulullah orang terbaik dari ummat ini adalah orang yang paling banyak isterinya. Kedua, yang dimaksud dengan “yang terbaik dari ummat ini” dalam pernikahan, yaitu yang paling banyak isterinya.

    tentu saja aturannya yaitu maksimal 4 (empat) orang yang diperlakukan secara ‘adil dan didik dengan ‘aqidah, syari’at, dan akhlaq yang Islami.

    Reply

  25. Inuy
    Feb 24, 2010 @ 09:56:58

    Kenapa harus berpoligami? Kalau kita sudah di karuniani istri yang sholehah? Anak2 yang sholeh dan sholehah pula ?
    Kalau karena ingin mengangkat martabat perempuan, bukan karena alasan nafsu syahwat, berpoligami itupun harus dengan persetujuan istri. Krn tanpa persetujuan istri, berarti kita telah berbuat dzalim terhadap istri dan anak2 kita.

    Reply

  26. opreker
    Feb 25, 2010 @ 20:01:59

    Inuy Says:

    February 24, 2010 at 3:30 p02

    Kenapa harus berpoligami? Kalau kita sudah di karuniani istri yang sholehah? Anak2 yang sholeh dan sholehah pula ?
    Kalau karena ingin mengangkat martabat perempuan, bukan karena alasan nafsu syahwat, berpoligami itupun harus dengan persetujuan istri. Krn tanpa persetujuan istri, berarti kita telah berbuat dzalim terhadap istri dan anak2 kita.

    sekarang kita balik pertanyaannya:

    -> kalo suami ingin berpoligami dan istri tidak mengizinkan, apakah artinya sang istri berbuat zalim ke suami, karna membiarkan suaminya terjerat “xxx” dengan wanita lain ???

    hayooo :-)

    Reply

  27. serendipity55
    Feb 27, 2010 @ 04:43:20

    @ Inuy : tengs dah mampir…abis baca notes mba Fitri yak sampe mampir kemari? hehehe…
    keinginan dipoligami atau tidak dipoligami adalah hak setiap perempuan. Perempuan boleh mensyaratkan untuk tidak dipoligami dalam pernikahan, ini bukan bentuk pengharaman pada yang halal.
    lebih jelasnya silahkan kunjungi :

    http://salafyitb.wordpress.com/2006/12/15/seorang-istri-boleh-mensyaratkan-untuk-tidak-dipoligami-1/

    @ Inuy & Opreker : Tidak ada dalil yang mewajibkan suami untuk meminta izin kepada istri. Hal tersebut hanya berlaku dalam Undang-Undang No 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, yang mengatur tentang Poligami. Hal ini untuk melindungi perempuan dan anak dari praktek Poligami yang kebablasan

    Allahu A’lam Bisshowwab

    Reply

  28. opreker
    Feb 27, 2010 @ 06:10:21

    bener tuch ?????????? gak ada dalil wajib minta izin sama istri ????? asyiiiikkkkkkkkkk …….. gubrakkkkkkkk

    Reply

  29. serendipity55
    Mar 05, 2010 @ 09:14:07

    hehehe…teteup pake “hati” lah bro, itupun semoga “hati” yang diluruskan niatnya karna Allah semata…kalo nggak malah bisa jadi ikutan korban poligami yang kebablasan…tanggung jawab dunia akhirat ^_^

    Reply

  30. sitisuwarni
    Apr 21, 2010 @ 03:46:00

    Poligami: boleh, meniduri budak boleh, tetapi alangkah mulianya seorang manusia laki-laki yang tetap setia pada satu istri.

    Reply

  31. sitisuwarni
    Apr 21, 2010 @ 04:03:48

    Eh iyah, ternyata boleh lho meniduri budak. Jangan2 TKW kita diperlalukan seperti itu.

    QS Al Ma’arij (70): 29
    “dan orang-orang yang memelihara kemaluan mereka, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.”

    Dasar kitab suci yang berfokus pada kepentingan dan pemenuhan kebutuhan laki2. Dimana kebutuhan dan kepentingan perempuan?

