Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantatis, dan sporadis, namun setiap elemennya adalam subsistem keteraturan dari sebuah desain holistic yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan.

Diinterpretasikan oleh Andrea Hirata dari pemikiran agung Harun Yahya

Berbicara tentang takdir, nasib, qadha dan qadar selalu menarik, menegangkan dan penuh tanda tanya. Berbagai persepsi yang dibuat tanpa dasar yang kuat kadang menyesatkan banyak orang dan sebagian besar menyalahkan Tuhan bahkan menyerahkan hidup pada keputus asaan.

Well, berikut kita akan bahas tentang hal tersebut dalam bentuk tanya jawab berdasarkan Al Qur’an dan Hadist. Pembahasan ini pun sebagian besar berdasarkan buku “Mengubah Takdir” karangan Agus Mustofa dan buku “Misteri Sholat Tahhajjud” karangan Muhammad Muhyidin. Bukan mau jual buku ya…hehehe, just for library’s note…

1. Apakah takdir dan nasib itu?
Secara awam, kasus yang sering digunakan dalam memahami konsep takdir dan nasib adalah rezeki, jodoh dan kematian. Mereka menganggap takdir dan nasib adalah sama, mereka percaya sepenuhnya bahwa nasib telah ditentukan oleh Allah sejak mereka belum lahir. Konsep nasib adalah tentang keberuntungan atau ketidak beruntungan mereka dalam rezeki, jodoh dan kematian. Konsep nasib cenderung memberikan motivasi negative, bersikap pasrah, statis , kontra produktif dan malas. Takdir sendiri adalah ketetapan Allah yang diatur dalam hukum sebab akibat. Konsep takdir memberikan motivasi positif, mengajarkan agar kita tegar, dinamis dan kreatif, produktif dalam menyikapi hidup. So, takdir bukanlah nasib!. Allah sangat menghargai hamba-hambaNya yang berusaha keras untuk mengejar kualitas hidup yang lebih tinggi. Dan “tidak suka” kepada orang-orang yang lalai, bermalas-malasan, apalagi berputus asa.

Q.S Al Israa’ (17): 66
“ Tuhanmu adalah yang melayarkan kapal-kapal di lautan untukmu, agar kamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyayang terhadapmu”

See also QS, Al Hijr (15): 56, QS. Al Jumu’ah (62): 10, QS. Ar Ra’d (13): 11

2. Apakah percaya tentang Qadha dan Qadar berarti telah beriman kepada Qadha dan Qadar?
Banyak umat muslim yang percaya atas Qadha dan Qadar tanpa memahami maksudnya, kenapa dan untuk apa? Sedangkan beriman adalah meyakini dengan berdasar pada kepahaman yang bertumpu pada akal.

QS. Yunus (10): 100
“Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya”

HR. Ar-rabii’, Rasulullah bersabda Allah SWT berfirman : Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah)

See also QS. Ath Thalaaq (65): 10, QS Al Israa’ (17):36

3. Apa itu Qadha dan Qadar?
Ketetapan Allah yang kita kenal sebagai takdir digambarkan oleh dua kata: Qadar dan Qadha. Kedua-duanya bermakna ketetapan, tetapi memiliki nuansa yang berbeda.
Qadar memberikan makna: ketetapan yang ditentukan sepenuhnya oleh Allah, tanpa bisa diganggu gugat. Sedangkan Qadha adalah: ketetapan Allah yang ditentukan berdasarkan usaha tertentu. Qadar, dalam bahasa Indonesia, mirip dengan kata “kadar”: kapasitas, ukuran, misalnya digunakan dalam kalimat: “seberapa besar kadar kemampuannya” artinya, seberapa besar “kapasitas”nya. Seberapa “ukuran” kemampuannya.
Sebagai contoh, seseorang dilahirkan sebagai seorang laki-laki. Lahir dari orangtua yang berkebangsaan Indonesia. Terlahir dengan bentuk fisik dan kapasitas intelektual tertentu, dan seterusnya dan sebagainya…itulah yang disebut Qadar. Meskipun seseorang terlahir dengan tidak bisa memilih kondisinya sendiri, bukan berarti Qadar terjadi tanpa melibatkan hukum sebab akibat. Qadar adalah takdir Allah atas peristiwa-peristiwa sebelumnya, yang dilakukan oleh orangtua kita atau orang lain, yang berusaha orangtua kita, dipadu dengan berbagai factor penyebabnya, hasilnya adalah kita. Kita tinggal menerima saja…
Takdir bayi (anak) bersangkutan di kemudian hari seiring dengan usaha dan perjalanan waktu. Perpaduan takdir awal – Qadar dengan usaha – Qadha itulah yang bakal menghasilkan takdirnya.
Selain pada manusia, Qadar Allah juga berlaku pada berbagai makhluk-Nya di seluruh penjuru alam. Mulai dari benda-benda mati, tetumbuhan, binatang, jin dan malaikat. Qadar adalah ketentuan yang telah ditetapkan-Nya saat menciptakan seluruh isi alam semesta, termasuk ruang, waktu, hukum, informasi, materi dan energi. Semua itu diciptakan dengan mengikuti kadar tertentu, sehingga berjalan seperti sekarang. Pada benda mati, takdir Allah hanya berupa Qadar – ketetapan awal. Kapasitas yang tidak bisa diubah, kecuali mengikuti sunnatullah yang telah ditetapkan sebelumnya. Sedangkan pada manusia Qadar itu bisa diubahnya lewat Qadha alias usaha

