“Awas, bahaya Adji…jalannya hati-hati!”. Ungkapan hati-hati seringkali digunakan untuk memberi tanda “waspada” pada suatu hal yang tidak ingin terjadi…anehnya, mengapa harus pake kata “hati”? kenapa ga pake kata “pikir-pikir”? bukannya proses bertindak cenderung menggunakan logika?

Lain halnya lagi dengan kata “aku mencintaimu sepenuh hati” (weits, ungkapan baheula…kiri pak!)…kalo di English khan “I love you with all of my heart”…nah, ini lebih rancu lagi, bukannya heart = jantung? Seharusnya interpretasinya: “I love you with all of my liver” dunk…hehehe…
Kadang juga “hati” disamakan dengan jantung, misalnya menggunakan ungkapan “hatiku berdebar-debar”, bukannya jantung yang berdebar-debar?

Pemaknaan “hati” yang amburadul, membuat interpretasi “hati” dalam bahasa Indonesia mengalami ambiguitas…benarkah demikian?

Kebingungan yang muncul adalah apakah hati itu?dimanakah letak hati?apakah niat datangnya dari hati?

Bingung? Baguus…

Hati secara terminologi kedokteran adalah organ tubuh yang ada di kanan dada dan fungsinya menyaring racun atau penyakit dari darah (fungsi metabolisme tubuh).

Sebagian orang memahami heart dan qalbu adalah hati. Dalam Bahasa Arab hati disebut dengan ‘kibdun’ atau ‘kibdatun’. Bahasa Arab `Amiyah menyebutnya ‘kabid’. Jadi orang Arab tidak pernah memahami qalbu sebagai hati atau liver. Bahasa Arab mengenal qalbu dalam bentuk fisik yang di dalam kamus didefinisikan sebagai ‘organ yang sarat dengan otot yang fungsinya menghisap dan memompa darah, terletak di tengah dada agak miring ke kiri’. Jadi, qalbu adalah jantung. Dokter qalbu adalah dokter jantung. Jantung (qalb) adalah bongkahan daging yang kalau ia baik maka seluruh jasad akan baik atau sebaliknya kalau ia rusak maka seluruh jasad akan rusak.

Sebagaimana disebutkan dalam hadist,
Abu Nu`aym menceritakan bahwa Rasulullah s.a.w. berkata: “Sesungguhnya di dalam jasad ada sebongkah daging; jika ia baik maka baiklah jasad seluruhnya, jika ia rusak maka rusaklah jasad seluruhnya; bongkahan daging itu adalah QALBU”.

Sebagaimana otak yang memiliki aktifitas elektromagnetik, jantung (hati_red) selain sebagai alat pemompa darah, juga memiliki kepekaan terhadap penerimaan getaran gelombang elektromagnetik. Karena itu system kelistrikan jantung sangat terkait erat dengan aktifitas kelistrikan otak. Jika otak memberikan sinyal gembira, maka kelistrikan jantung akan menyesuaikan, sehingga denyut jantung pun ikut “gembira”. Jantung batin (hati_red) adalah bagian dari sistem “pemahaman”. Dia hanya berfungsi sebagai “sensor” penangkap getaran. Pusat pemahamannya tetap berada di otak. Jantung hanya menjadi salah satu simpul mekanisme elektromagnetik tersebut.

Jika demikian, mengapa bukan otak saja yang dikatakan sebagai bongkahan daging yang jika ia baik maka baiklah jasad seluruhnya?

Disini tidak akan berpanjang lebar tentang mekanisme kerja otak, silahkan anda browsing sendiri untuk lebih memahami ( usaha dunk! :-P ). Secara fungsional tersirat, pengelompokan peranan otak terbagi menjadi dua: pengendali aktifitas fisik dan pengendali psikis.

Aktifitas fisik dikomandani oleh “batang otak” dan hipothalamus. Batang otak yang berkaitan dengan kesadaran fisik (pernapasan dan mekanisme jantung) sedangkan hypothalamus mengatur fungsi kehidupan lanjutannya seperti pertumbuhan, pencernaan, seksualitas, kestabilan temperature badan, dsbnya. Aktifitas psikis sendiri dikomandani oleh system limbik. Ia mengatur fungsi luhur kemanusiaan dengan melibatkan pusat rasio (hippocampus) dan pusat emosi (amyglada). Dalam konteks yang lebih umum, kita lantas menyebutnya sebagai “otak lahir’ dan “otak bathin”. Sampai disini kita menemukan kesimpulan yang sama, pada otak dan jantung (hati)…bahwa keduanya terdiri dari fisik dan psikis, lahir dan batin, materi dan makna, hardware dan software.

Jadi, dalam proses pemahaman tak hanya melibatkan jasad (panca indera), otak fisik dan perangkatnya tapi juga hati nurani (batin) dan jiwa. Sehingga Agus Mustofa dalam bukunya “Menyelam ke samudera jiwa dan ruh” mengatakan hati adalah sensor penerima getaran universal di dalam diri seseorang. Biasa pula disebut indera ke enam.

