Can my new baby learn two or more languages at home? Similar questions: Can my toddler learn a second language at home before starting school? My spouse speaks language X and I speak language Y, can we teach our children both languages?
My infant is a year old and has not learned to talk, why not?
Will I confuse my child if I mix languages? Answer provided by Anthea Fraser Gupta, Senior Lecturer in Modern English Language, University of Leeds

Minggu lalu, pertanyaan yang sama ditanyakan my luvly siscou ‘astih’ tentang hal ini, namun pertanyaanyan sedikit lebih komplex karena dia baru aja ikut seminar Glenn Doman sebelumnya. “Nin, bener gak sih kalo anak itu bagusnya diajarin bahasa asing setelah umur 5 tahun?” tanyanya. Dengan sedikit penjelasan…“tapi menurut metode Glenn Doman semakin dini anak diajarin akan semakin cepat dia menguasai bahasa dengan metode yang diterapkannya”.

“Aku setuju dengan statemen pertama” jawabku. Bukan karna banyak tahu tentang metode pengajaran bahasa asing untuk anak balita tapi karna setau aku di lembaga kami, ada klasifikasi umur dalam belajar bahasa Inggris, dan saat ini program Smallstars (untuk umur 4-5 tahun) adalah program untuk usia paling muda. Dengan sedikit analitikal berdasarkan pelajaran waktu di bangku kuliah kemaren, aku mengatakan… “di usia balita, anak-anak terlebih dahulu belajar, mengenal, meniru, dan mengucapkan segala sesuatu menggunakan bahasa ibu”. Jika terdapat 2, 3 atau lebih bahasa yang dipelajari mereka akan kesulitan dalam memaknai dan menerjemahkan maksud dari setiap kata atau kalimat…dengan yakinnya pun kukatakan “itu disebut disbillingual”…(ceileh…este!)

Ada yang salah dengan tanggapanku itu? Tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar, mari kita lihat secara obyektif.

Dengan sedikit research dari beberapa situs, ternyata terdapat kontradiksi. Mengingat tuntutan belajar lebih dari satu bahasa pada anak-anak semakin besar saat ini. Sekolah, lembaga pendidikan dan orangtua merasa butuh memberikan pelajaran bahasa dari awal, mulai dari bahasa Ibu (bahasa Indonesia dan bahasa daerah), bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Mandarin, dsbnya…fiuh, berat banget ya beban jadi anak kecil zaman sekarang.

Jadi ingat Dede (my youngest bro) yang punya banyak alasan kalo disuruh ngaji ma mama, selalu aja pulang dengan wajah tidak menyenangkan dengan kasus berbeda-beda, pernah sekali dia pulang sambil menangis, mengadu kalo guru ngajinya mau “makan” dia kalo ga mau tenang belajar, setelah diklarifikasi ternyata Dede ga pernah tenang belajar dan suka mengganggu teman-temannya. Btw, Dede mulai belajar (dipaksa) ngaji umur 6 tahun, ngepas dia baru duduk di kelas 1 SD. Secara umum, anak-anak yang lain juga mulai belajar mengaji (membaca Al Qur’an) di umur tersebut.

Alhasil, selama 6 bulan Dede tidak belajar apa-apa di tempat ngajinya dan akhirnya mama memberhentikan dia mengaji. Namun bukan berarti Dede tidak mau belajar mengaji. Sewaktu dia duduk di kelas 2 SD, sempat kutanyakan kenapa Dede belum mau mengaji? “ Kelas 3 pi deh Dede mengaji nah…?” jawabnya dengan logat kental bahasa Ibu kami. Saat ini Dede kelas 3 SD dan dia belajar mengaji dengan aktif dan semangat atas keinginannya sendiri.

Mengapa motivasi Dede berubah setelah dia duduk dikelas 3 SD? Setelah aku amati, ternyata kesulitan Dede belajar mengaji adalah karena di awal masuk SD, dia belum tahu membaca bahasa Indonesia dengan lancar. Setelah duduk di kelas 3 SD dan dapat membaca dengan baik, barulah dia merasa siap belajar bahasa (Al Qur’an) yang lain.