    Reply

  32. serendipity55
    Apr 29, 2010 @ 10:50:59

    jika iman kepada Al Qur’an tak ada, maka sesatlah pada ilmu yang tak mempunyai pijakan…
    Iqra’ mba…

    Reply

  33. kimraesang
    Jan 10, 2011 @ 04:49:27

    dapet pencerahan…
    thanks for postingannya…

    Reply

  34. opreker
    Jan 19, 2011 @ 17:12:07

    jika iman kepada Al Qur’an tak ada, maka sesatlah pada ilmu yang tak mempunyai pijakan…
    Iqra’ mba… >> jawabannya ngambang bu ……. ckcckkckckck kali ini dangkal ahhhh

    Reply

  35. muhammad taufiq
    Oct 05, 2011 @ 15:49:21

    Tidak ada kontradiksi antara dua ayat tadi dan juga tidak ada nasakh ayat yang satu dengan yang lain, karena sesungguhnya keadilan yang diperintahkan di dalam ayat itu adalah keadilan yang dapat dilakukan, yaitu adil dalam pembagian mu’asyarah dan memberikan nafkah. Adapun keadilan dalam hal mecintai, termasuk didalamnya masalah hubungan badan (jima’) adalah keadilan yang tidak mungkin. Itulah yang dimaksud dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    “Artinya : Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian”. [An-Nisa ; 129]

    Oleh karena itulah ada hadits Nabi yang bersumber dari riwayat Aisyah Radhiyallahu anha. Beliau berkata.

    “Artinya : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan pembagian (di antara istri-istrinya) dan beliau berlaku adil, dan beliau berdo’a : ‘Ya Allah inilah pembagianku menurut kemampuanku, maka janganlah Engkau mencercaku di dalam hal yang mampu Engkau lakukan dan aku tidak mampu melakukannya”.[Diriwayatkan oleh Abu Daud, At-Timidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan dinilai Shahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim]

    [Fatawal Mar’ah, hal.62 oleh Syaikh Ibnu Baz]

    [Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini dkk, Penerbit Darul Haq]

    Reply

  36. serendipity55
    Oct 11, 2011 @ 15:29:11

    @ Opreker : ga ngambang bro…quote “jika iman kepada Al Qur’an tak ada, maka sesatlah pada ilmu yang tak mempunyai pijakan…” >>> maksudnya manusia niy terbatas ilmunya..kalo ga ada pijakan bisa tersesat dgn ilmu itu sendiri. kalo diawal emang ga percaya kebenaran ttg Al Qur’an ya percuma pake dalil2x…kita cuma bisa link dan match aja isi Al Qur’an, hadist dan fatwa ulama untuk mengetahui kebenaran hakikinya.

    @ Muh. Taufiq: Sepakat, ayat2 diatas memang setara sejalan…hanya pemahaman bahwa poligami merupakan suatu perintah atau tidak yg ingin diketahui intinya dalam Al Qur’an. Soal keadilan itu terlalu abstrak dan subyektif…jelas Rasulullah pun mengatakan : ‘Ya Allah inilah pembagianku menurut kemampuanku, maka janganlah Engkau mencercaku di dalam hal yang mampu Engkau lakukan dan aku tidak mampu melakukannya”.
    Intinya dalam pelaksanaanx yang diutamakan adalah keridhaan kedua belah pihak…

    Reply

  37. jebriele
    Dec 23, 2011 @ 08:17:26

    Nambah pengetahuan dan petunjuk dalam hidup, apapun yang baik adalah hal baik yang dapat dipraktekkan dalam hidup sesuai kemampuan

