saya menemukan kehadiran islam di barat tanpa kehadiran muslimin…dan saya tidak menemukan islam di timur dengan kehadiran muslimin
Itulah pernyataan Muhammad Abduh, seorang pemikir islam kontemporer. Ah, apa maksudnya? Kira-kira begini. Katakanlah barat adalah non islam dan timur adalah islam. Begitu mudahnya. Tapi kenapa abduh berkesimpulan demikian.
Bukankah di barat tidak banyak yang islam. Benar, tapi abduh ingin mengatakan bahwa orang barat bisa menjadi islami meski tak beragama islam dan orang islam belum tentu berperilaku islami.Misalnya orang barat senang hidup teratur. Bangun pagi, berangkat kerja tepat waktu. Orang barat juga tidak suka melanggar lampu lalu lintas. Orang barat juga tidak senang membuang sampah sembarang tempat. Bukankah bekerja rajin dan tidak mengkorupsi waktu itu islami? Bukankah mentaati rambu lalu lintas itu satu perbuatan yang islami? Bukankah hidup bersih dan menjaga kebersihan sebagian dari iman?Dan perlu diingat, mereka tidak beragama islam tapi berperilaku islami.
Berbeda dengan orang islam yang suka telat ke kantor, senang melanggar rambu lalu lintas atau gemar membuang sampah di sembarang tempat. Dan ingat mereka adalah seorang muslim tapi perilakunya tidak islami. Contoh konkritnya lagi kenapa Indonesia banyak koruptornya, padahal mayoritas penduduknya beragama islam?Itu kira-kira maksud abduh. Tentu abduh yang seorang pemikir tidak terjebak pada generalisasi dalam berfikir. Belum tentu semuanya orang barat itu islami dan orang timur tidak islami. Abduh hanya melihat kisi-kisi kehidupan mereka saja.Apa yang dikatakan abduh, agaknya, tepat untuk dinisbatkan pada sebuah kasus yang menimpa seorang sahabat. Atau jangan-jangan kita pernah alami sendiri.
Ceritanya seorang sahabat ke rumah sakit yang namanya ada embel-embel islamnya sebut saja namanya, rumah sakit islam titik titik, tentu berharap mendapatkan servis yag islami. Bayangannya, ia temukan keramahan para dokter dan suster atau siapa saja yang terlibat di dalamnya. Namun apa yang dibayangkan tidak terbukti.
Ternyata ia dilayani oleh receptionist yang bermuka kecut. Susternya pun tidak ramah terhadapnya. Selain itu, ia temukan kondisi rumah sakit yang tidak menampakkan namanya, itu satu kasus. Mungkin, dalam kasus lain ada dan sangat mungkin pernah kita temukan.Kesimpulan dari semua itu adalah munculnya pertanyaan, sudahkah kita berbuat secara islami sebagai seorang muslim? Ataukah hanya menjadikan islam sebagai symbol sedangkan subtansinya nol?
Dikutip dari Tabloid islam ‘Khalifah’By ; Firdaus Ms