just copas… :-)

Pernahkah anda mendengar seseorang mengatakan bahwa manusia itu adalah mahluk yang suka berkeluh kesah? Saya mendengar itu sudah sangat lama. Mungkin ketika saya masih kecil. Dan sekarang setelah memasuki usia dewasa, saya mendapati bahwa hal itu benar adanya. Kenyataannya, sangat mudah bagi kita untuk mengeluhkan tentang ini dan itu. Kita bisa mengeluh tentang penghasilan. Kita bisa mengeluh tentang pekerjaan. Tentang kesehatan. Tentang atap rumah yang bocor. Tentang jerawat yang membandel. Tentang sariawan akibat bibir tergigit secara tidak sengaja. Bahkan, kita mengeluh karena terlalu banyak hal yang harus kita keluhkan. Lantas, kapan kita akan berhenti mengeluh?

Belum lama ini saya bertemu dengan seseorang yang saya kagumi. Sebenarnya, pertemuan itu dijadwalkan untuk melakukan wawancara supaya saya bisa memahami kebutuhan perusahaan itu akan program pelatihan yang saya fasilitasi. Selama proses wawancara itu, kami merasa mulai akrab satu sama lain, sehingga kami tidak menyadari bahwa sebelumnya kami sama sekali tidak saling mengenal. Oleh karena itu, setelah semua hal yang saya agendakan untuk didiskusikan dalam wawancara itu selesai, ada perasaan aneh yang kami rasakan, yaitu; kami seolah belum ingin berhenti berdiskusi. Walhasil, pembicaraan kami memasuki ’topik’ yang sifatnya lebih personal. Tepatnya, tentang ’konsep diri’ masing-masing. Lebih tepatnya lagi; saya mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan konsep diri beliau. Sebab, saya lebih banyak mengeksplorasi dan mendengar daripada mengemukan pandangan saya sendiri.
(more…)

was a long trip i had for holiday…but it was fun and exciting! taking 2 weeks holiday back to home and celebrating Idul Fitri with family, an agenda won’t be missed every year… i also met frens from my ex-skull and college, did gathering for big reunion, shared stories, and lol…some of them still d’same in looks and behavior but some has really changed… specially those who has married. they also took their baby to the event, i think it’s one of their pride to show their next generation, they could say, 2 – 0 telak!….hhahahaha…

@ hade resto with Baronk '99

actually, i had good time meeting pals and fams but when the conversation turned to a question, “kapan…?”, sounds an ads in tv, hehehehe… a lil bother with that but soon i could handle by saying “insya Allah, it’s getting closer…i’ll tell u when it comes”, and u know they have ongoing questions…they were really enthusiasm, felt like i’m celebrity….wkkkkkkkk

with fams @ bantimurung

after spent holiday, went back home… just one nite space to break, flew to Jakarta with Dewi, Aad and Ebi…and the next day we went to Bangkok with EF teams (96 people) from all over Indonesia who have achieved target for BTS 09 (Back to school), yeah…rockey BTS!
we got a chance to step on Changi airport (sophisticated!)…the best airport to sleep for traveler who’s waiting connecting flight. they even have Orchid garden inside the airport, owesome (katrok niy!)…won’t missed the moment, kumat deh…gifo time! hhehehe…

Dewi & Febri @ Changi

bangkok4

DSC01228

patung tiruan1

in Bangkok for 3 days, we explored temples and King of Palace (glamorous)… also night bazaar (luv it, shopping time!). Bangkok and its nite life also offered adventure to passionate lover… “it’s Thai (Free) Land”, they said. i’ve heard about some of the show they perform, and hiiii…like an animal show. the hard things was to find “halal” food, hiks…. the only restaurant who has halal food is Indian restaurant but when it comes to taste…yuck!…then we shouted…maakkk, i love Indonesia!

let me go home...

i had totally 3 weeks holiday, almost spending time in trips (still feels jetlag), what a busy exciting days and the result is my body was loosing weight. tired but happy… alhamdulillah…

To “let go” does not mean to stop caring, it means I can’t do it for someone else.

To “let go” is not to cut myself off, it’s the realization I can’t control another.

To “let go” is not to enable, but to allow learning from natural consequences.

To “let go” is to admit powerlessness, which means the outcome is not in my hands.

To “let go” is not to try to change or blame another, it’s to make the most of myself.

To “let go” is not to care for, but to care about.

To “let go” is not to fix, but to be supportive.

To “let go” is not to judge, but to allow another to be a human being.

To “let go” is not to be in the middle arranging all the outcomes, but to allow others to affect their own destinies.

To “let go” is not to be protective, it’s to permit another to face reality.

To “let go” is not to deny, but to accept.

To “let go” is not to nag, scold or argue, but instead to search out my own shortcomings and correct them.

To “let go” is not to adjust everything to my desires but to take each day as it comes, and cherish myself in it.