Ada dua hikmah yang dapat diambil dari kasus ini :

  1. Membaca adalah skill dasar yang harus dimiliki anak sebelum belajar bahasa yang lain.
  2. Anak harus mempunyai dasar bahasa Ibu yang baik sebelum belajar bahasa kedua.

Hal yang sama terjadi dengan salah satu siswa kami, bernama Bailey atau biasa dipanggil Bebe. Bebe masuk ke sekolah kami dan belajar bahasa Inggris sejak umur 5 tahun. Bebe tidak tau membaca bahkan belum mengenal dan menulis abjad bahasa Indonesia. Kesulitan tidak hanya dialami Bebe, gurunya pun harus extra effort menghadapi Bebe. Alhasil, Bebe harus mengulang bahkan masuk ke Level yang lebih rendah. Orangtua nya tidak mempermasalahkannya. Untuk kebaikan Bebe, kami meminta orangtua nya agar dia diikutkan les baca dan tulis bahasa Indonesia. Akhirnya, Bebe mulai bisa mengikuti pelajaran. Meskipun secara “writing” dia kurang dari teman-temanya..namun “vocabulary”-nya lebih bagus secara lisan karna cara belajar dia lebih auditory.

So, bagaimana dengan metode Glenn Doman tentang belajar bahasa asing sejak balita? Teori Glenn ini diterapkan dengan pemikiran bahwa membaca adalah fungsi otak, sedangkan mengajar membaca dengan mengeja huruf (cara konvensional di sekolah) diikat oleh kaidah atau aturan bahasa. Aturan-aturan bahasa ini malah memperlambat keterampilan anak membaca. Dengan teori Glenn, anak diajar melihat tulisan seperti halnya melihat gambar (dalam kartu). Rangkaian kata bagi si anak adalah suatu simbol dari benda yang diucapkan si ibu atau si ayah yang membacakannya.

Glenn memberi catatan, mengajar bukan menjadi suatu beban, melainkan hak istimewa bagi orangtua. Anak adalah prioritas yang penting dalam keluarga. Kegiatan belajar membaca perlu diulang-ulang beberapa kali (15 hingga 25 kali), lalu kartu (tulisan/gambar) yang lama diganti dengan kartu yang baru. Saat mengajar, anak maupun orangtua harus dalam kondisi mood yang baik dan suasana yang menyenangkan. Durasi membacanya juga harus sangat cepat, hanya sekilas-sekilas saja dan harus segera berhenti sebelum anak ingin berhenti. Jangan mencoba untuk memberi tes karena anak tidak suka dites. Suasana pembelajaran membaca pun mesti penuh dengan keramahan dan kehangatan.

Menyadari membaca adalah bagian dari fungsi otak dan kecepatan penyerapan informasi terjadi di awal-awal tahun perkembangan anak, Glenn pun yakin anak-anak dapat belajar 2, 3 bahkan lebih dari 5 bahasa di usia balita. Ini bukanlah hal yang mustahil.

Namun dengan bijak, Jeperson jauh-jauh sebelumnya memperingatkan dalam artikel “Kapan anak belajar bahasa Inggris?” bahwa anak yang mempelajari dua bahasa tidak akan dapat menguasai kedua bahasa itu dengan sama baiknya. Juga tak akan sebaik mempelajari satu bahasa. Kerja otak untuk menguasai dua bahasa akan menghambat anak untuk mempelajari hal lain yang harus dia kuasai.

Yang paling penting bagi anak dalam mempelajari bahasa adalah apakah bahasa yang mereka pelajari akan mereka gunakan. Seperti pernyataan berikut :

As Professor Ruuskanen says, it is common for a child brought up in a place with a strong community language to reject a minority one. My own daughter rejected her father’s language when she was 2. When this happens it is because we have failed to provide the need for the language.

So, sebaiknya mengajarkan bahasa asing bukanlah suatu hal yang dipaksakan bagi anak, tapi menciptakan kebutuhan akan bahasa itu lah yang lebih penting. Mereka akan belajar dengan motivasi instrinsik dan dengan sendirinya terjadi proses perkembangan dan penguasaan bahasa.

Dan bahasa ibu; bahasa nasional dan bahasa daerah adalah bahasa yang utama untuk dipelajari sebelum bahasa asing.

Dedicated to astih and erry’s luvly son…ibra…