    Reply

  38. jual beli
    Apr 30, 2012 @ 00:35:45

    mantab pak artikelnya

    Reply

  39. serendipity55
    May 15, 2012 @ 06:39:49

    maap saya masih tulen cewek.. hehehe :D

    Reply

    • saya
      Nov 09, 2012 @ 01:24:37

      Ayat itu sdh sangat jelas sekali larangannya, bahasa tingkat tinggi dikeluarkan oleh pemilik segala ilmu dan yg menciptakan kita. Manusia itu tdk akan bisa berlaku adil walaupun ia ingin sekali berusa untuk adil maka bertobatlah jgn melampaui bts.. Kalian mengawini istri kalian dari hal yg suka, istri kalian bekerja buat kalian dgn mengorbankan segalanya sampai bertaruh nyawa utk suami berjuang sendiri berkali2 melahirkan buat kebahagiaan kalian, bahkan menjadi pembantu bekerja di rmh, menjadi supir mengantar anak2 dlm urusan rmh, menjadi tukang membenari kerusakan2 rmh sebisanya, menjadi guru buat anak2nya, menjadi baby sitter bagi anak2nya, mengurusi keuangan rumah tangga sehemat2nya, terkadang msh berjualan mencari tambahan, sebanyak apa pun yg istri kerjakan dia harus tetap cantik buat suami memberi yg terbaik di kamarnya, walaupun sebenarnya dgn usia bertambah istri cendrung mulai sakit2, tapi istri terus berusaha memberi yg terbaik, karena suami sdh terbiasa melihat dan bergaul dgn perempuan2 di kantor yg cendrung menggoda, di tambah jam kantor yg sdh tak tau batas waktu lg sehingga kadar pertemuan suami istri berkurang, terkadang kantor2 dgn sengaja membuat acara pd hari2 libur mengajak hanya para karyawan jalan2 keluar kota dgn menyuguhkan acara2 dgn tari2an tdk sopan yg mengundang, semua itu menyebabkan perselingkuhan yg diciptakan oleh kantor. Seberat apa yg dijalankan istri kalian adakah kalian terpikir..? Istri2 kalian di rmh mengurus dan menunggu kalian pulang dgn harapnya… Apa kah kalian laki2 dgn status suami mempunyai hati..??? Tdk kah kalian pikir dgn beban berat yg sdh di tanggung, kalian tambahkan lagi dgn istri muda..? Apakah tdk sama saja dgn membunuhnya secara pelan2…? Kejam sekali…nanti menyalahkan setan, saling kenal dgn setan saja tidak, kita adalah setan buat diri kita sendiri. Makanya Allah lbh mengetahui. Binalah apa yg sdh ada itu lbh baik buat semua. Makanya kita diajarkan buat berahlak yg baik. Sebagai petinggi kantor cobalah diatur yg benar..semua itu dapat berjalan sempurna dan lbh baik bila mendekatkan karyawan kepada suami atau istrinya.. Pikiran jg dapat lbh sempurna, bukan mendekatkan sesama karyawan, di luar itu bekerja yg baik, sehingga mengurangi pikiran berpoligami yg jg sdh dikatakan di ayat2 tsb.

      Reply

  40. satria wijaya
    Nov 08, 2012 @ 12:18:15

    gak usah banyak argumen, karena menandakan menutupi kekurangan kita dan ketidakmampuan kita untuk melakukan poligami. yang seharusnya kita teladani dalam segala hal adalah nabi kita yang telah sempurna mengamalkan Al Qur’an.

    Reply

  41. pembelajar poligami
    Jan 26, 2013 @ 18:41:02

    coba kita bayangkan konteks turunnya al-qur’an. zaman para sahabat dulu org kafir yg menolak hidayah dan atau memerangi Islam akhirnya diperangi dan ditaklukkan lantas dihinakan Allah dgn dijadikan budak oleh penakluknya (kalau ini sudah tradisi manusia), bukan tidak mungkin ada di antara sahabat yg punya puluhan bahkan ratusan budak termasuk wanita. kita tahu generasi sahabat, tabiin, tabiit tabiin adalah generasi terbaik, kerja mereka adalah dakwah, dan budak ini didakwahi oleh mereka sehingga mereka beriman. yg sudah jelas keimanan mereka biasanya dimerdekakan. dari budak atau bekas budak ini lahir generasi muslim. di sisi lain, jihad juga menghasilkan janda dan anak yatim, di samping perceraian karena masalah rumah tangga, seperti contoh anak angkat Nabi SAW (Zaid r.a.), di mana akhirnya Allah syariatkan Rasulullah SAW utk menikahi janda anak angkatnya tsb (yaitu sayidatina Zainab r.ha). Rasulullah SAW juga mencontohkan menikahi janda syahid, yg lantas ditiru oleh para sahabat menikahi janda sahabatnya. Nabi SAW juga menikahi anak dari Sahabat Abu Bakar dan Umar r.hum (sayidatina Aisyah & Hafsah r.huma). Nabi juga menikahi sayidatina Maria Qibti r.ha pemberian/hadiah raja Mesir dlm rangka dakwah. poligami adalah solusi yg diberikan Allah SWT untuk permasalahan manusia seperti uraian di atas.
    intinya, terima saja poligami ini sbg amalan Nabi dan para sahabat dgn “sami’na waatho’na”, kami dengar dan kami taat. bagaimana menerimanya, tirulah cara Nabi dan para sahabat mengamalkannya. bagaimana kita tahu, tentu dengan membaca, mendengarkan/menghidupkan taklim di rumah dan di masjid atau mempelajari sirah (sejarah) dari para ulama.
    iman, kefahaman atau hikmah dan surga itu perlu pengorbanan, sebagaimana sekolah perlu biaya. kuncinya semua diterima dan dijalani/dilakukan dgn ikhlas. kemudian belajar menerima semua ketentuan Allah dgn sabar dan syukur. bagaimana kita mau berharap surga tanpa pengorbanan? laki2 yg berpoligami juga sudah mengambil resiko & tanggungjawab yg sangat besar dgn konsekwensi surga dan neraka.