Kombinasi antara panca indera dan hati akan menyebabkan kita bisa melakukan pemahaman. Tapi semua sinyalnya tetap dikirim ke otak sebagai pusat pemahaman atas informasi panca indera dan hati tersebut.

Dalam Surah Al A’raaf (7) : 179, Allah SWT berfirman :
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari Jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami dan mereka mempunyai (mata) tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar. Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.

QS. Al Hajj (22) : 46
“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”

Lebih jauh, pemahaman disini adalah pemaknaan atau dari kata dasar “makna”. Mengapa makna itu begitu penting? Makna itu sendiri sebenarnya bukanlah energi, meskipun ia mengandung energi. Makna adalah “informasi” secara kualitas.

Btw, selama ini kita mengetahui, eksistensi alam semesta hanya tersusun dari 4 variabel, yaitu ruang, waktu, materi dan energi. Sebenarnya, “informasi” (makna) adalah variable ke-5 yang turut menyusun alam semesta. Variabel ke- 5 inilah yang banyak berperan ketika kita membicarakan makhluk hidup. Khususnya yang berkaitan dengan jiwa dan ruh.

Mungkinkah ada suatu peralatan yang bisa mengukur baik dan buruk? atau adakah alat secanggih apapun yang bisa mengukur tingkat keindahan, kejengkelan, kebosanan, kebencian, dan kebahagiaan?semua itu terkait dengan makna. Energi makna itu pun baru bisa diketahui ketika dipersepsi lewat sebuah interaksi dengan orang lain, artinya sampai sejauh ini alat ukur yang digunakan haruslah makhluk hidup, yang memiliki hati dan jiwa sederajat dengan sumber informasi.

Pertanyaannya kemudian bagaimana kepekaan (sistem pemahaman) sensor elektromagnetik yang tersimpan dalam otak dan jantung (hati_red)? Sebagaimana disebutkan sebelumnya diatas bahwa jantung (hati_red) memiliki sensor elektromagnetik, seperti halnya otak. Perlu diketahui, medan kemagnetan jantung besarnya sekitar 5 x 10 (-11) Tesla, atau sekitar 1 miliar kali medan magnet bumi. Sedangkan kemagnetan otak besarnya hanya sekitar 10 (-13) Tesla, pada saat otak dalam kondisi terjaga, yaitu pada saat otak memancarkan gelombang alfa di frekuensi 8-13 Hz. Berarti sekitar seper-lima-ratus kemagnetan jantung. Itu terjadi saat seseorang dalam kondisi rileks. Jantung (hati_red) mempunyai kepekaan yang jauh lebih besar daripada otak, sehingga lebih diutamakan akal/hati nurani daripada hasil kerja otak (akal pikiran), seperti disebutkan dalam hadist dan surah diatas

Sayangnya, pengukuran kekuatan elektromagnetik otak dan jantung ini belum bisa menyibak rahasia yang ada dibalik informasi di dalamnya. Padahal sebenarnya “energi makna” jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan energi elektromagnetik.

Kekuatan energi sebanding dengan tingkat kehalusan gelombangnya. Semakin tinggi frekuensi, semakin tinggi pula energi. Semakin kasar gelombangnya, semakin rendah pula energinya. Contoh, energi mekanik adalah energi yang paling kasar. Maka, kekuatan yang dihasilkan oleh energi mekanik masih kalah dengan kekuatan yang dihasilkan energi listrik atau energi kimiawi. Tapi energi listrik atau kimiawi bakal kalah dengan energi atom atau nuklir. Sedangkan energi nuklir bisa kalah oleh energi “makna”. Mengapa bisa demikian? Sebab yang diserang oleh gelombang makna bukan pada struktur benda atau material kimiawi atau fisiknya, melainkan pada substansi dasar yang tersimpan di balik struktur benda.

Hal ini dikemukakan oleh Allah di dalam berbagai firman-Nya, bahwa penciptaan segala sesuatu dimulai dengan perintah: “kun fayakun” (jadi, maka jadilah). Artinya, segala sesuatu memang dimulai dari energi informasi atau energi makna yang tersimpan di dalam perintah itu.

QS. Yaasin (36): 82
“Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.

Ayat yang terakhir ini, sangat jelas mengatakan bahwa jika Allah menghendaki sesuatu, maka Dia cukup memberikan perintahNya dengan kalimat “Kun” (jadilah), maka jadilah ia. Itulah inti dari seluruh pemrograman yang tersimpan di dalam inti sel makhluk hidup, maupun yang tersimpan di dalam inti atom berupa “energi kehendak” yang menjadi peralihan antara materi dan energi.

Perkembangan terakhir dari penemuan Brain Computer Interface (BCI), bahwa seseorang bisa mengoperasikan peralatan-peralatan elektronik hanya dengan kehendaknya saja, lewat sebuah program-program komputer. Dalam skala yang lebih besar, itulah yang terjadi dengan alam semesta, yang dikendalikan oleh Allah dengan sunnatullah.

So, Adji (tetap) hati-hati yaa…

Notes: sebahagian pembahasan diambi dari buku “Menyelam ke samudera jiwa dan ruh” karya Agus Mustofa