QS. Al Qamar (54):12
“ Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan”

QS. Al A’laa (87): 3
“ dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk

See also QS. Yaasin (36): 37-39

4. Sejauh mana usaha kita menentukan Qadha?
Orang-orang yang menyombongkan diri kadang sangat yakin pada apa yang mereka usahakan tanpa campur tangan Allah sehingga menjadi takabur. Sebagian manusia lainnya sangat bergantung (hanya berbadah) pada campur tangan Allah tanpa ingin berusaha. Seperti dibahas sebelumnya, takdir adalah hasil dari gabungan Qadar – kapasitas awal dan Qadha – usaha. Seperti apa hasil dari takdir tersebut sepenuhnya kehendak mutlak Allah (akhir sunnatullah). Namun jangan khawatir, meskipun Allah yang menentukan hasil usaha kita, Dia tidak akan sewenang-wenang.

QS Fushilat (41): 46
“Barang siapa mengerjakan amal yang sholeh maka pahalanya untuk dirinya sendiri, dan barang siapa mengerjakan perbuatan jahat maka dosanya untuk dirinya sendiri, dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya”

Dalam ayat ini Allah mewajibkan Diri-Nya sendiri untuk berbuat adil

Dia menentukan takdir dengan sifat-Nya yang Maha Pemurah. Dia cuma ingin menguji sikap kita, cuma ingin tahu kualitas kesabaran kita. Jika lulus, Dia selalu memberikan yang terbaik. Bahkan, jauh lebih baik. Diluar dugaan kita. Tetap istiqamah menjalankan cara yang diajarkan-Nya. Di antaranya kerja keras dalam kejujuran, dan sabar….

QS. Ali Imran (3) : 142
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar”

See also QS. Al Baqarah (2): 186

Manusia bisa memilih dan mengusahakan takdir macam apa yang dia inginkan, meskipun hasilnya tidak sepenuhnya ada di genggaman tangannya. Dari segi waktu, sangatlah jelas bahwa takdir seseorang ditentukan seiring dengan berjalannya waktu. Pun, apa yang telah didapatkan seseorang disuatu masa bukanlah takdir final bukan pula sementara. Contohnya : Belum tentu seseorang kaya terus sampai mati menjemput, atau sebaliknya belum tentu juga dia mati dalam kemiskinan. Begitulah, takdir kita berubah terus dari waktu ke waktu sesuai dengan apa yang diusahakan. Takdir final itu hanya terjadi pada saat seseorang telah mencapai ajalnya.

5. Apakah takdir sudah termaktub dalam Lauh Mahfuzh?
Ada belasan ayat tentang Lauh Mahfuzh;

a. QS. Al An’aam (6): 59
Ayat ini memberikan gambaran yang sangat luas, bahwa ada suatu “kitab” yang berisi seluruh kenyataan di alam semesta secara umum sehingga masih dipertanyakan soal aktifitas manusia itu sendiri.

b. QS. Yunus (10): 61
Ayat ini dengan sangat gamblang menceritakan, bukan hanya benda dan tempat. Atau kejadian yang terkait dengan manusia. Allah jelas-jelas menyebut aktifitas manusia pun tercatat dalam kitab itu.

c. QS. Yaasin (36):12
Ayat ini semakin memperjelas bahwa Lauh Mahfuzh memuat segala peristiwa yang terjadi di alam semesta, kecil maupun besar, gaib maupun nyata. Tapi, apakah termasuk “waktu” juga?