    Reply

  42. Yahya (Raden Mas Brintik)
    May 03, 2013 @ 13:12:15

    Dalam Konteks saat ini apakah Berpoligami masih Halal kalau Istri menolak Dipoligami..??
    Walaupun si Laki-Laki akan Berlaku adil ketika Berpoligami..??
    MaturSuwun

    Reply

    • serendipity55
      Apr 22, 2014 @ 06:58:15

      Wanita bs mensyaratkan kepada calon suami x jika ia ingin dimonogami… Jika calon suami berniat berpoligami maka tdk usah menikahi wanita yg ingin monogami. Itu adalah hak buat masing2 pihak ntuk memilih jalan hidupx. Poligami adalah sunnah bukan wajib, maka ada pilihan…jika melaksanakanx mendapat pahala, jika tdk maka tdk mendptkan pahala.

      Reply

  43. Daryanti
    Jun 20, 2013 @ 14:45:54

    sangat bagus sekali….biar laki2 berpikir 1000 x untuk poligami….ijin copas y mas…

    Reply

    • Daryanti
      Jun 20, 2013 @ 14:47:42

      QS. An Nissa (4): 129
      “dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin melakukannya,……….

      Reply

      • serendipity55
        Apr 22, 2014 @ 07:02:18

        Tidak berlaku adil yg dimaksud disurah diatas adl masalah kecondongan hati pada siapa yg dia sukai..
        Adil yg harus ditunaikan seorang poligamis adl dlm hal menafkahi, wkt berkunjung, dan pembagian harta..

  44. wahyu monroe
    Apr 21, 2014 @ 05:55:40

    1. Al’quran itu untuk sepanjang zaman, tdk ada ayat didalam Alquran yang menjelaskan masa berlakunya…sampaikan kapanpun poligami itu tetap sunnatullah (perintah sunnah), sama derajatnya dengan perintah sunnah yang lain, akan mendapatkan pahala bagi yang mengerjakan, tidak berdosa bagi yang meninggalkan…kalau kita tidak mau atau mampu, janganlah kita menantangnya…

    2. Poligami itu takdir (ketentuan) dari Allah, beranikah kita mempertanyakan ketentuan Allah ???!!!…bahkan ada yang mempertanyakan kenapa Allah tidak mengizinkan poliandri …masyaAllah…hati2 dengan pemikiran kaum kafir…janganlah berburuk sangka dengan Allah SWT…sebagai seorang muslim, kita harus yakin n percaya, bahwa apapun dari Allah adalah untuk kebaikan umat manusia…

    3. Poligami sudah sangat jelas dicontahkan Rasulullah…kita memang bukan Rasul, itu sebabnya Allah membedakannya, Rasullah diizinkan Allah mempunyai 11 orang istri, kita hanya diizinkan maksimal 4 orang….dan poligami sudah diperintahkan Allah sebelum ada islam, Nabi Ibrahim juga berpoligami, ibu nabi Ismail dengan ibu nabi Ishak…Islam hanya mempertegas aturan berpoligami…ketika perintah poligami turun, ada seorang sahabat yang mempunyai 9 orang istri, Rasul memanggilnya dan menyuruhnya untuk memilih 4 orang diantara mereka dan ‘melepaskan’ 5 yang lainnya….