To “let go” is not to regret the past, but to grow and live for the future.

To “let go” is to fear less and love more.

(Author Unknown)

weekend ini ada kegiatan kantor di mega mendung, bogor. kali ini agak beda, biasanya meeting kantor ga jauh-jauh dari agenda national marketing plan ato pengenalan program dan teaching methodology yg updated..
kali ini pun ‘pure’ hanya dari center2 milik owner kami, and fully arranged by them..
kegiatannya berbau religius hampir mirip-mirip pesantren kilat kalo lihat dari ‘time table-x’, but dunno if this time would be different.. sampe Emma, nyeletuk ‘mungkin pak Yus meragukan keislaman kita’…wkkkk, jgn sensi gitu dunk bu…!
(more…)

lage2 copas ni temanz, dari kang Dadang Kadarusman
semoga bermanfaat…. :-)

Banyak sekali kekurangan dalam diri kita. Kurang mancung. Kurang putih. Kurang kaya. Kurang pintar. Dan beragam macam kurang-kurang lainnya. Oleh karena itu, kita tidak pernah kekurangan alasan untuk bersembunyi dibalik serba kekurangan yang kita miliki. Sampai-sampai, alasan yang kita kemukakan itu tidak lagi bisa diterima akal karena sama sekali tidak bermutu. Herannya, semakin hari kita semakin nyaman dengan beragam alasan itu. Seolah-olah kita sudah menjadi sahabat terbaik bagi para alasan dan enggan beranjak barang sedikit saja dari tempat persembunyian itu. Padahal, kita percaya bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Dan kita juga percaya bahwa dibalik ketidaksempurnaan itu; ada orang-orang yang bisa menghasilkan pencapaian tinggi. Tapi, mengapa bersembunyi dibalik kekurangan diri ini kok terasa begitu nikmat?
(more…)

salam penuh syukur atas limpahan rahmat Allah SWT yang tak terputus kepada hamba-Nya dan sholawat kepada junjungan Rasulullah SAW…

beberapa minggu yang lalu, dalam momen peringatan hari Kartini sebuah stasiun TV menyajikan biografi ibu Kartini dengan sangat personal tentang kehidupannya serta pandangannya pada perilaku sistem politik, budaya, agama dan sosial terhadap perempuan saat itu. tersirat bahwa agama dan budaya sangat berperan kuat dalam ke”marginal”an perempuan. Kartini juga menceritakan kepasrahannya ketika dia dinikahkan dengan seorang laki-laki pilihan orangtuanya dan dijadikan istri ke-4 pada saat itu.

gerakan emansipasi saat ini terus menyuarakan kesetaraan gender. sisi baik yang berkembang adalah bahwa wanita semakin sadar peran sertanya dalam pembangunan (domestik maupun publik) juga sangat penting. sisi buruknya gerakan emansipasi tanpa landasan pemikiran yang kuat akan bertolak belakang dengan nilai-nilai agama, bahkan kesalahan konteks dalam pemahaman tentang kesetaraan itu sendiri carut marut karna melawan fitrahnya sendiri. gerakan emansipasi kemudian menyalahkan agama yang mempunyai andil dalam sistem ketidakadilan hak asasi manusia, khususnya bagi perempuan.

kontroversial tentang praktek poligami yang diperbolehkan dalam islam adalah salah satu propaganda dari para pejuang feminisme. bahkan tidak sedikit umat muslimin dan mayoritas muslimat yang menolak implementasi poligami.

kebenaran diperbolehkannya poligami tersurat dalam kitab suci Al Qur’an dan hal tersebut telah dipraktekkan oleh Rasulullah SAW. lalu dimanakah letak kesalahannya? bagaimanakah kita memahami ayat-ayat yang berkenaan dengan poligami? benarkah poligami sebagai jalan untuk mengumbar syahwat?
(more…)

sekedar sharing artikel Om Adi…what a great analysis of emotion. like it so much!

Hari Jumat kemarin saya memberikan seminar di Purwokerto mulai siang hingga sore hari. Selesai seminar kami berempat, saya , istri saya Stephanie, Bu Ely Susanti, dan Bapak Prasetyo Erlimus melanjutkan perjalanan menuju Jogjakarta karena besoknya, hari Sabtu, saya memberikan seminar di Univesitas Gajah Mada.

Dalam perjalanan kami berempat mendiskusikan banyak hal. Salah satunya adalah tentang pentingnya kita melepaskan, atau kalau dalam bahasa terapi “release”, berbagai emosi negatif. Yang menjadi pertanyaan adalah, “Bagaimana kita tahu jika kita telah benar-benar melepas emosi negatif itu?” atau “Bagaimana caranya untuk bisa melepas emosi negatif itu selamanya?”

Satu contoh. Misalnya seorang kawan dekat menipu kita ratusan juta rupiah. Apa yang harus kita lakukan?
(more…)

Next Page »