d. QS. Faathir (35): 11
Ayat ini menyinggung umur manusia, bahwa Allah menciptakan manusia dari tanah, kemudian menjadi sperma dan ovum, berkembang di dalam rahim, dilahirkan dan seterusnya sampai datang kematiannya. Kemudian Allah menyebutkan, ada orang yang dipanjangkan umurnya dan ada pula yang dipendekkan. Semua itu dalam kekuasaan Allah. Dan tercatat di dalam Lauh Mahfuzh. Artinya soal waktu pun tidak terlepas dari catatan Lauh Mahfuzh. Tapi, sekali lagi ayat ini tidak menyebutkan informasi bahwa panjang pendeknya umur seseorang itu telah ditetapkan sebelumnya. Allah cuma mengatakan bahwa ada orang yang umurnya dipanjangkan dan ada pula yang di pendekkan.

e. QS. Al Israa’ (17): 58
Ayat ini berbicara tentang kematian dan azab pada manusia, tetapi dalam skala kolektif. Allah mengatakan bahwa Dia akan membinasakan suatu negeri disebabkan oleh kedurhakaan penduduknya, sebelum kiamat datang. Jika dicermati, yang tertulis dalam Lauh Mahfuzh itu adalah modusnya. Bukan waktu kebinasaannya, bahwa suatu negeri yang penuh kejahatan dan kezaliman bakal dibinasakan oleh Allah. Kapan kebinasaan itu terjadi, tidak disebutkan oleh Allah kecuali dengan melewati mekanisme sebab-akibat.

Dalam HR. Muslim, Rasulullah bersabda, Allah SWT berfirman :
“Belum akan kiamat sehingga tidak ada lagi di muka bumi orang yang menyebut: Allah, Allah.”

HR. Al Hakim, Nabi Muhammad SAW bersabda Allah SWT berfirman:
“Demi yang jiwa Muhammad dalam genggaman-Nya. Tiada tiba kiamat melainkan telah merata dan merajalela dengan terang-terangan segala perbuatan mesum dan keji, pemutusan hubungan kekeluargaan, beretika buruk dengan tetangga, orang yang jujur (amanat) dituduh berkhianat, dan orang yang khianat diberi amanat (dipercaya).”

Kedua hadist tersebut juga menjelaskan mekanisme sebab akibat yang berhubungan dengan ditetapkannya hari kiamat, sehingga semakin jelas bahwa modusnya lah yang telah Allah tetapkan. Bukan waktunya dan bukan cara kebinasaannya.

f. QS. Al Kahfi (18): 58-59
Dua ayat berurutan tersebut memberikan pemahaman gamblang kepada kita bahwa, Allah adalah Dzat yang Maha Pengampun dan Pemberi Rahmat. Dia tidak ingin mengazab hamba-hamba-Nya yang berbuat zalim secara langsung. Allah menunggunya sampai waktu tertentu agar ia bertobat dan memperbaiki kesalahannya. Allah tahu, manusia bersifat tergesa-gesa dan sering lalai.

Ayat berikut memberikan keluasan pemahaman lagi kepada kita. Bahwa justru Rahman dan Rahim Allah sangat dominan dalam menentukan takdir. Allah bahkan menangguhkan azab bagi orang-orang yang zalim. Tapi, penangguhan azab itu sebenarnya juga menyebabkan bertumpuknya akibat, sehingga azab itu datangnya lebih parah.

QS. An Nahl (16): 61
“Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatu pun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai pada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktu bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak mendahulukannya.”

See also QS. Huud (11):6, QS. Al Hajj (22):70, QS. An Naml (27): 75

Dalam hadist riwayat Al Bukhari, Rasulullah bersabda bahwa Allah SWT berfirman :
“Tidak ada alasan bagi seseorang untuk diampuni dan kembali kepada jalan Allah yang Allah tangguhkan ajalnya sehingga dia sudah mencapai usia enam puluh tahun”

Hadist ini menjelaskan bahwa Allah Maha Pengasih tidak serta merta melaknat hamba-Nya yang berdosa, Dia memberikan batas waktu mencapai usia 60 tahun, usia yang seharusnya sudah melewati berbagai ujian hidup dan dapat mengambil pelajaran, jika belum bertobat atas perbuatan dosanya maka tidak ada lagi alasan baginya pada saat menghadapi perhitungan Allah.

So, temukanlah mozaik-mozaikmu dengan istiqomah…