    4. Bahkan ada beberapa ulama yang bilang, bahwa ibadah poligami lebih tinggi dibandingkan perintah sunnah yang lain, karena kalau perintah sunnah yang lain (spt umroh, tahajud, puasa sunnat, dll) hanya untuk keuntungan diri sendiri, tapi kalau poligami jelas ada manfaatnya bagi orang lain, minimal dia menyelamatkan satu orang, bahkan mungkin 1 keturunan…karena kewajiban suami thdp istri-istri nya sama, tidak ada bedanya yang 1, ke-2, ke-3 ataupun yang ke-4…dihadapan Allah, pertanggungjawabannya sama…

    5. Keikhlasan seorang istri untuk dimadu, itu sama seperti menjodohkan seseorang, Allah akan memberikan sebuah mesjid baginya disurga…insyaAllah…

    6. Poligami adalah bagian dari ibadah dan dakwah, bukan untuk semata-mata untuk menyelamatkan perempuan, dari 11 orang istri Rasul, ada 3 orang yang terbilang tua (berumur diatas 45 tahun) yang lain adalah janda-janda muda (hafsah, maria, zainab dll), bahkan ada pemahaman Aisyah ra dnikahi Rasulullah sebelum aqil balikh (belum dapat haid), Aisyah ra adalah satu-satunya wanita perawan yang dinikahi Rasulullah… rasul juga pernah menolak 2 orang perempuan yang diminta untuk dinikahi, karena Rasulullah tidak menyukai mereka…

    7. Poligami akan lebih berhasil kalau semua pihak ikhlas, terutama pihak perempuan…ikhlas berbagi, ikhlas berbagi untuk menyayangi, ikhlas berbagi untuk mengurus dst…ada ulama bilang, berhemat karena keadaan (karena tidak ada uang) itu hal biasa, bahkan bisa berdosa kalau menggerutu, tapi berhemat karena berbagi, atau bersedakah ada pahala yang sangat besar itu…keikhlasan seorang istri untuk dimadu seperti bersedakah setiap detik yang tidak ada putus-putusnya …
    namun perempuan juga punya hak untuk tidak bersedia dimadu…salah seorang istri Zaid bin tsabit, mendatangi Rasulullah untuk minta diceraikan oleh zaid bin tsabit karena dia takut durhaka dengan suaminya (takut berbuat dosa) tapi bukan karena membenci perintah Allah tersebut…

    8. Janganlah kita terpengaruh dengan hasutan kaum kafir yang dengan sengaja menjelek2kan rasulullah atas ibadah dan dakwah yang beliau lakukan…di Indonesia poligami dianggap aneh bahkan salah, mungkin karena bnyk praktek poligami yang tidak tepat, menikah diam-diam, bahkan ada istilah istri simpanan (nikah sirih) dan dengan niat yang salah …islam tidak mengenal nikah sirih…Rukun nikah jelas, ketika seseorang menikah, maka perkenalkan istrimu dengan sanak saudara, agar tidak menimbulkan fitnah dikemudian hari…

    9. Kadang-kadang kita lebih takut dengan hukum manusia (hukum sosial yang belum bisa menerima poligami), dari pada hukum Allah SWT…. wallahuallambissawab…

    Reply

    • serendipity55
      Apr 22, 2014 @ 06:49:18

      Subhanallah… Ringkasanx sangat jelas dan tepat. Terima kasih sdh berkunjung diblog sy. Semoga diskusi ini menjadi ladang amal kita ntuk meluruskan berbagai anggapan yg negatif ttg Rasulullah Saw dan agama kita… Semoga Allah merahmati kita semua..

      Reply

  45. opreker
    Apr 22, 2014 @ 07:40:43

    yang pasti poligami itu halal!! :)

    Reply

  46. tenggo
    Dec 08, 2014 @ 01:43:28

    opreker, klo emang halal emangnya knp bro,,, klo kamu memenuhi syarat seperti yg tertuang dalam al qur’an silahkan, tidak ada yg melarang.
    atau jangan2 kamu non muslim masalahnya klo dilihat komen kamu dari atas smpai bawah sepertinya mengandung hujatan atau ejekan, tidak menghargai al qur’an sama sekali.
    ya klo kamu kristen boleh kok debat dgn saya tentang injil dan al qur’an.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: